Rabu, 05 Desember 2012

Afterdark


From IDWS Forum. See Here

Prolog

Semua orang di ruangan ini terdiam. Memperhatikan seorang pria yang sedang berbicara di depan sana. Perkataannya tidak terlalu kumengerti. Tapi, semua orang terkesima dengan apa yang ia katakan. Aku hanya bisa berpikir, mengapa ia bisa mendapatkan perhatian seperti itu. Ia selesai berbicara. Semua orang berdiri dan suara tepukan tangan bergemuruh. Aku hanya bisa terdiam.

“Ada apa Tuan Spade?” Orlando, butler keluargaku bertanya kepadaku.
“Tidak, tidak ada apa-apa.”

Pria tersebut turun dari atas panggung. Semua orang mendekatinya dan menyalaminya. Beberapa orang dari jauh megambil gambar kejadian tersebut. 

“Orlando, kita pergi.”
“Sekarang?”

Aku langsung berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar. Orlando hanya terdiam dan mengikutiku. Aku berjalan ke arah sebuah mobil yang berada di pinggir taman. Orlando berjalan mendahuluiku dan membukakan pintu mobil tersebut untukku.

“Silakan.”
“Orlando, aku bisa membuka pintu itu sendiri.”
“Maaf tuan, tapi ini sudah tugasku.”

Aku memasuki mobil tersebut dan duduk di bagian belakang. Orlando menutup pintu mobil dan menunggu di luar. Aku mendengus dan melihat keadaan di luar mobil. Bisa kulihat semua tamu keluar dari pintu utama. Tapi kelihatannya aku masih harus menunggu lebih lama lagi. Tidak lama, aku melihat seseorang mendekati mobilku. Orlando sedikit membungkuk dan membukakan pintu bagian depan. Penceramah tadi masuk dan menghela napas.

“Spade, bagaimana menurutmu?” penceramah tadi bertanya kepadaku.
“Tidak buruk,” jawabku dengan bosan.
“Kau tahu nak?” tanyanya, “Aku ingin kau menjadi sepertiku suatu saat nanti.”
“Hmmmm....”

Dia mendengus. Meskipun ia menyembunyikannya aku masih bisa mendengarnya. Aku tidak mengerti mengapa orang ini sangat ingin agar aku sama sepertinya. Apakah karena aku satu-satunya anak yang ia miliki? Jujur saja, aku bosan dengan model kehidupan seperti ini.

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam memerhatikan semua daerah yang kami lewati. Aku melihat sekilas ke depan. Kulihat ayahku sedang sibuk mengobrol dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Bisakah ia berhenti dari kesibukannya? Kupikir itu hal yang mustahil.

“Anda masalah Tuan Spade?” pertanyaan Orlando membuyarkan lamunanku.
“Tidak.... entahlah.”




* * *




Pintu gerbang terbuka. Mobil yang kutumpangi memasuki halaman sebuah rumah. Mobil ini terus berjalan dan berhenti di depan rumah yang cukup besar. Seorang pelayan di luar membukakan pintu untuk ayahku dan juga aku. Meskipun sudah sampai di rumah, ayahku masih belum juga lepas dari telepon genggam. 

“Selamat datang Tuan Anthony,” sapa seorang pelayan.

Ayahku hanya tersenyum dan sedikit mengangkat tangannya. Sesibuk itukah ia sampai tidak bisa mengucapkan salam sedikitpun? Aku berjalan mendahuluinya ke dalam rumah. Seorang pelayan membukakan pintu rumah untukku. Begitu di dalam, aku menaiki tangga dan menuju ke arah kamarku.

“Tuan Anthony, anda mendapatkan sebuah bingkisan,” seorang pelayan memberikan sebotol anggur kepada ayahku.
“Dari siapa ini?” Ayahku tersenyum.
“Kami tidak tahu, tidak ada nama pengirimnya sama sekali.”
Ayahku memperhatikan botol tersebut, “Spade, mau minum bersamaku?”
“Tidak, aku tidak perlu.”

Aku memasuki kamarku. Aku langsung melepaskan jasku dan merebahkan diriku ke atas ranjang. Kapankah aku bisa meninggalkan kehidupanku yang serba mudah ini? Benar-benar membosankan. Ketika aku sedang berpikir dan berkhayal, kudengar suara pecahan kaca. Lalu, tiba-tiba terjadi keramaian di luar kamarku. Aku penasaran dan berjalan keluar kamarku. Aku melihat ke lantai bawah. Aku terkejut. Kulihat ayahku terkapar di atas lantai. Ia berteriak dan terbatuk-batuk. Bisa kulihat darah mengalir melalui mulutnya. Aku langsung berlari ke bawah. Aku menyingkirkan orang-orang yang menghalangiku. Aku langsung mendekati ayahku.

“Ayah... ayah... apa yang terjadi?” Aku mengangkat ayahku.

Ia melihat ke arahku dengan lemah. Tangannya yang berlumuran darah menggenggam kerah bajuku. Mulutnya terbuka seperti mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengar apapun. Matanya lalu terbelalak dan tubuhnya melemas.

“Hei, ini bercanda kan?” 

Aku mencoba membangunkan ayahku. Tapi, tidak ada respon sama sekali. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di leherku. Mendadak, tubuh ayahku memutih perlahan. Dia telah pergi.



* * *

Hari ini langit cukup gelap. Taman pemakaman kini dipenuhi oleh orang-orang berpakaian serba hitam. Aku berdiri di barisan paling belakang. Menurut pemeriksaan polisi, anggur yang diminum ayahku telah diracuni. Sampai sekarang, penyelidikan masih berlanjut untuk mencari pelakunya. Aku masih tidak mengerti mengapa ada orang yang mau membunuh ayahku. Aku berjalan menjauhi kerumunan orang. Aku bersandar ke arah tembok dan memandangi langit. Aku mengepalkan tanganku, apakah ini kesalahanku?

“Kurasa kita sudah berhasil.”

Aku mendengar suara seseorang di belakangku. Aku berbalik dan mengintip. Terlihat ada dua orang, dan aku bisa melihat wajah salah seorang di antaranya. Mereka terlihat sedang melakukan pembicaraan penting.

“Bagaimana langkah kita selanjutnya?”
“Untuk sementara kita tidak perlu terburu-buru, kita masih harus mengatur langkah lagi.”
“Tapi, kelihatannya kita masih belum bisa mendapatkan kontrol secara menyeluruh.”

Dari pembicaraan mereka, aku bisa menebak kalau mereka sedang membicarakan ayahku. Kurasa, mereka memiliki hubungan dengan pembunuhan ini. Tapi, aku masih harus memastikannya lagi. Aku mengarahkan telingaku kepada mereka.

“Tentu saja, masih ada satu penghalang.”
“Ya, anaknya, jadi apa yang harus kita lakukan?”
“Tentu saja, kita harus membuat dia memberikan kuasa atas perusahaan tersebut.”
“Jika tidak?”
“Hanya ada satu hal yang harus kita lakukan, buat ia seperti ayahnya.”

Jantungku terasa berhenti. Tidak hanya itu, aku benar-benar bisa merasakan kematianku sudah dekat. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar. Kalau seperti ini, apa yang harus kulakukan? Masih ada banyak hal yang belum aku lakukan. Aku belum bisa pergi, aku tidak ingin berakhir seperti ayahku.

0 comment:

Posting Komentar