Rabu, 27 April 2011

Sejarah_Kutai Dan Tarumanegara

Sistem Negara Kerajaan Hindu-Buddha
1. NEGARA KERAJAAN KUTAI
Apa yang terlintas di dalam benakmu saat membicarakan Kerajaan Kutai? Amati gambar di samping dengan saksama. Dari prasasti itulah kita bisa mengungkap kisah sejarah Kerajaan Kutai. Prasasti yang berbentuk yupa atau tiang batu berjumlah tujuh buah itu ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Para ahli epigrafi berhasil membaca isi prasasti itu sehingga kita memperoleh berita tentang Kerajaan Kutai yang berkaitan dengan kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Kerajaan itu diperkirakan muncul pada abad V M atau sekitar tahun 400 Masehi. Bagaimana kehidupan kerajaan itu? Mari kita analisis bersama.
a.      Letak Kerajaan
Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-5 Mdi Lembah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Nama Kutai diambil dari nama daerah tempat ditemukannya prasasti Kutai. Wujud prasastinya berupa tujuh buah tugu batu besar yang disebut yupa. Ketujuh yupa ini merupakan sumber sejarahKutai. Fungsi yupa sesungguhnya adalah tugu batuuntuk menambatkan lembu kurban. Aksara yang dipahatkan pada yupa berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh penguasa Kutai bernama Mulawarman. Mulawarman adalah orang Indonesia asli. Kakeknya, Kudungga, masih menggunakan nama asli Indonesia.
b.     Sumber sejarah
Prasasti Kutai menyebutkan silsilah raja-raja Kutai dengan raja terbesarnya adalah Mulawarman. Bunyi prasasti tersebut sebagai berikut.
1

Peta Kerajaan Kutai
"Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia, mempunyai putra mahsyur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Ansuman (dewa matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti Api(yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra ialah Sang Mulawarman raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri(selamatan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri itulah tugu batu didirikan oleh para brahmana."
Dari prasasti tersebut, dapat diketahui silsilah penguasa Kerajaan Kutai. Kudungga (orang Indonesia asli) memiliki putra bernama Aswawarman. Aswawarman menurunkan Mulawarman. Mulawarman inilah yang merupakan raja terbesar Kerajaan Kutai. Prasasti berikutnya berbunyi: "Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api didalam tanah yang suci bernama Waprakeswara buat peringatan akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibuat oleh brahmana yang datang di tempat ini."Dari prasasti ini dapat diketahui bahwa Raja Mulawarman telah memberikan sedekah 20.000 ekor sapi dalam upacara suci di Waprakeswara kepada para brahmana. Ini menunjukkan bahwa Raja Mulawarman adalah raja yang kaya dan teguh dengan agama Hindu.
c. Kehidupan Politik
Menurut prasasti tersebut, raja Kerajaan Kutai yang terbesar adalah Mulawarman. Ia adalah putra Aswawarman, sedangkan Aswawarman adalah putra Kundunga. Ditilik dari nama sebutannya, para ahli berpendapat bahwa nama Mulawarman dan Aswawarman memperoleh pengaruh dari India. Karena, di India juga ditemukan nama-nama serupa. Sebaliknya, para ahli mengatakan bahwa nama Kundungga yang merupakan kepala suku itu adalah nama asli Indonesia. Selain itu, prasasti Yupa juga menyebut Aswawarman sebagai Dewa Ansuman atau dewa Matahari dan dianggap sebagai sangsakerta atau pendiri keluargaraja. Raja Mulawarman sendiri telah menganut agama Hindu. Bahkan dalam prasasti itu ditulis bahwa ia telah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana. Ia merupakan pendiri dinasti dalam agama Hindu.
d. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial dalam Kerajaan Kutai bisa dilihat dari pelaksanaaan upacara penyembelihan kurban. Salah satu yupa menyebutkan bahwa Raja Mulawarman memberikan sedekah berupa 20.000 ekor lembu kepada kaum brahmana. Sedekah itu sendiri dilaksanakan di tanah suci yang bernama Waprakeswara, yaitu tempat suci untuk memuja Dewa Syiwa. Dari peristiwa itu, kita bisa melihat bahwa hubungan yang terjadi antara Raja Mulawarman dengan kaum brahmana terjalin secara erat dan harmonis.
e. Kehidupan Ekonomi
2Ketujuh Yupa yang ditemukan di sekitar Muarakaman tidak menyebutkan secara spesifik kehidupan ekonomi Kerajaan Kutai. Hanya salah satu Yupa menyebutkan bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan brahmana. Tidak ada sumber yang pasti tentang asal usul emas dan sapi yang biasa digunakan untuk upacara-upacara kerajaan. Tetapi dari situ kita bisa menduga bahwa Kerajaan Kutai telah melakukan aktivitas perdagangan.
f. Kehidupan Budaya
Karena Kerajaan Kutai telah mendapat pengaruh agama Hindu,maka kehidupan agamanya telah lebih maju. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan upacara penghinduan atau pemberkatan seseorang yang memeluk agama Hindu yang disebut Vratyastoma. Upacara tersebut dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarmandan dipimpin oleh para pendeta atau brahmana dari India. Baru pada masa pemerintahan Mulawarman, upacara tersebut dipimpin oleh kaum brahmana dari Indonesia. Dari situ kita bisa melihat bahwa kaum brahmana dari Indonesia ternyata telah memiliki tingkat intelektual yang tinggi karena mampu menguasai bahasa Sanskerta. Karena, bahasa ini bukanlah bahasa yangd ipakai sehari-hari oleh rakyat India melainkan bahasa resmi kaum brahmana untuk masalah keagamaan.
g. Nama-Nama Raja Kutai


