Kau Tau?...

Kau tahu apa yang menyenangkan? Saat perempuan-perempuan berpikir aku pernah mencintai mereka. Dan tebak apa yang menyakitkan? Mencintaimu.

Hai Aku...

Hai orang yang gagal jatuh cinta, sedang apa kau? Ah, senyummu! Kukenal senyum palsu itu! Aku juga pernah melakukannya saat bersamamu.

Hanya Kamu

Aku sayang kamu sejak lama, tapi kini aku punya mata yang baru. Mata yang tertutup bagi segala keindahan perempuan yang bukan kamu.

Beda Cerita

Beda ceritanya, antara kamu sudah mengisi hati seseorang atau kamu hanya sedang membuat seseorang sibuk hingga tak sempat menengok hatinya.

Bangga Menjadi Diri Sendiri

Kamu harus bangga bahwa kamu adalah kamu. Sebab mungkin tidak mudah bagi orang lain bila menjadi kamu. :)

Kamis, 06 Desember 2012

Hujan, aku dan dia

“hai, kamu terlihat sedih”
kata hujan kepada lelaki kecil yang menatapnya dengan muka muram.
“Hai hujan, aku sedang menunggu orang yang sedari tadi menungguku, taukah kau dimana dia?”
jawab si lelaki dengan butiran hujan membasahi pipinya, bercampur dengan air matanya yang hangat.
“Dia terjebak hujan, tak ada payung. Dia bersama yang lain”
balas hujan, rintiknya semakin deras.
“Apa yang harus kulakukan? Menemuinya walau aku tak tau dia dimana? Atau cukup berteduh disini seperti seorang pengecut! Jujur, aku sangat menghawatirkannya. Hujan kini terlalu deras, aku takut dia kenapa-kenapa, dia mudah sakit”
Mimik wajah lelaki semakin sedih. Hujan mulai segan mengguyur bumi.
“Aku justru menghawatirkanmu. Aku hendak pergi, tapi siapa lagi yang akan menemuimu nanti? Andai saja yang kau tunggu ternyata sudah pulang”
Hujan mulai berlalu bersama angin sore yang sangat dingin. Masih menyisakan rintik-rintik sebagai tanda perpisahan.
Seorang wanita tiba-tiba berlari dari arah timur, dia sendiri mencari tempat untuk berteduh. Dia duduk di sebelah lelaki tadi.
 “Wah kebasahan, ku kira takkan sederas ini tadi”
Wanita itu berbicara pada dirinya sendiri, namun dia menyadari ada pria kecil di sampingnya. Dia mengeringkan pakaian basahnya dengan tangannya, menyibakkan rambutnya lalu menyimpan tasnya dekat pria itu.
“hey, kenapa? Hujan mulai reda. Kau tak segera pergi?”
Tanya wanita itu pada lelaki yang sedari tadi hanya termenung.
“Tak apa, aku hanya memastikan hujan benar-benar pergi”
Jawab lelaki itu sembari memperhatikan wanita yang duduk disampingnya.
“Dia manis, dengan rambut basah dan kulit putih yang kedinginan itu dia terlihat sangat anggun.” Fikir lelaki itu dalam hatinya.
“ah jangan bohong, kutau kau sedang menunggu seseorang. Siapa? Pacarmu?”
Seru wanita itu kepada si lelaki dengan nada mengejek. Dia memperhatikan mimik wajah gelisah lelaki itu.
“sebenarnya aku tidak sedang menunggu seseorang. Malahan aku sedang membuat seseorang menunggu. Dia temanku, sebatas teman”
Dia mulai berdiri, merapihkan rambutnya sembari menghapus air hujan yang bercampur air mata di pipinya.
“Kenapa kau tak menghubunginya saja? Kau bisa segera menemuinya. Hujan sudah benar benar reda”
Saran wanita itu kepada lelaki yang sedang memasukan sebuah buku merah ke dalam tasnya.
“Kalau saja HPku hidup, aku sudah melakukannya sedari tadi. Hehe”
Lelaki itu tersenyum dan sedikit memberikan tawa halusnya. Dia sedang bersiap-siap pergi.
“Kau mau memakai HPku? Kau bisa pakai untuk menghubunginya?”
Kata wanita itu dengan penuh perhatian.
“Tak apa, kuyakin dia sudah pulang. Dia bersama teman-temannya tadi”
Jawab lelaki itu dengan muka yang penuh rasa yang yakin.
“hey darimana kau tau? Katanya Hpmu mati?”
Wajahnya tampak bingung dengan jawaban si lelaki
“Hujan yang memberitahuku. Hehe”
Lelaki itu melebarkan senyumnya, dia nampak sedang menutupi sesuatu.
“ah bodoh, mana mungkin. Eh kau akan segera pergi? Aku harap aku bisa tau namamu”
Tanya wanita itu sambil menatap wajah lelaki itu
“Hmm, iya aku Reza. Kamu?”
Jawab lelaki itu sembari melemparkan senyuman hangat.
“aku Elsa fransiska Kristanti. Panggil aku elsa, kuharap nanti kita bisa bertemu lagi, Reza”
Seru elsa kepada Reza, HPnya bordering. Dia tidak mengangktanya. Tetap dia menatap wajah Reza yang masih kaku dengan senyuman hangatnya.
“Ya insya Allah saa”
Sebuah limo hitam datang dari arah selatan dan berhenti tepat di depan mereka.
“eh jemputanku datang, aku pulang duluan ya. Sampai jumpa!”
Dia member senyuman manis tanda perpisahan hari ini, sepertinya dia senang akan pertemuannya dengan Reza.
“iya saa”
Lelaki itu membalas senyuman manis elsa.
“ah hujan. Aku sedih karena begitu menyukainya tapi bermain dengannya begitu membuatku sakit”, seru lelaki sembari menadahkan tangannya kelangit, mengumpulkan rintik-tintik hujan yang perlahan menghilang. Dia berdoa kepada tuhannya.
“Hei, apa yang kau inginkan”
Seru Hujan dan membuat Reza kaget. Hujan ternyata kembali dengan rintik-rintik yang deras. Dia tidak pergi, hanya bersembunyi dibalik awan cumulo nimbus. Bahkan kini dia tak sendiri, dia membawa kabut yang cukup tebal.
“Entah, aku hanya sedikit berharap. Aku tak perlu merasakan luka yang sama apabila suatu saat aku bertemu dengan Elsa kembali. Entah apa yang aku rasakan, tubuhnya memang sudah pergi. Namun bayangannya masiha ada di fikiranku.”
Jawab Reza dengan nada penuh harapan.
“Apa kau butuh bantuanku?”
Jawab hujan dengan nada serius, dia sepertinya peduli dengan apa yang terjadi kepada Reza.
“Berilah dia malam yang dingin, dan bisikkan bahwa hanya aku yang bisa menghangatkannya”
Pria itu berlalu, tak peduli dengan hujan yang kian deras. Dia menghilang ditengah kabut sore.

Ori By Mudztova

Rabu, 05 Desember 2012

S.P.G

Originale By Mudztova...

Sebuah benda tiba-tiba jatuh tepat di depanku. Apapun itu, kurasa beratnya tidak lebih dari 0.2KG. Tepat mendarat di gundukan pasir tempat bermain anak anak TK di sebelah Kampus Baru ku. Ya kampus baru, baru 2 minggu aku disana namun aku sudah muak dengan suasananyanya.
Merah gelap, bulat, hanya sebesar bola mata. Eits, ada sebuah tombol yang bertuliskan "Ready". Hmm aku ragu menekan tombol itu, normalnya bertuliskan Open atau OK atau sebagainya. 
"Ready?"
Tak mungkin ini sebuah pemicu bom atau sebagainya. Setidaknya bertuliskan "Bang" atau ah membuatku semakin penasaran. Tanpa berfikir lagi aku langsung menekan tombol itu dan hanya sebuah cahaya silau yang memancar dan membuat  bola itu menyala merah terang. Hanya 4 detik dan bola itu kembali merah gelap. Hanya bola biasa, sialan! hanya buang buang waktu saja.

Aku masukan saja bola itu kedalam tas, siapa tau ada gunanya. Aku kembali berjalan bersama lelahku. Pergi dari kehidupan kampus dan kembali menyendiri di kosanku, hanya berjarak 1km dan hanya beberapa menit dari kampus bila kutempuh dengan berjalan kaki.
Hidupku masih penuh dengan hal-hal yang biasa, wajah yang biasa, kemampuan yang biasa, keadaan yang biasa, jomblo seperti remaja biasa yang biasa biasa saja. Seperti biasa juga aku melewati jalan ini sekitar jam 17.17 di jalan yang biasa, gang Dewi Sartika di Blok 17. Namun sepertinya aku harus melepas semua yang biasa itu. Sesuatuyang terjadi hari ini, Senin 21 November 2011.
______________________
Beberapa puluh langkah lagi aku memasuki rumah kost baruku. Namun langkahku terhenti saat melihat sebuah BMW concept M 8 parkir di depan gang kostku. Ku amati memang BMW yang benar-benar baru release minggu kemarin dan tebak, tidak ada orang didalamnya. Hanya ada beberapa tas Besar di kursi belakang. Tentu sangat aneh mobil mewah seperti itu ada di daerah seperti ini. Mobil ceper dengan rim berukuran 21inchi dan ketinggian bumper kurang dari setengah jengkal dari tanah takan mungkin bertahan lama di sini. Atau memiliki tonka hidrolik di bannya. Sebegitu menariknya membuatku ingin mengamati dan menikmatinya lebih lama. Namun aku lebih ingin segera merebahkan diri diatas kasur. 

Baru saja aku bergerak beberapa langkah dari mobil itu, terdengar teriakan seorang wanita dari arah belakang.
"aaa yame, yamette kudasai"
Teriakan khas gadis jepang saat bahaya atau saat di film ****
aku langsung menoleh kearah teriakan itu dan,, "
"broukkk"
seseorang membekapku dari depan dan "Gelap" seketika aku tak sadarkan diri...
______________________
Sepertinya aku bisa kembali bernafas, tapi  gelap, masih gelap. Dimana ini, tanganku terikat. AKu seperti duduk di sebuah kursi dan tanganku terikat ke belakang.

"Hey, he's wake. Hes Alive. Behahaha"
Aku mendengar suara itu, logat inggris amerika.
"Oe, who's that.. Where Am i"
Seseorang memegangi pundaku dan sepertinya dia akan berbisik, terdengar jelas suara nafasnya dekat telingaku.
"Kau, Hika?"
"mm hika siapa, kau siapa? Dimana aku?. Lepaskan penutup mataku bocah tua!"
"Haa aku hanya melontarkan 1 pertanyaan dan kau malah memberi 1 pertanyaan dan sebuah perintah."
"hey aku anak FTi bukan Fakultas Sastra! cepat bukakan penutup mataku!"
"Wah nampaknya kau tidak sabaran bocah!. BIarkan aku memberimu beberapa pertanyaan dan kau jawab, setelah itu aku akan membukakan tutup matamu. Deal?"
"ya terserserah kau saja!"
"Kau sudah menerima file yang dikirim oleh seseorang dengan ID Zenbu31?"
"Ya memang, kenapa?"
"dan kau mengerjakan perintah yang ada di dalamnya?"
"Ya"
"dan kau menyelesaikannya hanya dalam 22 Menit?"
"ya? pertanyaan macam apa ini!"
"Bagus, Lalu kau dapat menyelesaikan Script ini dengan cepat?"
"Script apa? aku tak bisa liat!"
*Seseorang melepaskan penutup mataku
Ah terang, mataku masih bisa melihat. 
"Sukurlah. Dimana ini, siapa mereka." Aku berbicara dalam hati
Beberapa remaja seumuranku duduk rapi di kursi sebelah kanan. Berjejer 4 orang, dan 2 orang tua yang sedang melihatku. mereka tampak bukan dari Indonesia, aku kenal wajah itu. Remaja yang duduk paling pojok dan khas rambut harajuku. Pasti dia orang jepang.

"Hey dimana ini? Siapa mereka?"
"st st, lihat dulu script ini!"
"ya aku tau, beberapa command prompt basis CSS dan file +++ dibawahnya! memang kenapa? apa ada yang salah"
"Kami mengirim email yang sama ke banyak mahasiswa di dunia. Dan hanya beberapa orang yang mampu melaksanakan tugasnya. Dan kau salah satunya"
"tapi bagaimana kau tau aku menyelesaikannya?"
"File format .str yang ada di Drive C apa kau tau?"
"Hah ya, aku menghapusnya tapi tak bisa. Bahkan tak terlacak sebagai virus!"
"tentu, itu virus jenis baru. Menghubungkan semua drive ke internet. Dan kami bisa bebas menjelajahi storagemu."
"hah pantas saja"
"termasuk beberapa Video Echi yang kami temukan"
"hey jangan sebutkan itu!"
Aku lihat 4 remaja tadi sedikit tertawa mengejek..
"ah apa maksudnya ini, jelaskan dengan cepat!"

Kau kami rekrut untuk jadi anggota SPG, (Solar Perfect Guardian)"
"nama mengerikan apa itu! baiklah aku akan mendengarkan jelasnya. Tapi lepaskan tanganku dulu"

_____TBC____


Afterdark


From IDWS Forum. See Here

Prolog

Semua orang di ruangan ini terdiam. Memperhatikan seorang pria yang sedang berbicara di depan sana. Perkataannya tidak terlalu kumengerti. Tapi, semua orang terkesima dengan apa yang ia katakan. Aku hanya bisa berpikir, mengapa ia bisa mendapatkan perhatian seperti itu. Ia selesai berbicara. Semua orang berdiri dan suara tepukan tangan bergemuruh. Aku hanya bisa terdiam.

“Ada apa Tuan Spade?” Orlando, butler keluargaku bertanya kepadaku.
“Tidak, tidak ada apa-apa.”

Pria tersebut turun dari atas panggung. Semua orang mendekatinya dan menyalaminya. Beberapa orang dari jauh megambil gambar kejadian tersebut. 

“Orlando, kita pergi.”
“Sekarang?”

Aku langsung berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar. Orlando hanya terdiam dan mengikutiku. Aku berjalan ke arah sebuah mobil yang berada di pinggir taman. Orlando berjalan mendahuluiku dan membukakan pintu mobil tersebut untukku.

“Silakan.”
“Orlando, aku bisa membuka pintu itu sendiri.”
“Maaf tuan, tapi ini sudah tugasku.”

Aku memasuki mobil tersebut dan duduk di bagian belakang. Orlando menutup pintu mobil dan menunggu di luar. Aku mendengus dan melihat keadaan di luar mobil. Bisa kulihat semua tamu keluar dari pintu utama. Tapi kelihatannya aku masih harus menunggu lebih lama lagi. Tidak lama, aku melihat seseorang mendekati mobilku. Orlando sedikit membungkuk dan membukakan pintu bagian depan. Penceramah tadi masuk dan menghela napas.

“Spade, bagaimana menurutmu?” penceramah tadi bertanya kepadaku.
“Tidak buruk,” jawabku dengan bosan.
“Kau tahu nak?” tanyanya, “Aku ingin kau menjadi sepertiku suatu saat nanti.”
“Hmmmm....”

Dia mendengus. Meskipun ia menyembunyikannya aku masih bisa mendengarnya. Aku tidak mengerti mengapa orang ini sangat ingin agar aku sama sepertinya. Apakah karena aku satu-satunya anak yang ia miliki? Jujur saja, aku bosan dengan model kehidupan seperti ini.

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam memerhatikan semua daerah yang kami lewati. Aku melihat sekilas ke depan. Kulihat ayahku sedang sibuk mengobrol dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Bisakah ia berhenti dari kesibukannya? Kupikir itu hal yang mustahil.

“Anda masalah Tuan Spade?” pertanyaan Orlando membuyarkan lamunanku.
“Tidak.... entahlah.”




* * *




Pintu gerbang terbuka. Mobil yang kutumpangi memasuki halaman sebuah rumah. Mobil ini terus berjalan dan berhenti di depan rumah yang cukup besar. Seorang pelayan di luar membukakan pintu untuk ayahku dan juga aku. Meskipun sudah sampai di rumah, ayahku masih belum juga lepas dari telepon genggam. 

“Selamat datang Tuan Anthony,” sapa seorang pelayan.

Ayahku hanya tersenyum dan sedikit mengangkat tangannya. Sesibuk itukah ia sampai tidak bisa mengucapkan salam sedikitpun? Aku berjalan mendahuluinya ke dalam rumah. Seorang pelayan membukakan pintu rumah untukku. Begitu di dalam, aku menaiki tangga dan menuju ke arah kamarku.

“Tuan Anthony, anda mendapatkan sebuah bingkisan,” seorang pelayan memberikan sebotol anggur kepada ayahku.
“Dari siapa ini?” Ayahku tersenyum.
“Kami tidak tahu, tidak ada nama pengirimnya sama sekali.”
Ayahku memperhatikan botol tersebut, “Spade, mau minum bersamaku?”
“Tidak, aku tidak perlu.”

Aku memasuki kamarku. Aku langsung melepaskan jasku dan merebahkan diriku ke atas ranjang. Kapankah aku bisa meninggalkan kehidupanku yang serba mudah ini? Benar-benar membosankan. Ketika aku sedang berpikir dan berkhayal, kudengar suara pecahan kaca. Lalu, tiba-tiba terjadi keramaian di luar kamarku. Aku penasaran dan berjalan keluar kamarku. Aku melihat ke lantai bawah. Aku terkejut. Kulihat ayahku terkapar di atas lantai. Ia berteriak dan terbatuk-batuk. Bisa kulihat darah mengalir melalui mulutnya. Aku langsung berlari ke bawah. Aku menyingkirkan orang-orang yang menghalangiku. Aku langsung mendekati ayahku.

“Ayah... ayah... apa yang terjadi?” Aku mengangkat ayahku.

Ia melihat ke arahku dengan lemah. Tangannya yang berlumuran darah menggenggam kerah bajuku. Mulutnya terbuka seperti mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengar apapun. Matanya lalu terbelalak dan tubuhnya melemas.

“Hei, ini bercanda kan?” 

Aku mencoba membangunkan ayahku. Tapi, tidak ada respon sama sekali. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di leherku. Mendadak, tubuh ayahku memutih perlahan. Dia telah pergi.



* * *

Hari ini langit cukup gelap. Taman pemakaman kini dipenuhi oleh orang-orang berpakaian serba hitam. Aku berdiri di barisan paling belakang. Menurut pemeriksaan polisi, anggur yang diminum ayahku telah diracuni. Sampai sekarang, penyelidikan masih berlanjut untuk mencari pelakunya. Aku masih tidak mengerti mengapa ada orang yang mau membunuh ayahku. Aku berjalan menjauhi kerumunan orang. Aku bersandar ke arah tembok dan memandangi langit. Aku mengepalkan tanganku, apakah ini kesalahanku?

“Kurasa kita sudah berhasil.”

Aku mendengar suara seseorang di belakangku. Aku berbalik dan mengintip. Terlihat ada dua orang, dan aku bisa melihat wajah salah seorang di antaranya. Mereka terlihat sedang melakukan pembicaraan penting.

“Bagaimana langkah kita selanjutnya?”
“Untuk sementara kita tidak perlu terburu-buru, kita masih harus mengatur langkah lagi.”
“Tapi, kelihatannya kita masih belum bisa mendapatkan kontrol secara menyeluruh.”

Dari pembicaraan mereka, aku bisa menebak kalau mereka sedang membicarakan ayahku. Kurasa, mereka memiliki hubungan dengan pembunuhan ini. Tapi, aku masih harus memastikannya lagi. Aku mengarahkan telingaku kepada mereka.

“Tentu saja, masih ada satu penghalang.”
“Ya, anaknya, jadi apa yang harus kita lakukan?”
“Tentu saja, kita harus membuat dia memberikan kuasa atas perusahaan tersebut.”
“Jika tidak?”
“Hanya ada satu hal yang harus kita lakukan, buat ia seperti ayahnya.”

Jantungku terasa berhenti. Tidak hanya itu, aku benar-benar bisa merasakan kematianku sudah dekat. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar. Kalau seperti ini, apa yang harus kulakukan? Masih ada banyak hal yang belum aku lakukan. Aku belum bisa pergi, aku tidak ingin berakhir seperti ayahku.

Titian pertama


Senin pagi yang lumayan cerah di awal bulan November. Angin sepoi sepoi perlahan bertiup dari arah kampus. AKu masih berdiri di depan gerbang, menunggu seseorang ang membuatku jengkel.
“Teet”
Pria berjenggot itu berhenti mendadak dan hammpir menabrakku.
“Maaf bro, telat dikit! wkwkwk”
“lagi!”
“ya maklumlah, masalah biasa.”
“Yaudah, yuk masuk. Bntar lagi peralajaran”
Dia nyaris selalu telat tiap hari. Pacarnya yang membuatnya selalu begitu, tepatnya dia menajdi supir pribadi pacarnya.Antar jemput setiap hari, tak mengenal panas dan hujan. Pacarnya memang cantik, lumayan pintar, tapi tak terlalu cerdas, manja, sedikit centil, dan dia muslim.
Dengan fikiran yang sama aku masuk ke Kelas. Beberapa wanita mulai berkumpul untuk sarapan gossip pagi. Entah gossip apalagi yang mereka bicarakan. Biarlah menjadi masalah merka, aku dan beberapa lelaki lain selalu menutup telinga dari apapun ocehan merka. Tapi entah mengapa hari ini tiba-tiba aku penasaran dengan topik mereka. Kudengar seperti ada anak baru.
Pukul 07,57 semua anak sudah lengkap. Tak satupun yang absen atau terlambat. Tentu hari ini kalkulus man! Ga ada yang berani menghilangkan batang idungnya dari dosen Killer kalkulus. Bahkan 3 anak yang kepeleset saat ujian renang pun masih berani hadir walau masih dnegan beberapa balutan luka di tangan mereka..
“Tok tok, SelamatPagi”
Dia tak langsung duduk, hanya menyimpan tasnya, menyalakan NoteBooknya dan mencolokkannya pada infokus. Dan
“jeng jeng”
UJIAN KALKULUS II
“jiahhhh…. Kiakakakkaakakka,, aduuuuh”
Desahan para mahasiswa madesu yang kecewa dengan jji-janji manis dosen killer itu.
Rencannya pertemuan kali ini akan membahas hasil test Kalkulus I bulan lalu.
2 jam mengenaskan berlalu.
Kini giliran mata kulaih pemrograman. Sedikit bisa menghilangkan rasa mengenaskan itu. BUkan karena mata kuliahnya tapi karena dosennya yang super cantik dengan senyuman super manis yang pernah dilihat di kelas walaupun dia kini berusia 48Tahun.
“Pagi anak-anak”
Ya dia menganggap mahasiswa umur 18 tahun sebagai anaknya mungkin, tapi saat kami minta uang jajan dia malah pura pura tidak kenal.
“drup”
Bidadari masuk kekelas dan duduk di kursi dosen tepat di depanku. Dia sedikit melempar senyum sinis pada muka mesumku. Semerbak wangi violet mulai menyesakki ruangan, membius semua laki laki yang ada.
“Sekarang kita tidak langsung ke perkuliahan berhubung kita kedatangan mahasiswa baru. Sengaja dia tidak datang sejak perkuliahan jam pertama karena tadi ada Test Kalkulus yak an?. Silahkan masuk els, SIlahkan perkenalan telbih dahulu.”
“Pagi, perkenalkan aku Elsa Fransiska, aku pindahan dari..**”
Aku tidak mendengarkan ucapannya, aku tak bias focus. Kenapa ini? Ini bukan sinetron! Ini tak mungkin kebetulan, dia, dia elsa!



“Kau”
“assalam”
“Alaika”
“Kenapa kau memutuskan pindah kesini? Apa yang terjadi disini Saa?”
“Tidak ada apa-apa. Ayahku yang menyuruhku pindah kesini.”
“hmm, mungkin kata yang paling tepat aku ucapkan adalah kita bertemu kembali”
“Ya ini pertemuan ke3. Sisanya kita hanya saling berhubungan lewat facebook saja. Hee”
“Pertama kali kita bertemu. Hari minggu 2 Bulan lalu, kemudian hari jumatnya dan yang ketiga sekarang. Kenapa harus hari jumat dan minggu? Apa ada sesuatu yang aneh?”
“tidak, ini tidak aneh. Tapi Indah. Tuhan telah menjodohkan kedua hari ini entah untuk apa”
“Apa perjodohan kedua hari itu menjelaskan sebuah cerita?”
“Bisa jadi, tapi aku belum tau bagaimana kisahnya. Karena aku belum pernah merasakannya.”
“Mungkin kita akan segera merasakan…”
“eh apa maksudnmu?”
“Eh ngga, ngga apa-apa”
“Ada makna dibalik kata “Ga papa itu” katakan padaku! Jangan pura-pura bodoh begitu. Kita berdua penyair!”
“emm entah apa yang ingin tuhan beritahukan kepada kita. Yang jelas, apa yang sudah terjadi tidak bisa dikatakan hanya sebuah kebetulan. Terlalu ekstrim kalo iya kan?”
“Emmm…..”
“pertemuan kita 2 bulan lalu. Kita berdua sama-sama dalam keadaan bersedih. Aku berharap menghapuskan itu di masjid dekat gerejamu. Dan kau juga merasakan kesedihan di gereja dekat masjidku dan disana kita bertemu. Dan kesedihanku hilang karena pertemuan itu. Jumat lalu, kita bertemu kembali dengan alas an yang sama, kembali merasakan kesedihan saat kita kehilangan Alex. Dan sekarang kita Bertemu kembali kaena…”
“Cukup! Apa yang sebenarnya kau rasakan mudz?”
“Rasakan tentang apa? ”
“Tentangku!”
“emmm, ano etooo.”
“Apa tuhan telah menanamkan cinta diantara kita?”
“aku yankin tuhan takkan bermain-main dengan apapun!”
“entah apa yang kurasakan tapi sepertinya aku telah jatuh cinta padamu!”
“Hati takkan pernah berbohong, akupun juga merasakannya”
“Tapi kita beda! Beda yang terlalu…”
“Sudahlah! Kita caritahu kebenaran cinta kita. Tuhan pasti memberikan kisah indah untuk kita saa. Bismillah”
“Puji tuhan”
  


24 Days vs 24 Hours

By blu3p1nk  From IDWS. See here

Hari ini aku duduk sendiri di tempat sama mencurahkan semua inspirasiku. Aku melihat kamu datang dan duduk di meja tepat di seberangku. Mataku mengawasi tiap lekuk wajahmu. Tidak istimewa tetapi menarik perhatianku.

Aku diam kamu juga diam. Aku kembali dengan laptopku demikian juga denganmu. Tetapi kenapa kehadiranmu menggangguku? kenapa sesekali mata kita bertautan.

Waktuku sudah habis dan aku harus kembali. Kamu masih di sana duduk dengan posisi yang sama dan kembali aku menangkap sorot mataku kepadaku. Aku tidak ada waktu, aku tidak suka basa-basi. Aku harus pergi.

Saat aku sendiri di kamarku, kenapa sesekali wajahmu muncul? Aku tidak suka dengan ketidakpastian. Aku sudah bosan dengan romantika masa remaja yang penuh kesan saat pertemuan pertama kali. Aku tidak suka itu.

Kubuka saja laptopku dan kubuka mailing list yang menyeretku dalam percakapan antar grup yang baru saja kukenal di chat room kami. Sebuah nama member baru masuk. Aku hiraukan. Aku kembali bercengkrama dengan teman-temanku. Kulemparkan lelucon ke mereka, account member baru itu membalas leluconku dengan lelucon cerdas yang mampu membuatku tersenyum.

"Siapa dia?" tanyaku pada teman-temanku. Seorang dari mereka menyebutkan nickname orang itu. Tentu saja aku sudah tahu karena aku bisa membacanya. Saint_Saiya. Nickname yang terlalu kekanak-kanakan. Kubuka profile dia dan dia bernama Satriya, kini kumengerti kenapa dia memakai nickname itu.

Pembicaraan grup ini terus mengalir dan aku bisa membaca ucapan-ucapan Satriya dengan teman-temanku. Rupanya dia member lama, justru aku adalah junior baginya. Sesekali saja aku menimpali ucapan Satriya. Aku tidak bisa cepat membaur atau akrab dengan orang asing. Aku bukan orang seperti itu.

Malam semakin larut aku butuh istirahat. Kuucapkan selamat malam dan berpamitan pada mereka. Sesaat sebelum keluar dari chat room kulihat Satriya juga berpamitan, diikuti oleh lainnya.

Aku tertidur dalam ketenangan pikiranku. Aku suka ketenangan ini, aku tidak merasa sendiri dan kesepian. Aku menikmatinya. Aku tidak butuh perasaan lainnya yang justru menggusarkan dan akan menyakitiku.

Biarkan aku sendiri dan jangan usik diriku kalau itu hanyalah kehangatan yang semu dan tak berarti. Itu menyakitkan dan aku tidak ingin mengulangnya lagi.

Ketenangan ini membawaku cepat menuju pulau Mimpi yang damai dan sangat indah.