Jumat, 03 Juni 2011

Pemerintahan Islam pada Masa Khalifah Utsman bin Affan


Sejarah mencatat bahwa kehidupan pada masa jahiliyah yang identik dengan konflik dalam kontek berbagai aspek, termasuk politik, budaya, agama dan bahkan sosioal, tentu akan memjadi bahan perbandingan dan zaman Khulafaur-Rasyiddin, keadaan tersebut masih mewarnai. Dalam pemerintahan Usman ibn Affan juga situasi itu masih berlangsung, terbukti wafatnya Usman adalah dilatar belakangi oleh konplik yang terjadi ketika itu.

Tragedi berdarah ini adalah salah satu contoh, dimana proses perkembangan kehidupan social, ketika memahami agama masih dalam tataran jahiliyah, namun keadan ini tentu akan mengantar pembahasan kita pada perjalanan kenegaraan pada masa pemerintahan khalifah..
Dalam hal ini, ada beberapa konsekwensi logis yang mengantarkan kita pada latar belakang terpilihnya Usman, walaupun telah diketahui bersama bahwa pengangkatan Usman adalah atas campur tangan "Umar " dan keadaan itulah yang menjadi embrio permasalah yang klimaknya tepat pada pemerintahan Usman Bin Affan


A. Usman ibn Affan

Usman ibnu ‘Affan ibnu Abil Ash ibnu Umayyah, dilahirkan di waktu Rasulullah berusia lima tahun dan masuk Islam atas seruan Abu Bakar Ash Shiddiq. Beliau terhitung saudagar besar dan kaya, dan sangat pemurah dan menafkahkan hartanya untuk kepentingan agama Islam.

Di waktu Rasulullah mengerahkan “Jaisyul Usrah” (balatentara yang dikerahkan dalam waktu kesukaran, yakni pada peperangan Tabuk ) Usman mendermakan 950 Unta,59 ekor kuda dan seribu Dinnar untuk keperluan lasykar. Pada peristiwa-peristiwa sebelum itupun Usman banyak sekali mendermakan harta dengan tidak ditahan-tahannya, untuk kemenangan Islam.

Beliau termasuk sahabat yang telah diberi kabar gembira oleh Rasulullah dan masuk Surga. Ada diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “ Tiap-tiap Nabi mempunyai teman, temanku di Surga ialah usman.”

Oleh karena pertalian beliau amat akrab dengan Rasullah, maka Rasullah mengawinkannya dengan putrinya yang bernama Ruqaiyah. Dan setelah Ruqaiyah dalam peperangan Badr, maka Nabi mengawinkannya dengan putri yang kedua, yaitu Ummu Kalsum oleh karena itu Usman dikenal dengan sebutan “Dzun Nurain” ( yang mempunyai dua cahaya).

Ummu Kalsum meninggal pada tahun sembilan Hijriyah. Dan Rasulullah berkata kepadanya : “Andaikata kata kami mempunyai putri yang ketika, tentu akan kami kawinkan pula dengan engkau.”

B. Pengangkatan Usman

Ketika Khalifah Umar menjelang wafat ummat Islam menyarankan untuk memilih Khalifah sebagai pengganti. Karena itu beliau mengambil jalan tengah, antara menunjuk dan tidak. Beliau menunjuk enam orang Sahabat yang telah diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surga, dan mereka adalah orang-orang terbaik, pun ditinjau dari sifat kedudukan masing-masing mereka pastilah orang yang akan menjadi Khalifah dan itu harus dipilih diantara mereka.Diantara mereka berenam yaitu : Usman ibnu ‘Affan, Ali ibnu Abi Thalib, Thalhah, Zubair ibnu Awwam, Sa’ad ibnu Abi Waqqash dan Abdurrahman ibnu “Auf.

Melalui persaingan yang sangat alot dengan Ali, sidang yang diberi nama saat itu sidang (komisi) Ahlu asy Syura atau Ahlu al-Halli wa al-‘Aqli dimana lembaga ini dibentuk dan brbegak dalam bidng yudiritas dan bertugas mengontrol kebijakan-kebijakan penguasa sebagai wakil rakyat yang dipercaya untuk tugas itu dan lembaga sebagai penampung dan penyalur aspirasi rakyat saat itu, akhirnya memberi mandat ke-Khalifahan kepada Usman Ibnu ‘affan dijaman Khulafaurrasyidin, yaitu periodenya sampai mencapai 12 tahun lamanya, tetapi sejarah mencatat tidak seluruh masa kekuasaannya menjadi saat yang dan sukses baginya.

Dalam sejarah mengatakan jaman pemerintahan dibagi menjadi dua yaitu 6 tahun masa keemasan atau jaman perluasan ekspansi Islam, dan 6 tahun terakhir merupakan masa pemerintahan yang buruk.

Selama paruh pertama pemerintahannya, Usman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama pada perluasan wilayah kekuasaan Islam . Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai oleh Islam seperti Mesir dan Irak dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedi Militer yang terencanakan secara cermat dan simultan disegala front, di Mesir pasukan Muslim diintruksikan Memasuki Afrika Utara.

Salah-satu pertempuran penting disini adalah “Zatis Sawari “ ( peperangan tiang Kapal) yang terjadi dilaut Tengah dekat kota Iskandariyah antara Romawi yang dipimpin oleh Kaisar Constantine dengan Lasykar Muslim Yang dipimpin oleh Abdullah ibnu Abi Sarah . Pada perang itu Islam berhasil mengalahkan Romawi yaitu bergerak menuju Basrah untuk menaklukkan sisa kerajaan Sasan di Irak dan dari kota Kuffah sampai menuju Laut Kaspia.

Perluasan-perluasan berikutnya terus jadi sasaran dalam pemerintahan Usman dan tentunya Islam saat itu penuh dengan kekayaan dan kekuatan militernya. Upaya-upaya lain pun dilaksanakan seperti penyebaran Agama Islam.

Masa-masa yang dilewati Oleh Khalifah yang terkenal dengan kedermawanannya dan juga ketaatannya dalam beragama, dan sebagai pengganti Khalifah Umar ia memberikan warna yang berbeda, dengan membuat trobosan-trobosan terutama dalam merubah Islam kepada perubahan dan termasuk pengumpulan macam-macaman teks Al-Qur’an- yang kemudian ditulis dalam tulisan atau aturan bacaan yang satu agar tidak terjadi perdebatan dalam hal menetapkan bacaan Al-Qur’an dan sebagai rujukan bagi Al-Qur’an yang dialeg bacaan berbeda yang dikepalai oleh Zaid Ibnu Sabit.


C. Nefotisme, Oposisi dan pemberontakan

Nepotiisme berasal dari bahasa Yunani yaitu nepiu yzng artinya keponakan dan dalam bahasa Inggris berasal dari kata Nepotism dapat diartikan dengan: mendahulukan sanak saudaranya sendiri khususnya dalam pemberiaan jabatan.

Dalam pemerintahan Khalifah Usman Tergolong sukses pada enam tahun awal dari pemerintannya, namun sesuai dengan cacatan sejarah bahwa enam kedepan banyak terjadi perubahan-perubahann termasuk tuntutan rakyat, dimana adanya Nefotisme ditubuh pemerintahan Usman sangat meresahkan kehidupan rakyat .

Ketika Usman mengangkat Marwan ibnu Hakam, sepupu Khalifah yang dituduh sebagai orang yang mementingkan diri sendiri dan suka intrik, menjadi sekraris utamanya, dan ketika itu spontan rakyat mosi tak percaya terhadap keputusan yang diambil oleh Usman tersebut. Begitu pula penempatan Muawiyah, Walid ibnu Uqbah dan Abdullah ibnu Sa’ad masing-masing menjadi Gubernur Suriah, Irak, dan Mesir, sangat tidak disukai oleh umum.

Ditambah lagi tuduhan-tuduhan keras bahwa kirabat Khalifah memperoleh harta pemerintah dengan mengorban kekayaan umum and tanah Negara. Hakam ayah Marwan mendapatkan tanah Fadah dan Marwan sendiri menyalah gunakan harta Baitul Mal ( dipakai untuk kepentinagn prirbadi dan dibrikan juaga untuk kaum kirabat lainnya dan seakan-akan beliau tidak sadar bahwa harta Baitul Mal adalah Harta Kaum Muslimun) Muawiyah mengambil alih tanah Negara Suriah dan Khalifah mengijinkan Abdullah untuk mengambil untuk dirinya sendiri seperlima dari harta rampasan perang Tripoli.




Situasi itu benar-benar semakin mencekam, bahkan usaha-usaha yang bertujuan baik dan mempunyai alasan kuat untuk kemaslahatan ummat disalah fahami dan melahirkan perlawanan dari masyarakat. Penulisan Al-Qur’an yang diperkirakan sebagi langkah ayng efektip malah menjadi menambah permasalahan dan bahkan mengundang kecaman, dan juga Usman malah dituduh Tidak punya otoritas untuk menetapkan edisi al-Qur’an yang dibakukan itu. Rasa tidak puas terhadap Khalifah Usman semakin besar dan menyeluruh , di Kuffah dan Basrah, yang dikuasai oleh Thalhah dan Zubair, rakyat bangkit menentang Gubernur yang diangkat Oleh Khalifah. Selain ketidaksetian rakyat terhadap Abdullah ibnu Sa’ad saudara angkat Khalifah sebagi penggati Gubernur ‘Amr ibn Ash juga karena komplik soal pembagian ganimah

Ada beberapa hal yang mendasari kenapa hal itu terjadi, yaitu Pada saat pemerintahan Abu Bakar dan Umar para pejabat senior tidak diperbolehkan keluar dari Madinah. Karena mereka adalah sebagai percontohan bagi pejabat junior, namun aturan itu tiodak diterapkan lagi oleh Usman. Tetap[I Usman lebih cenderung dan lebih sering berdiskusi dengan pejabat junior yang nota benenya adalah kaum kirabatnya sendiri yang haus akan kekuasaan dan jabatan .

Pergolakan semakin memanas saat itu, Abdullah ibn Saba'seorang Yahudi yang berpura-pura masukl Islam, memotori para sahabatuntuk membuat gerakan-gerakan pembrontakan, sahabat yang terpancing oleh tipu daya muslihat Abdullah ibn Saba' adalah: Abu Zar al-Ghiffari, Ammar ibn Yasir`dan Abdullah ibn Mas'ud. Sebenarnay Abdullah ibn Saba' telah cukup lama menantikan moument ini,dimana situasi ini dapat menghancurkanIslam, yang pertama-tama ia mempropaganda barisan pengikut Ali ibn Thalib.

Waktu itu barisan pengikut Ali selalu dimarjinalkan oleh pejabat-pejabat dari pihak Usman, isu-isu yang dilancarkan oleh Abdullah ibn Saba' baqgaikan gayung bersambut, dan saat itu lahirlah golongan yang disebut denagn "Mazhab Whisayah" . Mazhab ini mempunyai ideologi bahwa Alilah yang berhak menjadi Khalifah dan dia adalah orang yang mendapat wasiat dari NAbi Muhammad SWA. Dan para penganut mazhab ini sangat memuliakan Ali sebagaimana rasul menjulukinya sebagai "Pintu Ilmu".

Paham tersebut sesuai dengan doktrin dan ideologi yang dibawa oleh Abdullah ibn Saba' dan ia menambahi paham itu dengan paham-paham yang dibawanya dari Persi yaitu paham "Hak Ilahi", aliran ini berasal dari Persi yang dibawa ke Yaman tempat kelahiran Abdullah ibn Saba' fase sebelum datangnya Islam. Menurut paham ini Alilah yang berhak sebagai Khlifah tetai Usman mengambilnya dengan jalan pemaksaan.

Beranjak dari hasutan-hasutan Abdullah inb Saba', semua isu-isu kotornya sangat tepat sasaran, shingga setiap kebijakan-kebijakan Usman menjadi bumerang baginya, ditambah lagi para kirabatnya yang tidak punya tanggung jawab terhadap rakyat.

Terjadilah pembrontakan-pembrontakan dimana-mana, saat iitu yang paling getol mengkritiksi Usman Adalah Abu Zar al-Ghiffari, ia menyoroti aspek nefotismedan kesenjangan social ekonomi yang terjadi ditubuh pemerintahan Usman . Ketika kobaran-kobarab pembrontakan didaerah menuntut agar Usman segera turun dari pemerintahan, namun Usman ibn Affan tetap bersikukuh mempertahankan kekahlifahannya.

Mesir dan Basrah, merekam merapatkan barisan menuju keMadinah dan sampai disana mereka bertemu dengan Ali ibn Thalib yang berusaha bernegosiasi dengan mere4ka yang datnag dari Mesia dan Basrah. Karena kebijakan dan ketawadukan Ali ibn Thalib, para pembrontak itu bersikap legowo dan memahami saran-saran Ali, dan bersedia untuk kembali kedaerah masing-masing .

Saat diperjalanan, menuju daerah masing-masing, pembrontak asal Mesir memergoki seorang kurir yang membawa surat perintah, yang isi surat tersebut ditujukan kepada Gubernur Mesir untuk membunuh pemimpin pembrontak ketika mereka sampai di Mesir , dan surat tersebut berstempelkan Khalifah.

Setelah diteliti ernyata surat tesebut ditulis oleh Marwan ibn Hakam tampa sepengetahuan Usman ibn Affan, kemudian mereka membatalkan untuk kembali pulang keMesir dan menghubungi pembrontak yang dari Basrah agar segera kembali dan bersama-sama menuju Madinah untuk mempertanyakan Hal tersebut. Dalam perjalanan keMadinah mereka mendenganr kabar bahwa pasukan dari Mesir dan Syam sedang bersiap-siap menuju Madinah untuk melindungi Usmanibn Affan dan pasukan tersebut bermaksud untuk membasmi mereka .

Saat itu keadaan semakin genting, dan begitu mendengar kabar tentang kedatangan pasukan dari Mesir dan Syam tersebut, pasukan peberontak bahkan bermaksud untuk membunuh Usman ibn Affan . Padahal ketika menemukan surat dari kurir ( yang berisikan untuk membunuh pemimpin mereka ) tidaklah ada prasangka yang positif mereka apa maksud dan tujuan surat tersebut, apakah hanya berbentuk propokasi atau sebagai polotik Marwan ibn Hakam untuk menjatuhkan Usman agar bani Umayyah menggantikan KeKhalifahan Usman ibn Affan.

Walaupun selintas, surat tersebut adlah berstempelkan Khlifah dan jelas-jelas yang memegang stempel saat itu adalah Marwan ibn Affan, namun yang membuat surat diketahui pastinya dan hanya tuduhan tampa saksi dan bukti konkrit .

Ditambah lagi propokasi Abdullah ibn Saba' maka hilanglah keimanan dan ketaqwaan mereka terhadap ajaran-ajaran Islam dan yang ada saat itu hanayalah demdam dan nafsu ingin membunuh Usman ibn Affan.

Akibat nafsu yang tidak dapat dikendalikan lagi, sesampai di Madinah mereka langsung mendatangi rumah Usman ibn Affan, Ketika itu Ali dan kedua anaknya Hasan dan Husin dan beberapa orang lainnya berusaha menghalau dan mencoba bernegosiasi kembali, Namun usaha tersebut gagal, karena banyaknya para pembrontak, Ali ibn Thalib dan yang lainnya tak kuasa menghalangi mereka yang penuh denagn hawa nafsu untuk membunuh Usman ibn Affan .

Dan mereka mulai mengepung rumah Usman ibn Affan yang saat itu Khalifah Usman sedang membaca Al-Qur'an. Dan saat menemukan Usman, dengan tangan-tangan Iblis para pembrontak itu menghujuamkan pedangnya kearah Usman yang sudah tue-renta itu, dan pembrotak lainnya berduyun-duyun menghabisi Usman dan akhirnya ia tewas bnersama keluarganya.

Dengan bersimbah darah darah Usman ibn Affan terbujur kakau diatas sajadahnya dan saat itu tiada lagi aroma keIslaman yang ada hanya aroma Iblis yang mengisi ruang-ruang rumah Khalifah Usman Affan. Maka berakhirlah keKhlifahan Usman ibn Affan yang berlangsung sampai dua belas tahun lamanya.

D. Kesimpulan.

Masa pemerintahan Usman selama 12 Tahun, yang terbagi pada dua periode, Yaitu periode kemajuan selama 6 tahun yaitu nasa ekspansi yang dalam sejarah menyebutkan sampai pada daratan Afrika, Asia, sangat perlu diberiakan penghargaan kepada pemerintah saat itu, penyusunan al-Qur-an sebagai bahan rujukan bagi perbedaan-perbedaan dialeg yang menjadi fenomena saat itu.

Selanjutnya masa kemunduran, dimana saat itu ummat Islam masih dibayang-bayangi oleh kebijakan dan ketegasan Abu Bakar dan Umar ibn Khattab, dan program yang diterapkan oleh Usman sangat bertentangan dengan keduanya Yaitu dengan mengganti pejabat lama dengan pejabat baru yang bernuansa nepotisme juga ketidak berpihakan pejabat saat itu terhadap kepentingan rakyat sehingga munculah pembrontakan-pembrontakan didaerah jajahan Islam.

Tragedi pembunuhan Usman adalah sebagai fenomena lanjutan dari ketidakpuasan terhadap kasus terbunuhnya Umar dan pesatnya kebutuhan politik sehingga wadah sebagai penampung aspirasi ummat Islam tidak tertampung. Dan keadaan itu dimampaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
From : Here

0 comment:

Posting Komentar