Kau Tau?...

Kau tahu apa yang menyenangkan? Saat perempuan-perempuan berpikir aku pernah mencintai mereka. Dan tebak apa yang menyakitkan? Mencintaimu.

Hai Aku...

Hai orang yang gagal jatuh cinta, sedang apa kau? Ah, senyummu! Kukenal senyum palsu itu! Aku juga pernah melakukannya saat bersamamu.

Hanya Kamu

Aku sayang kamu sejak lama, tapi kini aku punya mata yang baru. Mata yang tertutup bagi segala keindahan perempuan yang bukan kamu.

Beda Cerita

Beda ceritanya, antara kamu sudah mengisi hati seseorang atau kamu hanya sedang membuat seseorang sibuk hingga tak sempat menengok hatinya.

Bangga Menjadi Diri Sendiri

Kamu harus bangga bahwa kamu adalah kamu. Sebab mungkin tidak mudah bagi orang lain bila menjadi kamu. :)

Minggu, 09 Maret 2014

Anita #Part1

Berat, untuk membuka mata saja  begitu berat. Entah, aku tak bisa mengingat apapun.

Aku terduduk dengan kaki selonjor sedangkan punggungku bersandar pada sebuah tembok. Hidungku mencium bau aneh, bau yang tak aku kenal, bau amis.
Bau apa ini! Tanyaku dalam hati.

Aku masih hanya bisa berfikir sembari membukakan kelopak mata. Belum bisa merasakan tangan atau kakiku bergerak. Hanya sesekali desahan nafasku yang begitu berat menghirup bau yang begitu menyesakkan paru-paru.

Slasssshh!!! Mata kiri ku terbuka. Seketika itu aku bisa merasakan tubuhku, namun dengan perasaan aneh, sial.Seluruh tubuhku terasa sakit.

"Apa yang terjadi padaku?"

Perlahan aku mencari cari tanganku yang sangat sulit untuk ku gerakan. Dengan mata yang sebelah itu aku berusaha mencari tanganku. Tapi tak ada.

Haaaaa!!!!

Aku kaget bukan main. Aku hanya bisa melihat kedua daging bahu ku bercucuran darah.
Aku hampir menyesal, menyesal kenapa sejauh ini aku berusaha membuka mataku hanya untuk melihat hal mengerikan ini.

"Aaaaaaaaaaaaakkkkk" Rasa sakit yang luar biasa menyerang syarafku. Mungkin karena aku tengah sadar, syaraf-syaraf nyeriku kembali normal.

"Siala......... Akkkk... Tuhan, kuatkan aku..." dalam kesakitan luar biasa itu aku benar-benar sadar, tak ada guna nya mengumpat.

Drap.. drap. drap...
Tetiba terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Sepertinya menuju ke arahku. Semakin lama, ia terdengar semakin jelas. Ia, begitupun dengan sakit yang aku rasakan, semakin lama, ia semakin menjadi.

"Sayang!!! Kamu.. " Seorang wanita berambut panjang muncul dihadapanku. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, darah dari kepalaku mulai membasahi mata ku. Tapi, dia memamnggilku sayang. Siapa? Apa aku punya pacar? Aku sempat berfikir dalam kesakitan itu.

"Kamu siapa? Tolong a.."

Jrepppp.." Sebuah pedang menghujam jantungku. Wanita itu membunuhku.

"Glekkk.. Akkkkk" Tenggorokanku dipenuhi darah yang berhamburan dari jantungku. Aku tak bisa lagi bernafas. Pandanganku semakin kabur.. Aku.. Aku... Mati..

Jumat, 24 Januari 2014

Kita?

“Senja, cukup tepat untuk menemani kesenjangan”

“Iya, sebenarnya aku tak ingin kita berakhir”

“Namun sesuatu dari kita sudah menemukan hilir..”

“Lalu kamu mau bilang ini haruslah takdir?”
  
“Biarlah, biarlah ini mengalir.. Aku..”
   
“Kamu apa? Wajahmu tak cukup baik untuk menampilkan sosok kesedihan..”
                
“Namun wajah hatiku tak bisa sekedar cukup”

“Lalu cukuplah Tuhan menyudahi kesedihanmu. Atau kau mau mencukupkan aku?”

“Tidak sayang, kau tak pernah sekedar cukup"

“Lalu apa yang kau sedihkan tentang aku”

“Aku..”

“Aku bertanya tentang aku…”

“Iya, aku lah yang ku sedihkan tentang kamu”

“Apa kamu sebegitu yakin adanya kamu pada aku?”

“Apa memang benar tak ada aku pada kamu?”

“Memangnya kau juga yakin ada aku pada kamu? Ngga kan?”

“Tentu..”

“Lalu kenapa kamu ga pernah yakinkan aku… Kamu sendiri tak pernah yakin dengan perasaan kamu sendiri. Dengar, aku lelah bertahan seperti ini… ”

“Tapi aku sayang kamu”“Aku lebih sayang sama kamu. Tapi aku lelah membuatmu berpura-pura seolah kau bisa mencintaiku..”

“Aku..”

“Sudahlah, aku bosan mendengar kau terus berbohong seperti itu. Cintailah dia, cintailah dia sampai cintamu benar-benar membunuhmu…”

“Aku sedang berusaha untuk..”

“Apa usahamu? Hanya menutupi bahwa kau memang tak bisa? Aku ini wanita. Aku tau perasaanmu..”

“Tinggal lah, menetap selamanya. Aku akan meyakinkanmu..”

“Jangan berhenti. Aku tak ingin meninggalkanmu. Jadi tunjukkan bahwa kau benar-benar mencintaiku lebih dari sekedar kau mencintai ego-mu itu. Aku bukan sekedar  pelarianmu saja kan?”

“Sepertinya aku butuh pelukan..”

Ketika…


ketika dua orang (cowok dan cewek) yang lagi sama-sama patah hati bertemu.
"Aku fikir aku akan menemui kesendirian disini…”

“Kenapa? Apa kau juga sedang patah hati? Oh iya, sepertinya aku tak perlu bertanya..”

“Mudah ya buat cewek bisa nebak perasaan..”

“Ngga. Cowok aja yang mudah ketebak. ”

“Trus? Apa bedanya sama kamu? Apa yang susah ditebak dari seorang cewek yang lagi sendirian dengan muka tertunduk sedih kayak gitu..”
“Aku emang lagi ga niat nutupin perasaan.”

“Kenapa? Biar ada yang perhatian?”

“Ngga, aku fikir aku bakal sendirian disini..”

“Ngga ada satu tempat pun di dunia ini yang bisa membuatmu sendiri. Itu hanya tergantung perasaanmu aja.”

“Iya kamu bener..”

“Ada aku disini dan mungkin ada orang-orang yang sayang sama kamu yang kayaknya lagi ngehawatirin kamu. Jangan berfikiran kalo kamu sendiri..”
“Heem.. Makasih.. Oiya aku Nadia, cewek yang lagi patah hati.. Kamu?”

“Aku cimud, cowok yang gak mau bilang kalo dia lagi patah hati..”

“Berarti kamu patah hati gara-gara ga bisa jujur sama orang yang kamu suka..”
“Bener, banget. Aku tebak kamu patah hati gara-gara diputusin cowok kamu’

“Bukaan… Bisa dibilang, aku korban orang-orang yang kayak kamu”

“Kamu korban kepastian ya..”

“Yepp…”

Nadia, di lain cerita…

Malam itu gw natap mata dia, dia pun sama. Kemudian tangan kami saling merangkul.  Beberapa ragu berjatuhan bersama kian dekatnya nafas kami. Sesekali gw mengalihkan pandangan memastikan tiada orang di sekitar. Namun mata dia mengisyaratkan gw untuk tetap fokus pada dia. Padahal disana kami cuma saling bertatapan lama, mungkin sudah lebih dari 5 menit. Entah apa yang sebenarnya gw nikmati dari hanya saling memandang satu sama lain.

Hingga disebuah detik, sesuatu mendorong kepala gw untuk lebih dekat dengan sesuatu di depan gw. Beberapa hembusan angin malam itu mencoba memisahkan gw dengan dinginnya yang tiba-tiba merasuk melewati punduk. Hanya saja percuma, rangkulan erat Nadia tak sedikitpun membiarkan dingin itu melewati ujung rambut sesekalipun. Desahan nafas Nadia semakin terasa di bibir gw. Entah itu semakin terasa cepat. Hingga tepian muka gw dan Nadia hanya tersisa beberapa mili saja. Dan sampai sekarang gw masih inget kalimat apa yang dilontarkan Nadia dalam jarak sedekat itu, dalam situasi se-mengerikan itu, “Kamu siapa?”…

Nadia #Part4

             “Huaaaaa… Auuuuuh… Huaaaaaa” gw mengerang gak jelas diatas tempat tidur. Masih nyengir-nyengir mikin kejadian kemaren malem. Gak kejadian apa-apa sih, dan itu yang bikin gw uring-uringan. Yah sukur sih, gak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
             Gw Cuman mikir-mikir aja. Udah lama gak berinteraksi langsung sama cewek sejak lulus SMA. (Bukan berarti gw homo ya). Cuman gak tertarik sama pacaran aja. Emang terkadang kita suka ngelakuin banyak hal yang menarik walaupun sebenernya gak perlu. Pacaran? Itu gak menarik.

            Kring.. Kring.. Ponsel gw berdering tanpa panggilan masuk dan disana nunjukin panggilan dari Nadia.
           
“Haloo nad.. Tumben nelpon. Aku kira gak berani..” Sambut gw dengan nada akrab.

            “Ini Papa Nadia mud..” Balas dari telepon sebrang dengan nada menggelegar.

            “Oiya maaf om. Saya kira Nadia.. Ada apa om?” Tanya gw merubah nada sapaan.
            “Sore ini maen kerumah ya. Ditunggu..” Balas Papa Nadia dengan nada yang halus.

            “Boleh om.. Ada ap…” Belum selesai gw ngelontarin pertanyaan yang sederhana banget dan
            “Tuut tuutt tuuut” Telpon diba-tiba ditutup.

            Ada apa ya? Aneh banget. Gw berusaha untuk tetap berprasangka baik dan tiba-tiba…

            Kring.. Kring.. Nadia nelpon lagi..

“Halo ko tadi ditutup om?” Tanya gw heran..

“Maaf kepencet mud” Papa Nadia menjawab dengan nada tanpa dosa.

Oh kepencet, ia gapapa om. Gapapa, banget.*dalem hati*

Siangnya gw masih nemenin paman gw ke glodok, biasa, transaksi alat-alat mesin. Disana gw sekalian pamit kalo mulai sore itu gw nginep di rumah Nadia. Berhubung Fresh Graduate, masih liburan, tapi tadi Ayahnya Nadia minta gw buat kerja di kantor dia. Ada posisi yang bisa gw isi. Gw sih sukur yang ada, maunya emang cepet-cepet kerja. Tapi yang gw ga nyangka kenapa harus nginepnya di rumahnya juga. Disana kan ada… ada… ada Nadia. Asiik *dalem hati*

Prepare selesai dan sore itu gw cabut ke rumah Nadia. Kebetulan Nadia belum pulang ngampus. Dateng-dateng gw disuruh rapihin kamer yang mau gw tidurin dan langsung disuruh mandi.

“Mandinya diatas aja, yang dibawah kerannya belum dibenerin. Tapi yang diatas belum ada kuncinya…” Pesan Ayah Nadia. Eh gak enak manggilnya gini, yaudah mulai saat ini gw panggil Ayah Nadia pake Om Wisnu aja. Soalnya namanya Eka Aldiansyah. Gak nyambung yah? Gak papa yang penting enak dipanggil.

“oke om” balas gw singkat…

Sore itu gw mandi dengan damai karena abis capek beres beres. Dan pas lagi asyik-asiknya showeran.
“Cklek…” Pintu kamer mandi terbuka. Terlihat satu sosok berbalutkan setengah handuk dengan wajah memerah menatap gw yang lagi asyik mengguyur diri.

“Eh.. Nadia.. Udah pulang..” Sapa gw pelan

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” *teriakan cewek*

*Adegan selanjutnya di hiden karena menampilkan adegan kekerasan*

“Kamu ngapain di kamer mandi?” Tanya Nadia marah marah di ruang tamu.. (gw mandinya udah selese. Ya langsung gw selesein waktu itu juga sih…)

“Ya aku mandi..” Jawab gw

“Kenapa pintunya gak dikunci!” Tanya Nadia lagi tetep sambil marah-marah dengan muka yang agak memerah…

“Ya emang gak ada kuncinya itu pintu.. Kenapa sih? Kamu gak liat kan? Aku aja gak liat..” Seru gw sok lancar..

            “Ngg.. Nggga lah.. Aku gak liat..” jawab Nadia terbata-bata

“Ada apa sih ribut-ribut?” Tiba-tiba muncul suara ketiga dari balik pintu depan.
“Ngga ada apa-apa ” Jawab gw dan Nadia serentak…

“Oh yaudah.. Nih papa udah beli kunci buat kamer mandi atas. Ntar pasangin ya mud..” Sahut Om Wisnu seolah tak tau apa yang udah terjadi tadi.. Emang gatau apa-apa kali ya..
Sore pun berlalu…
Jam menunjukan pukul 20.45, gw dan Nadia kembali berduaan di dalam Rumah. Entah Om Wisnu lagi kemana. Kita lagi nonton sinetron.

“Eh Nad” gw memulai percakapan ditengah iklan Iga-Igaan.

“Kenapa mud?” Tanya Nadia kalem.

“Ngga, apa-apa. Apa sampe detik ini, ada juga kejadian yang sama kayak di Komik Audie?” Tanya gw agak ragu-ragu.

“Kok nanya gitu?” Tanya Nadia Heran.

“Ngga, aku nanya aja..” Jawab gw sembari ngambil remot di meja.

“Mau ada atau ngga, aku nga peduli. Itu kan yang kamu bilang waktu itu? Kenapa kamu mau bahas itu lagi..” Balas Nadia sambil ngerebut remot dari gw. Dan chanelnya diganti ke YKS.

“Idih ngapain sih.. Alay itu ah..” Sahut gw sambil berusaha ngerebut kembali remot yang diambil Nadia..

“Yaudah iya. Ini Alay, kita genti” Balas Nadia santay…
Itu selingan diatas kayaknya gak perlu ya? Yaudah deh biarin.

“Mud?” Nadia gentian mengawali percakapan baru

 “Ya apa?” Bales gw sambil nebak nebak pertanyaan Nadia yang kayaknya gak jauh dari film yang lagi kita tonton.

“Aku cinta kamu..”
“Hah?”