1.      Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman
2.      Maharaja Asmawarman (anak Kundungga)
3.      Maharaja Mulawarman
4.      Maharaja Marawijaya Warman
5.      Maharaja Gajayana Warman
6.      Maharaja Tungga Warman
7.      Maharaja Jayanaga Warman
8.      Maharaja Nalasinga Warman
9.      Maharaja Nala Parana Tungga
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman
14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia


 2.  NEGARA KERAJAAN TARUMANEGARA
Kita bisa mempelajari sejarah Kerajaan Tarumanegara melaluiserangkaian prasasti yang berhasil ditemukan di berbagai daerah.Amati gambar di sampingItu adalah salah satu dari prasasti yang berkaitan dengankeberadaan Kerajaan Tarumanegara. Namanya adalah prasastiCiaruteun atau prasasti Ciampea. Bahasa yang digunakan di dalamprasasti itu adalah bahasa Sanskerta dengan huruf Pallawa terdiri atas empat baris syair. Dari beberapa prasasti yang berhasil ditemukan, kita bisa mendeskripsikan beberapa segi dalam kehidupan Kerajaan Tarumanegara.
a.      Letak Kerajaan
Berdasarkan catatan dalam berbagai prasasti, Kerajaan Tarumanegara berdiri di Jawa Barat pada akhir abad ke-5. Wilayah Tarumanegara meliputi hampir seluruh Jawa Barat, tepatnya dari sekitar Banten – Jakarta sampai Cirebon.
b.     Sumber sejarah
Sumber-sumber sejarah yang membuktikan keberadaan Kerajaan Tarumanegara sebagai berikut.
1) Berita dari bangsa asing
Banyak berita dari bangsa asing yang mengungkap adanya Kerajaan Tarumanegara. Salah satu berita dari Claudius Ptolomeus. Dalam bukunya Geography, ahli ilmu bumi Yunani Kuno ini menyebutkan bahwa di Timur Jauh ada sebuah kota bernama Argyre yang terletak di ujung Pulau Iabadium (Jawa dwipa = Pulau Jelai = Pulau Jawa). Kata Argyre berarti perak, diduga yang dimaksud adalah Merak yang terletak di sebelah barat Pulau Jawa. Kabar lainnya datang dari Gunawarman, seorang pendeta dari Kashmir yang mengatakan bahwa agama yang dianut rakyat Taruma adalah Hindu. Berita dari Cina yang dibawa Fa Hsien dalam perjalanannya kembali ke Cina dari India menyebutkan bahwa rakyat di Ye-Po-Ti (Jawa = Taruma) sebagian besar beragama Hindu, sebagian kecil beragama Buddha dan Kitters (penyembah berhala). Adapun berita dari Soui (Cina) menyebutkan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari Tolomo (Taruma) ke Cina.
c.      Kehidupan Politik 
 Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Raja diraja guru Jaya singawarman pada tahun 358 M di tepi Sungai Gomati. Pada tahun 397 M, Purnawarman membangun ibu kota kerajaan barudi Sundapura. Raja Purnawarman adalah raja ketiga yang memiliki kekuasaan besar, sangat berpengaruh, dan memiliki beragam kebijakan. Kekuasaan raja dilambangkan dengan cap telapak kaki seperti yang terdapat pada prasasti Ciaruteun, Jambu,dan Cianteun. Sebagai perbandingan, di India cap telapak kaki itu melambangkan kekuasaan. Dalam interpretasi yang lain, Purnawarman dilambangkan sebagai Dewa Wisnu yang merupakan penguasa dan pelindung rakyat. Purnawarman diketahui banyak menundukkan daerah musuh-musuhnya. Pada masa pemerintahan Suryawarman, kekuasaan raja-raja daerah dikembalikan sebagai hadiah kesetiaannya terhadap Tarumanegara. Pengembalian kekuasaan diberikan kepada Rakeyan Juru Pengembat, yang merupakan wakil raja di daerah tersebut. Apakah ini  yang disebut otonomi daerah di era sekarang, belum ada yang tahu pasti. Menurut Pustaka  nusantara, kekuasaan Purnawarman meliputi 48 raja daerah yang membentang dari Salanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) hingga Purwalingga (sekarang Purbalingga). Hingga akhir kekuasaannya, Tarumanegara hanya memiliki dua belas orang raja. Kedua belas raja itu adalah: Jayasingawarman (358–382),Dharmayawarman (382–395), Purnawarman (395–434),Wisnuwarman (434–455), Indrawarman (455–515), Candrawarman(515–535), Suryawarman (535-561), Kertawarman (561–628), Sudhawarman (628–639), Hariwangsawarman (639–640), Nagajayawarman (640–666), dan Linggawarman (666–669).
d. Kehidupan Sosial
Sebagai kerajaan Hindu yang beraliran Wisnu, Tarumanegara juga menjalankan upacara sedekah dengan menyembelih 1.000 ekor sapi yang diserahkan kepada kaum brahmana. Upacara tersebut dilaksanakan pada tahun 417 M setelah penggalian Sungai Gomatidan Candrabhaga selesai dilaksanakan. Saluran air tersebut memiliki panjang 6.112 tombak atau sekitar 11 km. Menurut prasasti Tugu, saluran tersebut dibuat untuk menghadapi bencana banjir dan melindungi petani. Proyek ini dikerjakan secara gotong royong dan melibatkan seluruh rakyat dalam waktu 21 hari.
e. Kehidupan Ekonomi
5Kehidupan ekonomi Kerajaan Tarumanegara didasarkan pada bidang pertanian. Menurut catatan Fa Hien pada abad V M, aspek kehidupan itu meliputi pertanian, peternakan, perburuan binatang, dan perdagangan. Komoditas yang diperdagangkan antara lain berupa cula badak, perak, dan kulit penyu. Dari prasasti Tugu,kita bisa mengetahui bahwa Raja Purnawarman sanga tmemerhatikan bidang pertanian.
f. Kehidupan Budaya
Masuknya pengaruh agama dan kebudayaan Hindu, memengaruhi kehidupan budaya Kerajaan Tarumanegara. Pengaruh itu berupa sistem dewa dewi, bahasa dan sastra, mitologi, dan upacara.Mitologi Hindu yang banyak ditemukan dalam prasasti-prasastiTarumanegara adalah Airawata. Misalnya yang terdapat padaprasasti Telapak Gajah. Gajah tunggangan Batara Indra itu dijadikan nama gajah perang milik Purnawarman. Bahkan, bendera Kerajaan Tarumanegara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Selain dari sejumlah prasasti di atas, berita mengenai keberadaan Kerajaan Tarumanegara juga bisa ditemukan di luarnegeri. Pada tahun 414 M, Fa Hien membuat buku yang berjudulFa-Kao-Chi. Isinya antara lain menceritakan bahwa di Ye-po-tihanya sedikit orang-orang yang beragama Buddha. Menurut beritadari Dinasti Sui, pada tahun 528 dan 535 telah datang utusandari To-lo-mo yang terletak di selatan. Sedangkan berita dari Dinasti Tang, mengisahkan datangnya utusan dari To-lo-mo padatahun 666 dan 669. Secara fonetis, To-lo-mo adalah sebutan untuk Taruma (negara).
g. Berita dari prasasti
Ada tujuh buah prasasti yang menjadi sumber sejarah keberadaan Tarumanegara.
a) Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor)

Prasasti ciaruteun
Dalam prasasti ini, ada lukisan laba-laba dan telapak kaki. Bunyi prasasti ini adalah "Ini (bekas) dua kaki yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia."
b) Prasasti Pasir Kaleangkak (Bogor)
Prasasti ini ditemukan di sebelah barat Bogor di sebuah kebun jambu. Dalam prasasti inilah pertama kali ditemukan sebutan negara "Tarumanegara". Menurut Brandes, yang dimaksud prasasti itu adalah Tarumanegara. Prasasti itu berbunyi:
6"Gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termasyhur Sri Purnawarman, yang memerintah diTaruma dan baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa berhasil menggempur kota musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya."
c) Prasasti Kebon Kopi (Cibungbulang)
Text Box: Prasasti kebon kopiPrasasti ini terletak di hilir Cibungbulang. Dalam prasasti ini terdapat dua tapak kaki gajah, yakni gajah Airawata. Bunyinya: "Di sini tampak sepasang kaki ... yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam ...dan kejayaan."
d) Prasasti Tugu
Text Box: Prasasti TuguPrasasti ini terletak di dekat Cilincing, Jakarta. Isi prasasti Tugu adalah yang terpanjang di antara semua peninggalan Purnawarman. Bunyinya: "Dahulu kali yang bernama Kali Chandrabhaga (= Kali Bekasi) digali oleh Maharaja Yang Mulia yang mempunyai lengan yang kencang dan kuat, yakni Raja Purnawarman. Setelah melewati istana baginda yang masyhur, kali itu dialirkan ke laut. Kemudian, di dalam tahun ke-22 dari takhta baginda, Raja Purnawarman yang berkilau karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja, memerintahkan pula menggali kali yang indah serta jernih airnya. Kali Gomati namanya. Kali ini mengalir di tengah-tengah kediaman Sang Pendeta Nenek da Sang Purnawarman. Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, yakni pada tanggal 8 paro peteng bulan Phalguna dan diakhiri pada hari tanggal 13 paro terang bulan Caitra. Galian itu panjangnya 6.122 tumbak. Untuk itu, diadakan selamatan yang dilaksanakan oleh para brahmana. Untuk selamatan itu, Raja Purnawarman mendharmakan seribu ekor sapi". Ada beberapa hal yang menarik dari prasasti ini. Di antaranya, penyebutan dua sungai yang terkecil di Punjab, Chandrabhaga, dan Gomati. Chandrabhaga oleh Poerbatjaraka secara etimologi diartikan sebagai Sungai Bekasi yang dipercaya sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara. Hal menarik lainnya adalah adanya upacara selamatan oleh brahmana yang menghasilkan 1.000 ekor sapi kepada raja dan mulai adanya penyatuan bulan Phalguna – Caitra yangdisamakan dengan Februari – April. Dari prasasti ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
1) Purnawarman memerhatikan kemakmuran rakyatnya.
2) Kerajaan Tarumanegara bersifat agraris dan sudah memiliki sistem irigasi.
3) Masyarakatnya hidup teratur dengan gotong royong.
4) Agama yang dianut adalah Hindu, terbukti dari hewan yang digunakan untuk kurban adalah lembu.
e) Prasasti Pasir Awi
f) Prasasti Muara Cianten
Kedua prasasti ini tidak terbaca huruf-hurufnya.
g) Prasasti Cidangiang.
Prasasti ini ditemukan di desa Lebak, daerah Pandeglang, Banten. Bunyiprasasti ini adalah "Inilah keperwiraan, keagungan, dan keberanian yangsesungguhnya dari raja dunia. Yang Mulia Purnawarman, yang menjadi panjisekalian raja".
h.  Runtuhnya Tarumanegara
Pada akhir abad ke-7, Tarumanegara tidak terdengar lagi kabar beritanya. Ada kemungkinan kerajaan ini ditaklukkan oleh Sriwijaya. Kemungkinan ini dapat kita ketahui dari sumber-sumber sejarah berikut.
1)  Dalam prasasti Kota Kapur disebutkan bahwa pada tahun 686, Sriwijaya menghukum bumi Jawa karena tidak taat kepada Sriwijaya.
2)    Sejak abad ke-7, Kerajaan Cina tidak pernah menyebut lagi adanya utusan yang datang dari dan ke Tarumanegara.

0 comment :

Reactions:  

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates