Sabtu, 16 April 2011

Sejarah_Zaman Prasejarah

1. Periodesasi Berdasarkan Geologi
A. PEMBABAKAN PRASEJARAH INDONESIA
Kainozoikum (Zaman Kehidupan Baru)
Mesozoikum (Zaman Kehidupan Pertengahan)
Paleozoikum (Zaman Kehidupan Tua)
Arkaikum (Zaman Batu Tertua)
Kala Plestosen Kala Holosen
Zaman Tersier Zaman Kwarter
a. Masa Arkaikum (2.500 juta tahun yang lalu)
Masa Arkaikum merupakan masa awal; artinya masa awal pembentukan
bumi dari inti sampai kulit bumi. Kondisi bumi pada saat
itu belum stabil dan memiliki udara yang sangat panas sehingga
tidak memungkinkan adanya kehidupan. Batuan tertua tercatat
berumur kira-kira 3,8 milyar tahun.
b. Masa Palaeozoikum (340 juta tahun yang lalu)
Palaeozoikum artinya adalah zaman bumi purba; maksudnya masa
ketika pada permukaan bumi mulai terbentuk hidrosfer dan atmosfer.
Saat itu sudah mulai ada tanda-tanda kehidupan dengan
munculnya organisme bersel tunggal yang kemudian berkembang
menjadi organisme bersel banyak (multiseluler). Kemudian muncullah
organisme-organisme yang memiliki organ tubuh lebih
kompleks, dari jenis invertebrata bertubuh lunak (ubur-ubur,
cacing, koral), ikan tanpa rahang (landak laut, bintang lili laut),
dan beberapa hewan laut lainnya. Zaman ini ditandai dengan
munculnya kehidupan darat yang berasal dari air. Pada masa itu
telah muncul tumbuhan dan hewan dan berkembang pertama
kalinya, termasuk tumbuhan paku, paku ekor kuda, amfibi, serangga,
dan reptilia.
c. Zaman Mezoloikum (140 juta tahun yang lalu)
Pada zaman Mezoloikum ini bumi mengalami perkembangan yang
sangat cepat dengan ditandai munculnya hewan-hewan bertubuh
besar, seperti reptilia pemakan daging. Pada masa ini jenis reptilia
meningkat jumlahnya, dinosaurus menguasai daratan, ichtiyosaurus
berburu di dalam lautan, dan pterosaurus merajai angkasa. Telah
muncul pula jenis hewan mamalia (hewan menyusui). Walaupun
demikian, zaman ini tetap disebut zaman reptil karena banyaknya
populasi reptil yang hidup.
d. Zaman Neozoikum (60 juta tahun yang lalu)
Neozoikum atau kainozoikum artinya zaman baru. Zaman ini dibagi
lagi menjadi dua era, yakni:
(1) Zaman Tersier
Setelah zaman reptil raksasa punah, terjadi perkembangan
jenis kehidupan lain seperti munculnya primata dan burung
tak bergigi berukuran besar yang menyerupai burung unta.
Sementara itu, muncul pula fauna laut seperti ikan dan moluska,
sangat mirip dengan fauna laut yang hidup sekarang.
Sedangkan tumbuhan berbunga terus berevolusi menghasilkan
banyak variasi seperti semak belukar, tumbuhan merambat,
dan rumput.
(2) Zaman Kuarter
Pemunculan dan kepunahan hewan dan tumbuhan terjadi
silih berganti, seiring dengan perubahan cuaca secara global.
Zaman Kuarter terdiri dari dua kurun waktu, yakni kala Plestosen
dan kala Holosen.
(a) Kala Plestosen: dimulai sekitar 600.000 tahun yang lalu.
Pada masa Plestosen paling sedikit telah terjadi 5 kali
zaman es (zaman glasial). Pada zaman glasial sebagian
besar Eropa bagian utara, Amerika bagian utara, dan
Asia bagian utara ditutupi es, begitu pula Pegunungan
Alpen dan Pegunungan Himalaya. Keadaan flora dan
fauna yang hidup pada Kala Plestosen sangat mirip
dengan flora dan fauna yang hidup sekarang. Dalam
kehidupan manusia purba, pada kala inilah muncul
manusia purba Pithecanthropus erectus.
(b) Kala Holosen: mulai muncul sekitar 200.000 tahun
yang lalu. Manusia modern seperti manusia sekarang,
diperkirakan muncul pada kala Holosen ini.
2. Periodesasi Berdasarkan Arkeologi
a. Zaman Palaeolitikum
Zaman Palaeolitikum artinya zaman batu tua. Zaman ini ditandai
dengan penggunaan perkakas yang bentuknya sangat sederhana
dan primitif. Ciri-ciri kehidupan manusia pada zaman ini, yaitu
hidup berkelompok; tinggal di sekitar aliran sungai, gua, atau di
atas pohon; dan mengandalkan makanan dari alam dengan cara
mengumpulkan (food gathering) serta berburu. Maka dari itu, manusia
purba selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat
yang lain (nomaden).
Di Indonesia, manusia purba yang hidup pada masa ini
adalah manusia setengah kera yang disebut Pithecanthropus erectus,
Pithecanthropus robustus, Meganthropus palaeojavanicus. Juga
Pembabakan prasejarah berdasarkan ilmu arkeologi ini bertujuan
untuk mengetahui usia manusia purba berdasarkan peninggalan
benda-benda purbakala. Benda-benda tersebut dapat berupa
perkakas rumah tangga, patung, coretan di gua-gua, dan fosil
purba. Manusia purba menggunakan alat-alat untuk memenuhi
kebutuhannya seperti mencari dan mengolah makanan dengan
menggunakan perkakas dari batu atau benda-benda alam lainnya
yang keras seperti kayu dan tulang.
selanjutnya hidup beberapa jenis homo (manusia), di antaranya
Homo soloensis dan Homo wajakensis.
Berikut ini akan disampaikan secara ringkas ciri-ciri manusia
purba yang ada di Indonesia pada Zaman Palaeolitikum, yakni:
1) Meganthropus javanicus
Meganthropus javanicus artinya manusia jawa purba bertubuh
besar. Diperkirakan hidup 1 – 2 juta tahun yang lalu. Fosil rahang
bawah dan rahang atas manusia purba ini ditemukan oleh
von Koenigswald di Sangiran pada tahun 1936 dan 1941.
Pada fosil temuannya, Meganthropus memiliki rahang
bawah yang tegap dan geraham yang besar, tulang pipi tebal,
tonjolan kening yang mencolok dan tonjolan belakang kepala
yang tajam serta sendi-sendi yang besar. Melihat kondisi tersebut
membuktikan bahwa makanan utama Meganthropus
adalah tumbuh-tumbuhan.
2) Pithecanthropus
Pithecanthropus artinya manusia kera. Fosil ini pertama kali
ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 berupa
rahang, gigi dan sebagian tulang tengkorak. Berjalan tegak
dengan dua kaki. Diperkirakan hidup pada 700.000 tahun
yang lalu.
Dubois menemukan fosil Pithecanthropus di Trinil daerah
Ngawi pada saat Sungai Bengawan Solo sedang kering,
kemudian fosil tersebut dinamai Pithecanthropus erectus,
artinya manusia kera berjalan tegak. Sekarang, nama ilmiah
manusia purba Pithecanthropus erectus dikenal dengan
nama Homo erectus.
Pithecanthropus memiliki ciri-ciri tinggi badan antara
165-180 cm, volume otak antara 750-1300 cc dan berat badan
80-100 kg.
Selanjutnya, manusia jenis Pithecanthropus lain yang
telah ditemukan, antara lain:
(a) Pithecanthropus mojokertensis atau manusia kera dari
Mojokerto, ditemukan di daerah Perning Mojokerto
pada tahun 1936 – 1941 oleh Von Keonigswald. Fosil
yang ditemukan berupa tengkorak anak-anak berusia
sekitar 6 tahun. Walaupun ditemukan lebih muda dari
Pithecanthropus erectus oleh Dubois, fosil Pithecanthropus
mojokertensis merupakan manusia yang lebih tua
dibandingkan dengan lainnya.
(b) Pithecanthropus soloensis atau manusia kera dari Solo,
ditemukan di daerah Ngandong Sangiran antara tahun
1931-1934. Kepuhklagen Mojokerto pada tahun 1936
– 1941 oleh Von Keonigswald. Fosil yang ditemukan
berupa tengkorak anak-anak berusia sekitar 6 tahun.
yang diberi nama Homo Wajakensis atau manusia dari Wajak.
Manusia purba ini memiliki tinggi badan 130-210 cm, berat
badan 30-150 kg dan volume otak 1350-1450 cc.
Homo wajakensis diperkirakan hidup antara 25.000 –
40.000 tahun yang lalu. Homo wajakensis memiliki persamaan
dengan orang Australia pribumi purba. Sebuah tengkorak kecil
dari seorang wanita, sebuah rahang bawah dan sebuah rahang
atas dari manusia purba itu sangat mirip dengan manusia purba
ras Australoid purba yang ditemukan di Talgai dan Keilor
yang mendiami daerah Irian dan Australia.
Di Asia Tenggara ditemukan pula manusia purba jenis
ini di antaranya di Serawak, Filipina, dan Cina Selatan.
Dalam beberapa sumber penelitian diperkirakan pithecanthropus
adalah manusia purba yang pertama kalinya
mengenal api sehingga terjadi perubahan pola memperoleh
makanan yang semula mengandalkan makanan dari alam
menjadi pola berburu dan menangkap ikan.
Peralatan yang telah ditemukan pada tahun 1935 oleh
von Koenigswald di daerah Pacitan tepatnya di daerah Punung
adalah kapak genggam atau chopper (alat penetak) dan
kapak perimbas. Kapak genggam dan kapak perimbas sangat
cocok digunakan untuk berburu. Manusia purba yang menggunakan
kapak genggam hampir merata di seluruh Indonesia,
di antaranya Pacitan, Sukabumi, Ciamis, Gombong, Lahat,
Bengkulu, Bali, Flores dan Timor.
Di daerah Ngandong dan Sidoarjo ditemukan pula alatalat
dari tulang, batu dan tanduk rusa dalam bentuk mata
panah, tombak, pisau dan belati.
Di dekat Sangiran ditemukan alat-alat berukuran kecil
yang terbuat dari batu-batu indah yang bernama flakes
(serpihan).
b. Zaman Mezolitikum
Zaman Mezolitikum artinya zaman batu madya (mezo) atau pertengahan.
Zaman ini disebut pula zaman ”mengumpulkan makanan
(food gathering) tingkat lanjut”, yang dimulai pada akhir zaman
es, sekitar 10.000 tahun yang lampau. Para ahli memperkirakan
manusia yang hidup pada zaman ini adalah bangsa Melanesoide
yang merupakan nenek moyang orang Papua, Semang, Aeta,
Sakai, dan Aborigin. Sama dengan zaman Palaeolitikum, manusia
zaman Mezolitikum mendapatkan makanan dengan cara berburu
dan menangkap ikan. Mereka tinggal di gua-gua di bawah bukit
karang (abris souche roche), tepi pantai, dan ceruk pegunungan.
Gua abris souche roche menyerupai ceruk untuk dapat melindungi
diri dari panas dan hujan.
Hasil peninggalan budaya manusia pada masa itu adalah
berupa alat-alat kesenian yang ditemukan di gua-gua dan coretan
(atau lukisan) pada dinding gua, seperti di gua Leang-leang, Sulawesi
Selatan, yang ditemukan oleh Ny. Heeren Palm pada 1950.
Van Stein Callenfels menemukan alat-alat tajam berupa mata
panah, flakes, serta batu penggiling di Gua Lawa dekat Sampung,
Ponorogo, dan Madiun.
Selain itu, hasil peninggalannya ditemukan di tempat sampah
berupa dapur kulit kerang dan siput setinggi 7 meter di sepanjang
pantai timur Sumatera yang disebut kjokkenmoddinger. Peralatan
yang ditemukan di tempat itu adalah kapak genggam Sumatera,
pabble culture, dan alat berburu dari tulang hewan.
c. Zaman Neolitikum
Zaman Neolitikum artinya zaman batu muda. Di Indonesia,
zaman Neolitikum dimulai sekitar 1.500 SM. Cara hidup untuk
memenuhi kebutuhannya telah mengalami perubahan pesat,
dari cara food gathering menjadi food producting, yaitu dengan cara
bercocok tanam dan memelihara ternak. Pada masa itu manusia
sudah mulai menetap di rumah panggung untuk menghindari
bahaya binatang buas.
Manusia pada masa Neolitikum ini pun telah mulai membuat
lumbung-lumbung guna menyimpan persediaan padi dan gabah.
Tradisi menyimpan padi di lumbung ini masih bisa dilihat di
Lebak, Banten. Masyarakat Baduy di sana begitu menghargai
padi yang dianggap pemberian Nyai Sri Pohaci. Mereka tak perlu
membeli beras dari pihak luar karena menjualbelikan padi dilarang
secara hukum adat. Mereka rupanya telah mempraktikkan
swasembada pangan sejak zaman nenek moyang.
Pada zaman ini, manusia purba Indonesia telah mengenal dua
jenis peralatan, yakni beliung persegi dan kapak lonjong. Beliung
persegi menyebar di Indonesia bagian Barat, diperkirakan budaya
ini disebarkan dari Yunan di Cina Selatan yang berimigrasi ke
Laos dan selanjutnya ke Kepulauan Indonesia. Kapak lonjong
tersebar di Indonesia bagian timur yang didatangkan dari Jepang,
kemudian menyebar ke Taiwan, Filipina, Sulawesi Utara, Maluku,
100 Sejarah SMA/MA Jilid 1 Kelas X
Irian dan kepulauan Melanesia. Contoh dari kapak persegi adalah
yang ditemukan di Bengkulu, terbuat dari batu kalsedon; berukuran
11,7×3,9 cm, dan digunakan sebagai benda pelengkap upacara
atau bekal kubur. Sedangkan kapak lonjong yang ditemukan di
Klungkung, Bali, terbuat dari batu agats; berukuran 5,5×2,5 cm;
dan digunakan dalam upacara-upacara terhadap roh leluhur.
Selain itu ditemukan pula sebuah kendi yang dibuat dari tanah
liat; berukuran 29,5×19,5 cm; berasal dari Sumba, Nusa Tenggara
Timur. Kendi ini digunakan sebagai bekal kubur.
d. Zaman Megalitikum
Zaman Megalitikum artinya zaman batu besar. Pada zaman ini
manusia sudah mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme.
Animisme merupakan kepercayaan terhadap roh nenek moyang
(leluhur) yang mendiami benda-benda, seperti pohon, batu, sungai,
gunung, senjata tajam. Sedangkan dinamisme adalah bentuk
kepercayaan bahwa segala sesuatu memiliki kekuatan atau tenaga
gaib yang dapat memengaruhi terhadap keberhasilan atau kegagalan
dalam kehidupan manusia. Dari hasil peninggalannya, diperkirakan
manusia pada Zaman Megalitikum ini sudah mengenal
bentuk kepercayaan rohaniah, yaitu dengan cara memperlakukan
orang yang meninggal dengan diperlakukan secara baik sebagai
bentuk penghormatan.
Adanya kepercayaan manusia purba terhadap kekuatan alam
dan makhluk halus dapat dilihat dari penemuan bangunan-bangunan
kepercayaan primitif. Peninggalan yang bersifat rohaniah
pada era Megalitikum ini ditemukan di Nias, Sumba, Flores, Sumatera
Selatan, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan, dalam bentuk
menhir, dolmen, sarkofagus, kuburan batu, punden berundakundak,
serta arca. Menhir adalah tugu batu sebagai tempat pemujaan;
dolmen adalah meja batu untuk menaruh sesaji; sarkopagus
adalah bangunan berbentuk lesung yang menyerupai peti mati;
kuburan batu adalah lempeng batu yang disusun untuk mengubur
mayat; punden berundak adalah bangunan bertingkat-tingkat
sebagai tempat pemujaan; sedangkan arca adalah perwujudan dari
subjek pemujaan yang menyerupai manusia atau hewan.
Batu menhir pun ditemukan di Sumatera Barat. Menhir ini
ditanam dengan posisi menghadap Gunung Sago (”sago” artinya
sawarga atau surga). Dalam tradisinya dikenal pemujaan terhadap
gunung yang dianggap sebagai tempat bermukim roh nenek moyang
atau penguasa alam.
e. Zaman Perunggu
Manusia purba Indonesia hanya mengalami Zaman Perunggu
tanpa melalui zaman tembaga. Kebudayaan Zaman Perunggu
merupakan hasil asimilasi dari antara masyarakat asli Indonesia
(Proto Melayu) dengan bangsa Mongoloid yang membentuk ras
Deutero Melayu (Melayu Muda). Disebut zaman perunggu karena
pada masa ini manusianya telah memiliki kepandaian dalam melebur
perunggu. Di kawasan Asia Tenggara, penggunaan logam
dimulai sekitar tahun 3000-2000 SM. Masa penggunaan logam,
perunggu, maupun besi dalam kehidupan manusia purba di Indonesia
disebut masa Perundagian. Alat-alat besi yang banyak
ditemukan di Indonesia berupa alat-alat keperluan sehari-hari,
seperti pisau, sabit, mata kapak, pedang, dan mata tombak.
Pembuatan alat-alat besi memerlukan teknik dan keterampilan
khusus yang hanya mungkin dimiliki oleh sebagian anggota
masyarakat, yakni golongan undagi. Di luar Indonesia, berdasarkan
bukti-bukti arkeologis, sebelum manusia menggunakan logam
besi mereka telah mengenal logam tembaga dan perunggu terlebih
dahulu. Mengolah bijih menjadi logam lebih mudah untuk
tembaga daripada besi.
Teknik peleburan perunggu ini berasal dari budaya Dong
Son di Tonkin (Vietnam). Kapak-kapak perunggu yang dibuat
di Indonesia terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran. Salah satu
bentuk yang menarik adalah kapak candrasa yang ditemukan di
Jawa dan kapak-kapak upacara lain yang ditemukan di Bali dan
Roti. Candrasa dari Pulau Roti dibuat dari perunggu, berukuran
78×41,5 cm. Pada mata kapak ini terdapat hiasan kepala manusia
atau topeng dengan kedua telapak tangan terbuka di samping
pipinya, dipadu dengan hiasan pola garis-garis.
Artefak yang paling menarik dari masa ini adalah genderang
perunggu yang amat besar, disebut nekara. Apakah benda ini asli
dibuat oleh orang Indonesia atau merupakan hasil impor dari
Vietnam? Jawabannya belum pasti. Akan tetapi ada genderang
moko yang bentuknya tinggi dan ramping yang tentunya dibuat
di Indonesia, karena ada sisa-sisa cetakan perunggu yang telah
ditemukan di Bali. Nekara-nekara ini digunakan sebagai genderang
perang dan untuk keperluan upacara keagamaan.
B. KEHIDUPAN MANUSIA PURBA DI INDONESIA
Manusia purba atau dikategorikan sebagai manusia yang hidup
pada masa tulisan atau aksara belum dikenal, disebut juga manusia
prasejarah atau Prehistoric people. Manusia purba diperkirakan
telah ada di bumi sejak 4 juta tahun yang lalu.
Manusia purba memiliki volume otak yang lebih kecil daripada
manusia modern sekarang. Cara berpikirnya pun masih
sederhana dan primitif. Serta hidupnya pun berkelompok. Tempat
tinggal mereka adalah gua-gua dan pepohonan yang tinggi guna
terhindari dari serangan binatang buas. Jadi, mereka belum memiliki
tempat tinggal permanen; dengan kata lain: mereka hidup
berpindah-pindah (nomaden)
Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, mereka biasa
memakan buah-buahan dan tetumbuhan yang disediakan alam.
Untuk dapat memakan daging, mereka berburu binatang dengan
menggunakan perkakas dari batu. Batu ini pun dipergunakan
untuk keperluan ritual keagamaan, seperti membuat dolmen,
menhir, sarkofagus, dan punden berundak-undak. Oleh karena
itu, masa ini disebut juga dengan manusia Zaman Batu.
Namun, karena tuntutan hidup makin banyak dan populasi
bertambah, manusia purba pun harus pandai-pandai beradaptasi
dengan alam-lingkungannya. Perkakas-perkakas untuk memenuhi
kebutuhan hidup, mengalami perkembangan. Bentuk yang tadinya
sederhana lambat-laun mengalami perubahan: makin halus
dan efektif. Cara memperoleh makanan yang semula hanya mengandalkan
makanan dari alam, berubah setelah mereka mengenal
api. Pada masa neolitikum, mereka mulai bercocok tanam. Dan
pada masa perunggu, mereka telah pandai mengecor logam (yang
sebelumnya menggunakan tanah liat) untuk dibentuk menjadi
alat-alat seperti arca, alat-alat tajam, perhiasan.
1. Jenis Manusia Purba di Indonesia
Seperti telah dibahas di atas bahwa di Indonesia banyak ditemukan
fosil tengkorak dan tulang-belulang manusia purba. Manusia purba
yang pernah hidup di Kepulauan Indonesia ini banyak jenisnya.
Masing-masing mewakili zaman di mana ia hidup.
a. Meganthropus Paleojavanicus
Manusia purba jenis ini hidup pada masa paleolitikum. Meganthropus
paleojavanicus artinya manusia-Jawa purba yang bertubuh
besar (mega). Manusia purba ini diyakini merupakan makhluk
tertua yang pernah hidup di Pulau Jawa. Mereka diperkirakan
hidup sekitar 1–2 juta tahun yang lalu. Fosil rahang bawah dan
rahang atas manusia purba ini ditemukan oleh Von Koenigswalg
di Sangiran pada tahun 1936 dan 1941. Von Koenigswalg menemukan
bahwa Meganthropus ini memiliki rahang bawah yang
tegap dan geraham yang besar, tulang pipi tebal, tonjolan kening
yang mencolok dan tonjolan belakang kepala yang tajam serta
sendi-sendi yang besar. Melihat kondisi fisiknya disimpulkan
bahwa Meganthropus ini pemakan tumbuh-tumbuhan.
b. Pithecanthropus
Pithecanthropus artinya manusia kera, hidup di zaman Paleolitikum.
Fosil ini pertama kali ditemukan oleh Eugene Dubois
pada tahun 1891, yakni bagian rahang, gigi dan sebagian tulang
tengkorak. Manusia kera ini berjalan tegak dengan dua kaki,
dan diperkirakan hidup pada 700.000 tahun yang lalu. Dubois
menemukan fosil Pithecanthropus di Trinil daerah Ngawi pada saat
Sungai Bengawan Solo sedang kering, kemudian fosil tersebut
dinamai Pithecanthropus erectus, artinya manusia kera yang berjalan
tegak. Sekarang, nama ilmiah manusia purba Pithecanthropus
erectus dikenal dengan nama Homo erectus. Pithecanthropus
memiliki ciri-ciri tinggi badan antara 165-180 cm, volume otak
antara 750-1300 cc dan berat badan 80-100 kg.
Dalam beberapa sumber penelitian diperkirakan Pithecanthropus
adalah manusia purba yang pertama kalinya mengenal
api sehingga terjadi perubahan pola memperoleh makanan yang
semula mengandalkan makanan dari alam menjadi pola berburu
dan menangkap ikan.
Peralatan yang telah ditemukan pada tahun 1935 oleh Von
Koenigswalg di daerah Pacitan tepatnya di daerah Punung adalah
kapak genggam atau chopper (alat penetak) dan kapak perimbas.
Kapak genggam dan kapak perimbas sangat cocok digunakan
untuk berburu. Manusia purba yang menggunakan kapak genggam
hampir merata di seluruh Indonesia, di antaranya di Pacitan,
Sukabumi, Ciamis, Gombong, Lahat, Bengkulu, Bali, Flores dan
Timor. Di daerah Ngandong dan Sidoarjo ditemukan pula alatalat
dari tulang, batu dan tanduk rusa dalam bentuk mata panah,
tombak, pisau dan belati. Di dekat Sangiran ditemukan alat-alat
berukuran kecil yang terbuat dari batu-batu indah yang bernama
flakes (serpihan).
Manusia kera (Pithecanthropus) jenis lain yang berhasil ditemukan
antara lain:
(1) Pithecanthropus mojokertensis atau manusia kera dari Mojokerto,
ditemukan di daerah Perning, Mojokerto, pada 1936
– 1941 oleh Von Keonigswalg. Fosil yang ditemukan berupa
tengkorak anak-anak berusia sekitar 6 tahun. Walaupun ditemukan
lebih muda dari Pithecanthropus erectus oleh Dubois,
fosil Pithecanthropus mojokertensis ditafsir merupakan jenis
manusia purba yang lebih tua usianya dibandingkan dengan
yang lain.
(2) Pithecanthropus soloensis atau manusia kera dari Solo, ditemukan
di daerah Ngandong, di lembah Sungai Bengawan Solo,
antara tahun 1931-1934. Fosil penemuan Von Keonigswalg
dan Weidenreich ini berupa 11 buah fosil tengkorak, tulang
rahang, dan gigi.
Fosil pithecanthropus ditemukan pula di Cina, tepatnya di
gua Chou-ku-tien dekat Beijing. Fosil ini ditemukan oleh ilmuwan
Cina, Pei Wen-Chung, dan fosil itu dinamai Sinanthropus
Pekinensis. Sinanthropus pun mempergunakan perkakas batu yang
sejenis dengan perkakas batu dari Pacitan.
c. Homo sapiens
Homo sapiens merupakan manusia purba modern yang memiliki
bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang. Homo sapiens
disebut pula manusia berbudaya karena peradaban mereka cukup
tinggi. Dibandingkan dengan manusia purba sebelumnya, Homo
sapiens lebih banyak meninggalkan benda-benda berbudaya. Diduga,
mereka inilah yang menjadi nenek moyang bangsa-bangsa
di dunia.
Fosil Homo sapiens di Indonesia ditemukan di Wajak, dekat
Tulungagung, Jawa Timur, oleh Von Rietschoten pada tahun 1889.
Fosil ini merupakan fosil pertama yang ditemukan di Indonesia,
yang diberi nama Homo Wajakensis atau manusia dari Wajak.
Fosil ini kemudian diteliti ulang oleh Eugene Dubois. Manusia
purba ini memiliki tinggi badan 130-210 cm, berat badan 30-150
kg, dan volume otak 1350-1450 cc. Homo Wajakensis diperkirakan
hidup antara 25.000 – 40.000 tahun yang lalu. Homo Wajakensis
memiliki persamaan dengan orang Australia purba (Austroloid).
Sebuah tengkorak kecil dari seorang wanita, sebuah rahang bawah,
dan sebuah rahang atas dari manusia purba itu sangat mirip dengan
manusia purba ras Australoid purba yang ditemukan di Talgai
dan Keilor yang rupanya mendiami daerah Irian dan Australia.
Di Asia Tenggara ditemukan pula manusia purba jenis ini di
antaranya di Serawak, Filipina, dan Cina Selatan.
Berdasarkan penemuan-penemuan fosil tersebut, timbul pertanyaan
yang mendasar: apakah Homo sapiens (manusia modern,
seperti kita) merupakan kelanjutan dari manusia Pithecanthropus
(manusia kera)? Apakah keduanya masih dalam satu spesies
yang sama? Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum bisa dijawab
oleh para ahli karena tidak adanya mata rantai yang dapat menghubungkan
”benang merah” antarkeduanya. Sedangkan agama
monotheis (Islam, Kristen, Yahudi) menyatakan bahwa manusia
(homo sapiens) merupakan keturunan Nabi Adam dan tidak ada
sangkut pautnya dengan manusia purba manapun.
2. Jenis Manusia Purba di Luar Indonesia
Selain di Indonesia, fosil manusia purba juga ditemukan di luar Indonesia.
Fosil manusia purba di luar Indonesia sebagai berikut:
a. Sinanthropus Pekinensis.
Fosil ini ditemukan oleh Prof. Devidson Black pada tahun
1927 di gua−gua dekat Chou−Kou−Tien ± 60 km di sebelah
Barat Daya kota Peking. Hasil penemuan menunjukkan adanya
persamaan-persamaan dengan Pithecanthropus Erectus
b. Homo Africanus (Homo Rhodesiensis)
Ditemukan oleh Raymond Dart dan Robert Brom pada
tahun 1924 di goa Broken Hill, Rhodesia (Zimbabwe).
c. Australopithecus Africanus
Ditemukan oleh Raymond Dart pada tahun 1924 di Taung,
dekat Vryburg, Afrika Selatan.
d. Homo Heidelbergensis
Ditemukan oleh Dr. Schoetensack di desa Mauer dekat kota
Heidelberg (Jerman).
e. Homo Neanderthalensis
Ditemukan oleh Rudolf Virchow dan Dr. Fulrott di lembah
Sungai Neander, dekat Dusseldorf, Jerman tahun 1956.
Ciri−ciri manusia purba ini mendekati ciri−ciri Homo Wajakensis.
f. Homo Cro Magnon (Ras Cro - Magnon)
Ditemukan oleh Lartet di gua Cro Magnon dekat Lez Eyzies,
sebelah Barat Daya Perancis tahun 1868.
C. KEHIDUPAN SOSIAL, EKONOMI, RELIGI, DAN
BUDAYA MASYARAKAT PURBA DI INDONESIA
KEGIATAN 4.2
1. Kehidupan Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Dalam masa prasejarah Indonesia, corak kehidupan dengan cara
berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) dibagi
menjadi dua masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan atau
meramu makanan tingkat sederhana serta masa berburu dan mengumpulkan
makanan tingkat lanjut. Pada masa tingkat sederhana
manusia hidup secara berkelompok. Kelompok laki-laki melakukan
perburuan, sedangkan kelompok perempuan mengumpulkan
dan meramu makanan. Perburuan dilakukan dengan alat-alat yang
masih sangat sederhana.
a. Keadaan Lingkungan
Pada awalnya manusia purba hidup di padang terbuka. Alam
sekitarnya merupakan tempat mereka mencari makanan. Mereka
menyesuaikan diri terhadap alam sekitar untuk dapat mempertahankan
hidup. Manusia purba yang hidup di daerah hutan dapat
menghindarkan diri dari bahaya serangan binatang buas, terik matahari
dan hujan. Mereka hidup berkelompok, tinggal di gua-gua
atau membuat tempat tinggal di atas pohon besar. Manusia yang
tinggal di gua-gua dikenal sebagai cavemen (orang gua). Dengan
demikian, mereka sangat bergantung pada kebaikan alam; mereka
cenderung pasif terhadap keadaan.
Kehidupan di dalam gua-gua pada masa ini menghasilkan
lukisan-lukisan pada dinding-dinding gua yang (kemungkinan
besar) menggambarkan kehidupan sosial-ekonomi mereka.
Lukisan-lukisan pada dinding gua lain berupa cap tangan, babi
dan rusa dengan panah dibagian jantungnya, gambar binatang
melata, dan gambar perahu. Lukisan dinding gua antara lain
ditemukan di Sulawesi Selatan, Irian Jaya, Kepulauan Kei, dan
Pulau Seram.
b. Kehidupan Sosial
Kondisi alam sangat berpengaruh terhadap sifat dan fisik makhluk
hidup tanpa kecuali manusia. Pola kehidupan manusia yang
primitif sangat menggantungkan hidupnya pada ketersediaan
alam, di mana daerah-daerah yang didiami harus cukup untuk
memenuhi kebutuhannya, untuk kelangsungan hidup terutama
di daerah yang cukup persediaan air. Temuan artefak pada Zaman
Palaeolitikum menunjukkan bahwa manusia Pithecanthropus
sudah mengenal perburuan dan menangkap hewan dengan cara
yang sederhana.
Hewan yang menjadi mangsa perburuan adalah hewan yang
berukuran besar, seperti gajah, sapi, babi atau kerbau. Saat perburuan,
tentu diperlukan adanya kerja sama antarindividu yang
kemudian membentuk sebuah kelompok kecil. Hasil buruannya
dibagikan kepada anggota-anggotanya secara rata. Adanya keterikatan
satu sama lain di dalam satu kelompok, yang laki-laki
bertugas memburu hewan dan yang perempuan mengumpulkan
makanan dan mengurus anak. Satu kelompok biasanya terdiri
dari 10 – 15 orang.
Bab 4 Kehidupan Awal Masyarakat Purba di Indonesia 109
Pada masa ini, manusia tinggal di gua-gua yang tidak jauh
dari air, tepi pantai dan tepi sungai. Penangkapan ikan menggunakan
mata panah atau ujung tombak yang berukuran kecil.
Temuan-temuan perkakas tersebut antara lain kapak Sumatera
(Sumatralith), mata panah, serpih-bilah dan lancipan tulang Muduk.
Ini menunjukkan adanya kegiatan perburuan hewan-hewan
yang kecil dan tidak membutuhkan anggota kelompok yang banyak
atau bahkan dilakukan oleh satu orang. Dalam kehidupan
berkelompok, satu kelompok hanya terdiri dari satu atau dua
keluarga.
c. Budaya dan Alat yang Dihasilkan
Masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini lebih
senang tinggal di gua-gua sebagai tempat berlindung. Mereka
mulai membuat alat-alat berburu, alat potong, pengeruk tanah,
dan perkakas lain. Pola hidup berburu membentuk suatu kebutuhan
akan pembuatan alat dan penggunaan api. Kebutuhan ini
membentuk suatu budaya membuat alat-alat sederhana dari batu,
kayu, tulang yang selanjutnya berkembang dengan munculnya
suatu kepercayaan terhadap kekuatan alam. Diduga, alat-alat ini
diciptakan oleh manusia pithecanthropus dari zaman Paleolitikum,
misalnya alat-alat yang ditemukan di Pacitan. Menurut H.R.
von Heekeren dan R.P. Soejono, serta Basuki yang melakukan
penelitian tahun 1953-1954, kebudayaan Pacitan merupakan kebudayaan
tertua di Indonesia. Pada masa berburu dan meramu
tingkat lanjut, ditemukan alat-alat dari bambu yang dipakai untuk
membuat keranjang, membuat api, membuat anyaman dan
pembakaran.
Selain di Pacitan, temuan sejenis terdapat pula di Jampang
Kulon (Sukabumi), Gombong, Perigi, Tambang Sawah di Bengkulu,
Lahat, Kalianda di Sumatera Selatan, Sembiran Trunyan di
Bali, Wangka, Maumere di Flores, Timor-Timur (Timor Leste),
Awang Bangkal di Kalimantan Timur, dan Cabbenge di Sulawesi
selatan.
Hasil-hasil kebudayaan yang ditemukan pada masa berburu
dan mengumpulkan makanan antara lain:
(1) Kapak perimbas: tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan
cara digenggam; diduga hasil kebudayaan Pithecanthropus
Erectus. Kapak perimbas ditemukan pula di Pakistan, Myanmar,
Malaysia, Cina, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
(2) Kapak penetak: bentuknya hampir sama dengan kapak
perimbas, namun lebih besar dan masih kasar; berfungsi
untuk membelah kayu, pohon, bambu; ditemukan hampir
di seluruh wilayah Indonesia.
(3) Kapak genggam: bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas
dan penetak, namun bentuknya lebih kecil dan masih
sederhana dan belum diasah; ditemukan hampir di seluruh
wilayah Indonesia; digenggam pada ujungnya yang lebih
ramping.
(4) Pahat genggam: bentuknya lebih kecil dari kapak genggam;
berfungsi untuk menggemburkan tanah dan mencari ubiubian
untuk dikonsumsi.
(5) Alat serpih atau flake: bentuknya sangat sederhana; berukuran
antara 10 hingga 20 cm; diduga digunakan sebagai
pisau, gurdi, dan penusuk untuk mengupas, memotong, dan
menggali tanah; banyak ditemukan di goa-goa yang pernah
ditinggali manusia purba.
(6) Alat-alat dari tulang: berupa tulang-belulang binatang buruan.
Alat-alat tulang ini dapat berfungsi sebagai pisau, belati, mata
tombak, mata panah; banyak ditemukan di Ngandong.
d. Sistem Kepercayaan
Penemuan akan kuburan primitif merupakan bukti bahwa manusia
berburu makanan ini telah memiliki kepercayaan yang bersifat
rohani dan spiritual. Masyarakat zaman ini menganggap bahwa
orang yang telah mati akan tetap hidup di dunia lain dan tetap
mengawasi anggota keluarganya yang masih hidup.
Adanya penggunaan alat-alat berburu dari alam menimbulkan
kepercayaan akan adanya kekuatan alam yang dianggap telah
membantu keberhasilan berburu. Adanya seni lukis di gua-gua
yang menceritakan tentang kejadian perburuan, patung dewi
kesuburan dan penguburan mayat bersama alat-alat berburu,
merupakan suatu bukti tentang adanya kepercayaan primitif masyarakat
purba. Orang yang meninggal saat berburu harus diberi
perhargaan dalam bentuk rasa penghormatan.
Temuan lukisan di dinding-dinding gua menunjukkan
adanya hasrat manusia purba untuk merasakan suatu kekuatan
yang melebihi kekuatan dirinya. Lukisan dibuat dalam bentuk
cerita upacara penghormatan nenek moyang, upacara kesuburan,
perkawinan, dan upacara minta hujan, seperti yang terdapat di
Papua. Lukisan-lukisan lain yang ditemukan antara lain lukisan
kadal di Pulau Seram yang menggambarkan penjelmaan roh
nenek moyang, gambar manusia sebagai penolak roh-roh jahat,
serta gambar perahu yang melambangkan perahu bagi roh nenek
moyang dalam perjalanan ke alam baka. Ini terjadi pada masa
berburu dan meramu makanan tingkat lanjut.
e. Sistem Bahasa
Interaksi antaranggota kelompok saat berburu menimbulkan sistem
komunikasi dalam bentuk bunyi-mulut, yakni dalam bentuk
kata-kata atau gerakan badan yang sederhana. Perkembangan
komunikasi antaranggota kelompok maupun antar kelompok ini
terus berkembang pada masa hidupnya Homo sapien dalam bentuk
bahasa. Mengenai persebaran bahasa ini akan dibahas pada bab
selanjutnya pada buku ini.
2. Kehidupan Bercocok Tanam dan Beternak
a. Lingkungan Alam
Perkembangan volume otak manusia purba mendorong mereka
untuk berpikir lebih maju daripada sebelumnya. Dengan kemajuan
berpikir, perilaku mereka pun makin teratur. Pada masa ini
masyarakatnya telah bertempat tinggal menetap, meski suatu saat
bisa berpindah. Ketika bertempat tinggal untuk waktu yang relatif
lama, mereka menyiapkan persediaan makanan untuk satu waktu
tertentu. Dengan demikian, mereka tak perlu lagi mengembara
mencari makanan ke daerah lain.
Kehidupan bercocok tanam pertama kali yang dikenal manusia
purba adalah berhuma. Berhuma adalah bercocok tanam
dengan cara membersihkan hutan dan kemudian menanaminya.
Setelah tanahnya tak subur, mereka mencari hutan lain untuk
dihumakan. Setelah bosan berhuma, manusia purba segera mencari
akal guna mempermudah hidup mereka. Mulailah mereka
bercocok tanam dan beternak. Dengan bercocok tanam mereka
akan lebih lama bertempat tinggal karena dalam bercocok tanam
diperlukan keteraturan waktu dan waktu tersebut tidaklah singkat.
Mungkin sekali jenis-jenis tanaman pada tahap awal kegiatan
bercocok tanam adalah ubi, sukun, keladi, dan pisang. Memelihara
hewan ternak bertujuan agar mereka tak perlu lagi berburu
binatang liar. Mereka tinggal menyembelih hewan ternak mereka.
Kehidupan bercocok tanam dan beternak ini disebut juga sebagai
food producting atau menghasilkan makanan sebagai perkembangan
dari food gathering atau mengumpulkan makanan.
b. Kehidupan Sosial
Melalui bercocok tanam, manusia purba menjadi saling mengenal
dengan sesamanya. Hubungan kelompok A dengan kelompok B
menjadi lebih erat. Ini terjadi karena dalam memenuhi kehidupannya,
mereka dituntut untuk selalu bekerja sama, bergotongroyong.
Cara gotong-royong berlaku pula ketika membangun
tempat tinggal, di ladang dan sawah, menangkap ikan, merambah
hutan.
Adanya kebutuhan hidup mendorong manusia purba untuk
hidup dengan memanfaatkan alam. Sebelumnya, pola hidup berburu
dan mengumpulkan makakan menyebabkan jumlah makanan
pokok (tumbuhan dan hewan) yang disediakan alam makin
menipis. Untuk mengatasi masalah itu, manusia lalu bercocok
tanam dan menjinakkan hewan untuk dipelihara.
Dengan kemampuan komunikasi antarsesama menimbulkan
rasa saling membutuhkan satu sama lainnya. Dengan dipilih
seorang pemimpin kelompok, setiap orang mendapat tugas sosial.
Semakin banyak populasi dan semakin banyaknya kebutuhan
manusia akan alam, menimbulkan persaingan antarsesama. Oleh
karena itu, dibentuklah suatu tatanan sosial masyarakat yang mesti
ditaati oleh anggotanya.
c. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan agraris yang ditimbulkan dari menetapnya tempat
tinggal manusia purba, menyebabkan adanya saling ketergantungan
antarmereka. Ketergantungan ini di antaranya adalah
ketergantungan akan hasil bumi yang tak dimiliki seseorang
atau suatu keluarga. Maka dari itu, mereka membutuhkan orang
atau pihak lain yang memunyai hasil bumi yang diperlukannya
itu. Dengan demikian, terjadilah kegiatan barter. Aksi barter ini
dilakukan dengan cara tukar-menukar hasil bumi. Sistem ini
merupakan pola perdagangan yang primitif sekali. Aktifitas barter
ini memungkinkan terbentuknya kelompok baru, yakni kelompok
yang khusus menjalankan aksi barter dan berdiam di sebuah
tempat yang telah disepakati bersama, yakni pasar tradisional. Di
pasar ini mereka menjajakan barang-barang kebutuhan guna
ditular oleh barang kebutuhan lain. Hingga sekarang keberadaan
pasar tradisional yang masih memberlakukan sistem barter masih
dapat ditemui di daerah-daerah pedalaman.
d. Budaya dan Hasil Alat yang dihasilkan
Semakin lama, pola bercocok tanam dan beternak semakin berkembang.
Terdorong oleh pergeseran kebutuhan dari semula
menanam umbi-umbian menjadi menanam padi, manusia lantas
membuat perkakas yang semakin efektif dan efisien. Mereka mulai
memperhalus peralatan mereka. Dari sinilah timbul perkakasperkakas
yang lebih beragama dan maju secara teknologi daripada
masa berburu dan mengumpulkan makanan, baik yang terbuat
dari batu, tulang, atau pun tanah liat. Hasil-hasil temuan yang
menunjukkan budaya pada saat itu adalah beliung persegi, kapak
lonjong, mata panah, gerabah, dan perhiasan.
(1) Beliung persegi: diduga dipergunakan dalam upacara; banyak
ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Semenanjung Melayu, dan beberapa daerah di Asia
Tenggara.
(2) Kapak lonjong: umumnya terbuat dari batu kali yang berwarna
kehitam-hitaman; dibuat dengan cara diupam hingga
halus; ditemukan di daerah Maluku, Papua, Sulawesi Utara,
Filipina, Taiwan, Cina.
 (3) Mata panah: digunakan sebagai alat berburu dan menangkap
ikan; untuk menangkap ikan mata panahnya dibuat bergerigi
dan terbuat dari tulang, mata panah untuk menangkap ikan
ini banyak ditemukan di dalam goa-goa di pinggir sungai;
orang Papua kini masih menggunakan mata panah untuk
menangkap ikan dan berburu, namun terbuat dari kayu.
(4) Gerabah: terbuat dari tanah liat yang dibakar; digunakan
sebagai tempat menyimpan benda-benda perhiasan; biasanya
dihiasi motif-motif hias yang indah.
(5) Perhiasan: terbuat dari tanah liat, batu kalsedon, yaspur, dan
agat; dapat berwujud kalung, gelang, anting-anting; bila seseorang
meninggal maka ia akan dibekali perhiasan di dalam
kuburannya.
e. Sistem Kepercayaan
Pemujaan terhadap roh atau arwah leluhur tidak hanya terdapat
di Indonesia, namun juga hampir di seluruh dunia. Pemujaan ini
berawal dari anggapan manusia terhadap kekuatan alam. Tanah,
air, udara, dan api dianggap sebagai unsur pokok dalam kehidupan
semesta. Semua itu diatur dan dijaga oleh suatu kekuatan,
kepercayaan inilah yang menyebabkan munculnya sosok roh
setelah mati.
Sistem kepercayaan masa bercocok tanam ini merupakan
kelanjutan dari kepercayan masa sebelumnya. Pada masa bercocok
tanam ini manusia purbanya telah mengenal anggapan bahwa roh
manusia setelah mati dianggap tidak hilang, melainkan berada di
alam lain yang tidak berada jauh dari tempat tinggalnya dahulu.
Dengan demikian, karena sewaktu-waktu roh yang bersangkutan
dapat dipanggil kembali bila dimintakan bantuannya. Untuk
itu, pada saat seorang mati dikuburkan maka ia dibekali dengan
bermacam-macam keperluan sehari-hari, seperti perhiasan dan
periuk. Untuk orang-orang terkemuka (kepala suku atau kepala
adat), kuburannya dibuat agak istimewa, terlihat dari bentuknya
yang terdiri atas batu-batu besar, seperti sarkofagus, peti batu,
menhir, dolmen, waruga, punden berundak-undak, dan arca. Masa
di mana mulai dibangunnya bangunan-bangunan dari batu ini
disebut juga era Megalitikum.
(1) Menhir
Menhir merupakan tugu batu yang tegak, tempat pemujaan
terhadap arwah leluhur. Menhir ini banyak ditemukan di
Sumatera, Sulawesi Tengah, serta Kalimantan. Di daerah
Belubus, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Koto,
Sumatera Barat, terdapat menhir yang tingginya 125 cm,
berbentuk seperi gagak pedang, baguan lengungannya menghadap
Gunung Sago.
 (2) Sarkofagus
Sarkofagus adalah peti jenazah yang terbuat dari batu bulat
(batu tunggal). Sarkofagus ini banyak ditemukan di daerah
Bali. Sarkofagus di Bali masih diangap keramat dan magis
oleh masyarakat sekitar.
(3) Dolmen
Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang akan
dipersembahkan kepada arwah nenek moyang. Di bawah
dolmen ini biasanya ditemukan kuburan batu.
(4) Kuburan atau Peti Batu
Kuburan batu adalah peti jenazah yang terbuat dari batu
pipih. Kuburan batu ini banyak ditemukan di daerah Kuningan,
Jawa Barat, dan Nusa Tengggara.
(5) Waruga
Waruga adalah kuburan batu yang berbentuk kubus atau
bulat, terbuat dari batu yang utuh. Waruga ini banyak ditemukan
di Sulawesi Utara dan Tengah.
(6) Punden Berundak-undak
Punden berundak-undak adalah bangunan suci tempat pemujaan
terhadap roh nenek moyang yang dibuat dalam bentuk
bertingkat-tingkat atau berundak-udak. Bangunan ini banyak
ditemukan di daerah Lebak Si Bedug, Banten Selatan.
(7) Arca atau Patung
Arca pada masa Megalitikum terbuat dari batu, biasanya berbentuk
sosok hewan dan manusia. Jenis hewan yang sering
dibentuk adalah gajah, kerbau, harimau, monyet. Arca-arca
batu ini banyak terdapat di Sumatera selatan, Lampung, Jawa
Tengah dan Timur.
3. Masa Perundagian
a. Kehidupan Sosial
Usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pribadinya
mendorong ditemukannya peleburan bijih-bijih logam
dan pembuatan benda-benda dari logam. Selain itu, adanya
persaingan antarpribadi di dalam masyarakat menimbulkan
keinginan untuk menguasai satu bidang. Gejala seperti ini menyebabkan
timbulnya golongan undagi. Golongan ini merupakan
golongan masyarakat terampil dan mampu menguasai teknologi
pada bidang-bidang tertentu, misalnya membuat rumah, peleburan
logam, membuat perhiasan. Masa perundagian merupakan
tonggak timbulnya kerajaan-kerajaan di Indonesia, karena pada
masa ini kelompok-kelompok masyarakat yang terbentuk di desadesa
kecil membentuk kelompok yang lebih besar lagi, terutama
dengan adanya penguasaan wilayah oleh orang yang dianggap
terkemuka. Pada masa perundagian ini, masyarakat purba di
Indonesia mulai berkenalan dengan komunitas yang lebih luas,
seperti dengan manusia dari India dan Cina
b. Budaya dan Alat yang dihasilkan
Adanya perkembangan teknologi yang semakin maju, mendorong
manusia untuk melakukan hal yang terbaik pada dirinya, di antaranya
pengaturan tata air (irigasi). Perdagangan pun diperluas
hingga antarpulau yang sebelumnya hanya antardaerah domestik.
Dengan demikian, terjadilah sosialisasi antara manusia Indonesia
dengan suku dan bangsa-bangsa lain yang perkembangan
budayanya telah lebih maju, seperti kebudayaan India dan Cina.
Melalui interaksi dengan orang India, masyarakat Indonesia mulai
mengenal sistem kerajaan, yang kemudian melahirkan kerajaan
Hindu-Buddha seperti Kutai, Tarumanagara, Sriwijaya, Mataram,
dan lain-lain.
Kehidupan seperti ini menunjang terbentuknya kebudayaan
yang lebih maju yang memerlukan alat-alat pertanian dan perdagangan
yang lebih baik dengan bahan-bahan dari logam. Hasilhasil
peninggalan kebudayaannya antara lain nekara perunggu,
moko, kapak perunggu, bejana perunggu, arca perunggu, dan
perhiasan.
(1) Nekara perunggu: berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk
memohon turun hujan dan sebagai genderang perang;
memiliki pola hias yang beragam, dari pola binatang, geometris,
dan tumbuh-tumbuhan, ada pula yang tak bermotif;
banyak ditemukan di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Selayar,
Papua.
(2) Kapak perunggu: bentuknya beraneka ragam. Ada yang berbentuk
pahat, jantung, atau tembilang; motifnya berpola
topang mata atau geometris.
 (3) Bejana perunggu: bentuknya mirip gitar Spanyol tanpa tangkai;
di temukan di Madura dan Sulawesi.
(4) Arca perunggu: berbentuk orang sedang menari, menaiki kuda,
atau memegang busur panah; ditemukan di Bangkinang
(Riau), Lumajang, Bogor, Palembang.
(5) Perhiasan dan manik-manik: ada yang terbuat dari perunggu,
emas, dan besi; berbentuk gelang tangan, gelang kaki, cincin,
kalung, bandul; banyak ditemukan di Bogor, Bali, dan Malang;
sedangkan manik-manik banyak ditemukan di Sangiran,
Pasemah, Gilimanuk, Bogor, Besuki, Bone; berfungsi
sebagai bekal kubur; bentuknya ada yang silinder, bulat, segi
enam, atau oval.
c. Kepercayaan
Kepercayaan masyarakat pada masa perundagian merupakan kelanjutan
dari masa bercocok tanam. Kepercayan berkembang sesuai
dengan pola pikir manusia yang merasa dirinya memiliki keterbatasan
dibandingkan dengan yang lainnya. Anggapan seperti ini
memunculkan jenis kepercayaan: animisme dan dinamisme.
1) Animisme
Dalam kepercayaan animisme, manusia mempunyai anggapan
bahwa suatu benda memiliki kekuatan supranatural
dalam bentuk roh. Roh ini bisa dipanggil dan diminta pertolongan
pada saat diperlukan. Mereka percaya akan halhal
yang gaib atau kekuatan hebat. Kepercayaan terhadap
bermacam-macam roh dan makhluk halus yang menempati
suatu tempat memunculkan kegiatan menghormati atau
memuja roh tersebut dengan cara berdoa dengan mantera
dan memberi sesajen atau persembahan.
2) Dinamisme
Kepercayaan dinamisme ini perpanjangan dari animisme.
Roh atau makhluk halus yang diyakini berasal dari jiwa manusia
yang meninggal, kemudian mendiami berbagai tempat,
misalnya hutan belantara, lautan luas, gua-gua, sumur dalam,
sumber mata air, persimpangan jalan, pohon besar, batu-batu
besar, dan lain-lain. Timbullah kepercayaan terhadap adanya
kekuatan gaib yang dapat menambah kekuatan seseorang
yang masih hidup. Kekuatan yang timbul dari alam semesta
inilah yang menimbulkan kepercayaan dinamisme (dinamis
berarti bergerak). Manusia purba percaya bahwa, misalnya,
pada batu akik, tombak, keris, belati, anak panah, bersemayam
kekuatan halus, sehingga alat-alat tersebut harus dirawat,
diberi sesajen, dimandikan dengan air kembang.
Di kemudian hari, kepercayaan-kepercayaan animisme dan
dinamisme mendorong manusia menemukan kekuatan yang
lebih besar dari sekadar kekuatan roh dan makhluk halus dan
alam. Masyarakat lambat laun, dari generasi ke generasi, meyakini
bahwa ada kekuatan tunggal yang mendominasi kehidupan
pribadi mereka maupun kehidupan alam semesta. Kekuatan
gaib tersebut diyakini memiliki keteraturan sendiri yang tak dapat
diganggu-gugat, yakni hukum alam. Kepercayaan terhadap
“Kekuatan Tunggal” ini lantas dihayati sebagai kekayaan batinspiritual
sekaligus kekayaan kebudayaan. Kepercayaan animisme
dan dinamisme ini kemudian berkembang dan menyatu dengan
kebudayaan Hindu-Buddha dan kemudian Islam.
D. NILAI-NILAI PENINGGALAN BUDAYA MASA PRASEJARAH
INDONESIA
Apa yang dimaksudkan dengan nilai-nilai budaya masa prasejarah
bangsa Indonesia? Nilai-nilai budaya masa prasejarah artinya,
konsep-konsep umum tentang masalah-masalah dasar yang sangat
penting dan bernilai bagi kehidupan masyarakat prasejarah di
Indonesia. Konsep-konsep umum dan penting itu hingga kini
masih tersebar luas di kalangan masyarakat Indonesia. Nilai-nilai
budaya masa prasejarah Indonesia itu masih terlihat dalam bentuk
kegiatan-kegiatan berikut:
1. Mengenal Astronomi
Pengetahuan tentang astronomi sangat penting dalam kehidupan
mereka terutama pada saat berlayar waktu malam hari. Astronomi
juga, penting artinya dalam menentukan musim untuk keperluan
pertanian.
2. Mengatur Masyarakat
Dalam kehidupan kelompok masyarakat yang sudah menetap diperlukan
adanya aturan-aturan dalam masyarakat. Pada masyarakat
dari desa-desa kuno di Indonesia telah memiliki aturan kehidupan
yang demokratis. Hal ini dapat ditunjukkan dalam musyawarah
dan mufakat memilih seorang pemimpin. Seorang pemimpin
yang dipilih itu diharapkan dapat melindungi masyarakat dari
gangguan masyarakat luar maupun roh jahat dan dapat mengatur
masyarakat dengan baik. Bila seorang pemimpin meninggal,
makamnya dipuja oleh penduduk daerah itu.
3. Sistem Macapat
Sistem macapat ini merupakan salah satu butir dari 10 butir
penelitian J.L.A. Brandes tentang keadaan Indonesia menjelang
Macapat, wayang, gamelan,
membatik, cetak logam, astronomi.
berakhirnya zaman prasejarah. Sistem macapat merupakan suatu
tatacara yang didasarkan pada jumlah empat dan pusat pemerintah
terletak di tengah-tengah wilayah yang dikuasainya. Pada pusat
pemerintahan terdapat tanah lapang (alun-alun) dan di empat
penjuru terdapat bangunan-bangunan yang penting seperti keraton,
tempat pemujaan, pasar, penjara. Susunan seperti itu masih
banyak ditemukan pada kota-kota lama.
4. Kesenian Wayang
Munculnya kesenian wayang berpangkal pada pemujaan roh
nenek moyang. Jenis wayang yang dipertunjukkan adalah wayang
kulit, wayang orang dan wayang golek (boneka). Cerita dalam
pertunjukkan wayang mengambil tema tentang kehidupan pada
masa itu dan setelah mendapat pengaruh bangsa Hindu muncul
cerita Mahabarata dan Ramayana.
5. Seni Gamelan
Seni gamelan digunakan untuk mengiringi pertunjukkan wayang
dan dapat mengiringi pelaksanaan upacara.
6. Seni Membatik
Seni membatik merupakan kerajinan untuk menghiasi kain
dengan menggunakan alat yang disebut canting. Hiasan gambar
yang diambil sebagian besar berasal dari alam lingkungan tempat
tinggalnya. Di samping itu ada seni menenun dengan beraneka
ragam corak.
7. Seni Logam
Seni membuat barang-barang dari logam menggunakan teknik
a Cire Perdue. Teknik a Cire Perdue adalah cara membuat barangbarang
dari logam dengan terlebih dulu membentuk tempat untuk
mencetak logam sesuai dengan benda yang dibutuhkan. Tempat
untuk mencetak logam sesuai dengan benda yang dibutuhkan.
Tempat untuk mencetak logam itu ada yang terbuat dari batu,
tanah liat, dan sebagainya. Pada tempat cetakan itu dituang logam
yang sudah dicairkan dan setelah dingin cetakan itu dipecahkan,
sehingga terbentuk benda yang dibutuhkannya. Barang-barang
logam yang ditemukan sebagian besar terbuat dari perunggu.
Penemuan beraneka ragam bentuk benda-benda budaya
masyarakat Indo nesia dari masa prasejarah memiliki arti yang
sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia di masa sekarang
dan di masa yang akan datang. Karena pentingnya maka
sebagai generasi bangsa di masa sekarang, kita patut bang-ga
terhadap peninggalan-peninggalan budaya masyarakat dari masa
lampau. Kita mengaguminya, betapa tinggi nilai seni budaya
yang mereka miliki saat itu walaupun teknik pembuatan masih
sangat sederhana. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus kita
memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk memelihara dan
mempertahankan benda-benda budaya sampai kepa-da anak-cucu
kita dengan seutuhnya: Benda-benda budaya itu sebagian besar
disimpan pada museum-museum sejarah yang terdapat di seluruh
Indonesia, juga masih ada yang terdapat dalam kandungan
bumi di seluruh wilayah Indonesia yang belum berhasil diangkat.
Oleh karena itu, apabila kita berhasil menemukan benda-benda
tersebut, maka sebaiknya kita serahkan kepada pemerintah dan
untuk selanjutnya disimpan di museum-museum.

0 comment:

Reactions: 

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates