Kau Tau?...

Kau tahu apa yang menyenangkan? Saat perempuan-perempuan berpikir aku pernah mencintai mereka. Dan tebak apa yang menyakitkan? Mencintaimu.

Hai Aku...

Hai orang yang gagal jatuh cinta, sedang apa kau? Ah, senyummu! Kukenal senyum palsu itu! Aku juga pernah melakukannya saat bersamamu.

Hanya Kamu

Aku sayang kamu sejak lama, tapi kini aku punya mata yang baru. Mata yang tertutup bagi segala keindahan perempuan yang bukan kamu.

Beda Cerita

Beda ceritanya, antara kamu sudah mengisi hati seseorang atau kamu hanya sedang membuat seseorang sibuk hingga tak sempat menengok hatinya.

Bangga Menjadi Diri Sendiri

Kamu harus bangga bahwa kamu adalah kamu. Sebab mungkin tidak mudah bagi orang lain bila menjadi kamu. :)

Senin, 16 Mei 2011

Wangi Kaki Ibu


Wangi Kaki Ibu

KETIKA bibir dan hidungnya menyentuh punggung kaki yang cokelat keriput itu, ia merasakan air matanya menetes. Membasahi permukaan kulit yang kisut. Terguling dari tonjolan otot menuju lingir telapak kaki, sebagian ke sela jemari. "Aku tahu, bukan kamu yang membunuhnya," bisik serak seorang perempuan tua, yang kedua mata-kaki kanan dan kirinya sedang ia dekap. Entah siapa yang memberi kabar indah itu ke telinga yang mungkin tak sepenuhnya berfungsi. Atau ada yang langsung membisikkan ke ceruk hatinya? Membuat lelaki itu teringat perjalanan yang sesungguhnya tak panjang, namun dirasakan sangat berlarut-larut. Semata oleh pikiran yang kalang-kabut. SUBUH retak melahirkan fajar. Takbir menggema di telinga, dari pelbagai surau, yang terletak jauh maupun dekat. Dipantulkan oleh bening embun. Membubung ke awan-gemawan yang parasnya sedang dipulas rona lembayung. Angin reda, membuat pohonan yang belum menjelaskan warna daunnya terdiam tunduk, seperti sabar menanti perintah berikutnya. Di dalam rongga dadanya yang kurus, tampak dari kemejanya yang terasa demikian longgar, ada sebersit ngilu berdesir. Ia baru saja meninggalkan stasiun Tugu. Dengan langkah bimbang, tak ubahnya selembar daun kering yang terseret angin, ia merasa harus mengenali kembali setiap ruang dan benda yang dilalui. Toko-toko yang berderet memanjang ke Malioboro masih menutup pintu. Atau mungkin hari ini tak akan membuka dagangan, karena tiba Lebaran. Jalan aspal yang memiliki beberapa lubang akibat genangan air, tak berbeda dari kota yang ia tinggalkan. Trotoar dengan warna paving-block yang tak sama antara satu dengan yang lain, tentu lantaran pernah terbongkar di sana-sini. Dan yang terhirup ke dalam paru-parunya adalah udara yang menebarkan aroma tersendiri: sisa malam yang tersangkut dan terlambat sirna. Ini wajah kota kelahiran, yang pernah memberikan keindahan masa kanak-kanak. Ketika Janti masih berupa jalan tanah berbatu. Ketika Hotel Ambarukmo berdiri paling megah dan bergaya di Jalan Solo. Dan Demangan merupakan pusat jajan dengan bakso, es buah, sate, dan limun berwarna-warni. Lalu ia, dulu sekali, mengendarai sepeda ringkih, selalu menghabiskan hari-hari Ramadan dengan menyewa komik atau membacanya di kios persewaan itu sambil menunggu magrib. Terbayang dalam kenangan: Barda Mandrawata sebagai Si Buta dari Gua Hantu. Pendekar Bambu Kuning. Gundala Putera Petir karya Hasmi dari kota ini. Peni sudah Mati. Ah, Peni! Itu tokoh utama dalam komik roman karya Jan Mintaraga. Tokoh yang sesungguhnya telah mati. Dan seorang perempuan lain telah menyamar sebagai Peni, seolah-olah masih hidup, tak berdaya di atas kursi roda, namun sanggup membongkar kematian Peni yang dilatari ketamakan atas harta warisan... Dan Peni, seseorang yang seharusnya sangat dicintai, kini juga telah mati. Sejenak jemari tangan kanannya bergetar bagai diserang tremor. Ia menggigil bukan oleh dingin pagi yang mengusap dada kerempengnya. Tapi oleh ingatan yang membuatnya harus pulang ke kota kelahiran. Matanya memandang ke segala arah. Ia mencari becak. Ada beberapa becak teronggok di ruas jalur lambat Jalan Pangeran Mangkubumi, tapi pemiliknya masih meringkuk dengan sarung lusuh. Ah, apakah mereka tak mendengar suara takbir dari pengeras suara masjid di sana-sini? Ini hari Lebaran. Seharusnya mereka berkumpul dengan istri dan anak di rumah sumpek masing-masing. Atau jika masih bujangan, boleh juga sesekali begadang di surau demi hari yang istimewa ini. Tapi, kadang-kadang, Lebaran memang memberikan ironi kepada sejumlah orang. Ketika seharusnya sebuah hati digenangi kebahagiaan, ada sebagian yang mendapati dirinya tenggelam dalam duka paling dalam. Dia, barangkali, menjadi salah seorang di antara mereka. Apakah sebaiknya berjalan kaki ke Janti? Tentu akan tiba kesiangan di rumah, yang separo dindingnya masih bertahan dengan papan kayu. Sepanjang perjalanan tentu akan berpapasan dengan rombongan jamaah shalat Ied. Tentu akan banyak mata memandangnya dengan raut muka bertanya-tanya. Siapakah lelaki yang melangkah gontai seperti tanpa tujuan itu? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin terucapkan dari wajah-wajah gembira, yang bersinar oleh cahaya kemenangan Ramadan. Sebuah pertanyaan yang lebih baik sembunyi dalam hati mereka, ketimbang menyinggung perasaan. Ini hari yang akan dipenuhi oleh hati orang-orang sabar, jiwa-jiwa yang memaafkan. Bukan untuk menyimpan tanda tanya. Maka ia memberanikan diri untuk menggugah seorang tukang becak yang kebetulan sedang menggeliat. Orang itu tampak kaget, serentak mengucek mata, dan memandang langit yang mulai semburat kuning. "Antarkan aku ke Janti." Penarik becak itu sedikit termangu. Memandang lurus ke wajah tirus. "Apakah Sampean merasa mengenalku, Mas?" Penarik becak itu tergesa menggeleng. Kemudian turun untuk berpindah tempat ke belakang dan mempersilakan calon penumpangnya naik. Udara pagi mengiringi kayuhan yang masih berat oleh beban kantuk. Seperti sebuah pena yang menggaris kertas kosong, becak itu meluncur dalam sunyi. Kesunyian yang sebentar lagi pecah oleh para jamaah dari banyak gang perumahan. Sepanjang jalan, lelaki di dalam becak itu berpikir: apakah ini keputusan yang benar? Mengunjungi Ibu untuk menyampaikan kegagalan? Ia gemetar bagai demam, dan ingatan tentang sebuah malam jahanam melintas begitu keras di benaknya. CAHAYA bolam lima belas watt sejenak terhalang bayang, seperti padam seketika. Membuat matanya mendadak terbuka. Menyadari ada seseorang masuk ke dalam kamarnya yang tak pernah dikunci, ia segera bangkit duduk. Waspada. "Maaf, aku mengganggu. Tapi ini sungguh penting. Aku menemukan Peni!" "Oh," lelaki tuan rumah itu mengusap matanya. Kata "Peni" terdengar sangat penting di telinganya. Ia meraih gelas di samping tempat tidur dan segera minum air putih yang tersisa. "Di mana?" "Maaf, jangan membuatmu kaget. Di sebuah klinik tersembunyi, tempat aborsi." "Astaghfirullah." "Apa yang harus aku lakukan?" Lelaki itu tampak tercenung. Seperti sedang mengumpulkan seluruh kesadaran, mengusir sisa-sisa mimpi berkarat. "Membawanya kemari," ujarnya dengan suara serak. Si pembawa berita tampak ragu-ragu. "Aku kakak kandungnya, Bung! Jadi aku berhak memanggilnya." "Jika dia tak mau?" "Paksa!" "Jika dia ternyata punya suami..." "Masya Allah, aku masih ingat kata-katamu. Dia kaulihat berganti-ganti lelaki. Kudengar darimu juga, dia pernah digerebek polisi saat pesta shabu-shabu, dan ditebus oleh seseorang..." Mereka berdua terdiam. Waktu merambat menuju saat makan sahur. Mereka menyadari, suara keras percakapan akan terdengar di bilik kiri dan kanan. "Mungkin yang terpenting adalah bahwa kamu tahu, dia lari dari rumahku, tapi tidak pulang ke Yogya untuk merawat Ibu yang sudah sepuh. Berbulan-bulan aku mencarinya, tanpa berani menyampaikan secara jujur kepada Ibu. Aku mencarinya!" "Tapi... dia telah membuatmu terusir dari jamaah di Al-Hidayah, mencoreng namamu sebagai pengurus majelis ta'lim..." "Itu tidak penting," Lelaki itu menahan napas. Sebersit rasa sedih melintas ngilu. "Adalah dosaku jika sampai Peni terseret ke jurang gelap. Itu sebabnya aku ingin menemuinya dalam bentuk apa pun." "Baik, aku akan mencobanya." "Atau...," Lelaki itu tampak berpikir. "Begitu kamu mendapatkannya, teleponlah aku. Biar aku yang mendatanginya." Sang tamu mengangguk lalu berpamitan. Suara televisi di bilik sebelah menyiarkan fragmen tematik Kampung Lele. Terdengar tawa penghuninya yang tergelitik oleh perdebatan antara Opie, Mali, dan Bolot... SUASANA begitu tegang saat ia tiba di klinik yang tersembunyi dalam gang. Perempuan dengan rambut masai memaksakan diri bangkit dari pembaringan, menyibak gorden pembatas dan bergegas keluar dari kamar. Langkahnya tertegun di pintu, tangannya memegang erat kusen kayu, menahan rasa sakit entah di mana. Dalam pandangan kabur, ia melihat lelaki yang sangat dikenalnya. Rasa takut membuat kepalanya berkunang-kunang. Lelaki itu memburunya. Dipeluknya perempuan yang limbung itu, jatuh memberat ke dadanya. Ia melihat matanya terkatup rapat, bulu matanya bergetar. Barangkali darah mengaliri betis, ke lantai, basah dan terasa lengket di telapak kaki yang terlepas dari sandal. "Peni...," Lelaki itu panik. Lalu tatapannya mengandung nyala marah kepada seorang suster yang menciut ketakutan. "Mana dokternya?!" Suster itu menggeleng dengan paras seputih kertas. "Panggil dia! Segera!" "Dia sudah pergi. Satu jam yang lalu." "Aku perlu namanya!" Ia memanggil temannya. "Hazri! Tolong catat, juga alamat praktiknya yang lain." Hazri merobek bungkus rokok, mencabut pulpen dari sakunya, dan memandang penuh tuntutan kepada suster yang merapat ke dinding. Terbata-bata bibir perempuan itu mengucapkan serangkai nama dan alamat. "Peni, bertahanlah," lelaki itu berbisik di telinga perempuan yang begitu lemas dalam pelukan. Lalu ia kembali meradang. "Suster, kamu pasti tahu cara memanggil ambulans. Di sini ada telepon, kan? Cepat, minta ambulans sekarang!" Hazri dengan sigap menuju ke meja yang memiliki kabel telepon. Ditelusuri jalur kabel itu dan menemukan pesawat telepon tersembunyi dalam laci. Ia mengangkat gagang telepon, dan ketika yakin ada nada aktif, diberikannya kepada suster. "Panggil ambulans!" Peni dibaringkan di kursi ruang tunggu yang berjajar tiga. Terkulai tak sadarkan diri. Darah masih mengalir dari sela-sela paha. Mencemaskan. Sekaligus membuat lelaki itu menyesal. Seharusnya ia tak perlu selekas itu datang, sehingga Peni masih punya waktu untuk memulihkan diri. Rasanya berjam-jam waktu berlalu sampai terdengar sirine ambulans. Dua orang lelaki membawa tempat tidur beroda memasuki gang. Hazri menolong sampai Peni naik ke dalam ambulans. Dan di dalam kabin dilakukan pertolongan pertama, termasuk memasang jarum infus ke punggung tangan Peni. Dari tabung plastik yang tergantung, tetes-tetes cairan mengalir melalui selang mungil. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, lelaki itu tidak bicara apa-apa. Mulutnya hanya mendesahkan doa. Berulang kali Hazri memegang lengannya, mencoba menenteramkan. Sesekali mengucapkan: "Aku berjanji akan mencari dokternya dan melaporkannya kepada polisi." Ia tertunduk. Jemari tangannya mengusap rambut dan kening Peni. Matanya basah. Hatinya terguncang. Apa yang harus ia katakan kepada ibunya? Saat membawa Peni ke Jakarta, ke rumah kontrakannya, tiga tahun yang lalu, ia berjanji: "Peni memang susah diatur. Di sini dia hanya akan merepotkan Ibu. Biar aku yang mengajarnya. Agar dia tahu bahwa hidup itu berat dan harus dilalui dengan perjuangan. Agar dia bisa mandiri." Tapi...apa yang kemudian terjadi? Lelaki itu menggeleng sendiri dengan rasa sakit, seolah ribuan duri menusuki setiap permukaan jantungnya. Ia hanya memperoleh kegagalan. Kini seluruh tenaga yang dicurahkan di tempat kerja, di pelabuhan yang panas dan keras, dan sisa waktunya yang dihabiskan untuk mencari keteduhan di lingkungan masjid, seperti sia-sia saja. Kenyataannya ia tak pernah tahu, apa yang dilakukan Peni sehari-hari selain menjadi pegawai administrasi di sebuah pabrik sepatu. Terutama setelah enam bulan yang lalu bersikeras pindah tempat tinggal, berpisah dengannya, demi mendekati tempat kerja. Namun tak berapa lama berita tak pantas itu merebak hingga ke wilayah Al-Hidayah. Selanjutnya sungguh perih untuk diceritakan. Hanya Hazri, sahabatnya yang masih dapat memahami perasaannya. Lamunannya membuyar saat ambulans berhenti di teras Unit Gawat Darurat. Semua berjalan lekas, mirip potongan film yang disunting sembarangan. Apa pun yang dia lakukan sekarang, termasuk menandatangani perjanjian penggantian darah dari PMI, seluruhnya demi Peni. TAPI Peni sudah mati. Tanpa percakapan panjang. Hanya permohonan maaf, juga kepada Ibu yang wajib disampaikan. Inilah amanat yang sedang ia bawa ke kampung halaman. Ia terisak perlahan. Ditahannya agar tak terdengar. Tapi dadanya penuh oleh benda padat bernama kesedihan. Atau mungkin rasa sesal. "Bangunlah," meski desis itu tertangkap lemah, sesungguhnya begitu tegar. Hanya seorang ibu yang dapat memadukan antara sakit hati dan kasih sayang dengan nyaris sempurna. Lelaki yang bersimpuh itu tak bergerak. Sejak keberangkatannya dari Jakarta, ia berharap ada hukuman untuknya. Bukan ucapan yang akan membuatnya merasa bersalah berkepanjangan. "Kamu telah melakukan sesuai dengan kemampuanmu," perempuan tua itu kembali bicara. Tidak gemetar seperti yang diharapkan. Kesunyian merambat. Sesungguhnya hanya tiga tahun dia tak pulang. Sebelumnya, hampir setiap tahun ia mengunjungi Ibu dan adik satu-satunya, sejak ayahnya meninggal. Tapi, tak pernah perasaannya terusik oleh indahnya masa kanak-kanak di kota ini. Kenangan itu kini memanggilnya. Panggilan yang begitu deras. Sederas air matanya. "Maafkan aku, Ibu," bisiknya tanpa berani mengangkat wajah. Ia merasa amat tenteram di kaki ibunya. Merasa sangat terlindungi dari segala marabahaya. Tercium harum aroma kasih sayang dari kaki ibunya, yang mengalahkan seluruh hawa busuk di luar sana. Dan ia bagai kembali ke masa kanak-kanak. "Ibu sudah memaafkan kamu sebelum kamu mengetuk pintu. Sekarang kamu ambil air wudlu, dan segera berangkat shalat Ied." Kedua tangan perempuan tua itu meraih bahu anak lelakinya. Ketika wajah tirus itu tengadah, dilihatnya penuh air mata. Perlahan ia mencium dahi lelaki itu, persis di antara kedua matanya..

GOLD FEVER, GOLD RUSH


GOLD FEVER, GOLD RUSH
Umar Kayam
 
Sekali-sekali di nDalem Keagengan ada rapat pleno komplit-plit. Biasanya diadakan pada hari-hari minggu pertama sesudah tanggak 1 Januari. Acaranya bisa macam-macam. Tapi intinya sedikit mengadakan retrospeksi tahun yang lalu, tapi yang lebih penting tahun baru ini mau diapakan.    Dalam laporan saya minggu yang lalu, saya sudah melaporkan bagaimana Mister Rigen tidak terlalu antusias memandang tahun kerbau ini. Dengan ogah-ogahan dan sedikit loyo beliau mengatakan “sembilan belas sembilan tuju ya sembilan belas sembilan tuju…” Tapi malam Minggu kemarin saya ingin mengetahui bukan hanya pendapat Mister Rigen, tapi juga istri dan anak-anaknya. Kami duduk lesehan di sekitar meja bundar, di atas permadani menghadap tivi yang untuk sementara kami matikan. Di meja hanya ada wedang teh dan sedikit gorengan tempe gembus dan balok, singkong goreng.          “Sembilan belas sembilan tuju ya sembilan belas sembilan tuju ya, Gen.”          “Ha enggih.”          “Tapi terusnya ya bagaimana, Pakne ? Matur, dong, matur.”          “Iya, Pake, matur.”          “Iya, Pake, matur.”    Mata Mister Rigen sedikit melotot kepada keluarganya. Maksudnya supaya aura wibawanya sedikit bersinar.          “Haisy, diem. Wong nggak tahu urusannya kok belum-belum sudah mendresel-dresel. Diem dulu.” kok totaliter begitu kamu! Mbok biar rakyat mendresel-dresel. Wong rakyat itu haknya rak Cuma mendresel-dresel. Kalau hak yang Cuma sedikit itu sudah kamu patahkan, gek punya apa lagi rakyat itu, Gen.”          “Heh, heh, heh, Bapak. Coba kalau saya yang mendresel-dresel, nanti rak Bapak juga meng-heisy-kan saya.”          “Yo wis, yo wis. Sekarang bagaimana kira-kira 1997 di negara kita ini. Kalau kamu menjawab cuma sembilan belas sembilan tuju, ya sembilan belas sembilan tuju, tak gibeng kowe!”          “He, he, he, Bapak. Ternyata tahun 1997 itu kemilau mencorong, Pak.”          “Elho, Pake !”          “Elho, Pake ”          “Elho, Pake ”          “Lha, lha, lha. Terus mau mendresel lagi, to, kalian ?”          “Iyo wis, Mencorong. Ceritakan penglihatanmu Gen.”          “Ha, ya mencorong, Pak. Wong dalam penglihatan saya Indonesia itu bakalnya jadi negara emas.”          “Elho? Negara emas bagaimana ? Mas Rigen apa ?”          “Ayak, Bapak! Ya emas betul, Pak. Apa Bapak tidak membaca koran apa? Kalimantan Timur itu bakalnya jadi negara emas di dunia, Pak! Hebat, nggih, Pak?”          “Wwe-eh, elok! Terus kamu mau apa?”          “Ya, nderek bingah, Pak. Ikut senang, ikut bangga.”          “Sudah cuma itu?”          “Lho, saya itu juga membayangkan kalau saya ikut-ikutan cari emas di sana!”          “Iyo, Pakne?”          “Iyo, Pakne?”          “Iyo, Pakne?”          “Terus nanti saya jadi kaya banget. Dapat emas sak-tekruk, sak-hohah. Kamu mau anting, kalung, gelang emas sak-berapa, Bune? Dan Beni, Tolo-tolo, mau apa kamu? Sepeda Federal baru, sepeda motor seperti punya Mandra?”    Saya diam, ternganga, mendengar Mister Rigen yang tiba-tiba beringas kejangkitan gold fever, demam emas. Lebih dahsyat lagi kedengarannya dia kepingin pergi ke Kalimantan mendulang emas, ikut-ikutan arus gold-rush. Apa dia juga membayangkan itu semua seperti di film-film Holywood itu? Wah, berabe itu!”          “Atau kalau kita sudah kaya betul, kita pindah sekalian ke sana. Tambang emas itu mesti kita tunggui bersama-sama Bune, Tole-tole!”          “Cuma kita Pak, yang nunggu tambang emas kita?”          “Yo ora, too, bego! Bapak mesti punya satpam sak-batalyon yang jaga.”          “Anjing herder, Pak, anjing herder?”          “Ooh, apesnya tujuh ekor, Le.”          “Huk, huk, huk, huk!”          “Heisy, ora usah melo njegog! Nggak usah ikutan menyalak, kamu!”    Saya masih terkesima melihat dan mendengar Mister Rigen & Family pada kerasukan demit emas Kalimantan.          “Lha, terus simbah-simbah di Pracimantoro dan Jatisrono, priye, Pak? Masak ya ditinggal?”          “Iyo, lho, Pak  Terus bagaimana mereka? Apa di Kalimantan itu ada juga sawah dan tegalan seperti di Jawa?” “Ada kerbau, sapi dan kambing, Pak?”    Mereka tiba-tiba semua terdiam. Mungkin membayangkan desa kedua orang-tuanya beserta tegalan dan ternak mereka. Mungkin tiba-tiba mereka sadar akan jauhnya Kalimantan dan belum menentunya tambang emas itu.    Akan saya sendiri, tiba-tiba membayangkan bule-bule Kanada yang pada ikut punya konsesi tambang emas itu. Dan juga para pemilik-pemilik konglomerat Indonesia yang ikut petentengan bersama mereka. Pada wira-wiri, pake topi-topi lebar, dan menenteng  ganco, sekop dan entah apa lagi.          “Wah, Pak, Bune, tole kabeh. Yen tak pikir-pikir, kita sak-gotrah itu sudah kejauhan mimpi. Jebulnya, yang paling baik itu ya di sini saja. Nderek Pak Ageng. Nggih Pak, nggih?”    Saya cuma mantuk-mantuk lega sembari bilang.          “Ha iyo begitu, too. Iyo, iyo, iyoo..”    Malam itu kami rame-rame makan bakmi godog Jumpa Pers…   7 Januari 1997 Umar Kayam SATRIO PININGIT ING KAMPUNG PINGIT Mangan Ora Mangan Kumpul-4 (Kumpulan kolom harian Kedaulatan Rakyat,Yogyakarta, 7 Januari 1997 s.d. 28 Oktober 1999)

Makna Cinta Kahlil Gibran


Bagi Gibran cinta mengarahkan manusia pada Allah, dan karena cinta pula Allah mempertemukan diri-Nya kepada manusia. Lantaran itu dalam pandangan Gibran cinta sesungguhnya adalah cinta atas nama Allah dan cinta kepada Allah itu sendiri, karena segala sesuatu adalah pantulan dan imanensi dari Sang Mahacinta. Cinta kepada yang lain selain Allah, tetapi atas nama dan di dasarkan pada Allah akan membawa manusia dan alam semesta kepada persekutuan dengan Allah. Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul Cinta Keindahan Kesunyian, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74)
"Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu."
Gibran tidak hanya menekankan cinta sebagai dasar hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi lebih jauh dari itu melalui dan dalam cinta manusia diarahkan, dituntun sampai pada tahap akhirnya hidup dalam persekutuan dengan Allah. Cinta melampaui keterbatasan manusia, menembus ruang fisik dan berjumpa dengan Allah. Dengan demikian cinta ditempatkan Gibran sebagai bentuk hubungan terpenting dan tertinggi.
Agar sampai pada persekutuan dengan Allah melalui Cinta, bagi Gibran cinta itu harus berangkat dari peran manusia yang kongkret dalam kodrat kemanusiaan dan potensi-potensinya yang lebih jauh dan luas. Dalam Triloginya Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Suara Sang Guru (Yogyakarta, Pustaka Sastra, 2004, hal 212) dengan jelas Gibran menggambarkan tentang hal tersebut.
"Kalian orang-orang beriman yang dapat menemukan adanya suatu dasar untuk kemajuan seluruh umat manusia dalam sifat baik manusia, dan bahwa dalam diri manusia terdapat tangga kesempurnaan yang menuju Roh Kudus? Jika kalian dapat berlaku demikian, maka kalian akan seperti bunga bakung di taman kebenaran yang abadi harumnya baik tersimpan dihirup manusia atau tersapu oleh angin lalu."
Hal senada dikatakan Gibran dalamSemua Karena Cinta (Yogyakarta, Narasi, 2005, hal. 54)
"Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga."
Sejalan dengan pandangan mistik agama samawi, bagi Gibran persatuan Allah dan manusia tidak hanya terjadi dalam cinta yang meluap-luap dan berkobar-kobar kepada Allah dalam ekstase. Gibran lebih memandang pengalaman mistik dari aspek etika. Pengalaman mistik dalam pandangan Gibran tidak berarti melarikan diri dari tugas dan tanggungjawab hidup di dunia ini, dengan menyingkir untuk masuk dalam ekstase kebahagiaan untuk diri sendiri saja, membelakangi dunia serta melupakan segala penderitaan hidup diri sendiri maupun orang lain. Baginya mistisisme yang hanya mementingkan diri sendiri adalah egoisme alias pengingkaran terhadap kodrat manusia. Gibran menekankan bahwa relasi cinta antara Allah dan manusia baru akan menjadi nyata bila melimpah ke dunia dalam wujud cinta kepada sesama. Ini harus terjadi bukan dengan kata-kata, melainkan dalam belas kasihan dan kurban diri.
Wujud tertinggi dari cinta bagi Gibran adalah terlibat atau melibatkan diri dalam dunia; dan bentuk keterlibatan itu dimaknai oleh Gibran dengan kerja. Kerja atau pekerjaan adalah satu-satunya wujud relasi manusia dengan Allah dalam dunia, sebagai sebuah bentuk kurban diri yang kongkret. Kerja yang dimaksudkan Gibran tidak hanya melibatkan daya fisik tetapi juga pikiran dan perasaan manusia. Melalui kerja manusia dapat mewujudkan dirinya sebagai individu. Dengan bekerja manusia dapat melebur dalam persatuan dengan sesama, dan dengan bekerja pula manusia dapat menjumpai Allah di dalam alam semesta. Hal ini dilukiskan Gibran dalam Triloginya (hal.28-29)
"...aku berkata bahwa hidup memang kegelapan, jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan segala pengetahuan adalah hampa, jika tidak diikuti pekerjaan. Dan setiap pekerjaan akan sia-sia, jika tidak disertai cinta. Bekerja dengan rasa cinta, berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri-diri orang lain - dan kepada Allah."
Gibran meyakini bahwa kerja merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia. Latar belakang pemikirannya adalah karena manusia ialah citra Allah, juga karena perintah yang diterima dari Penciptanya untuk menaklukkan dan menguasai dunia. Bagi Gibran semua perkerjaan manusia harus berorientasi pada cinta. Karena kerja yang berlandaskan pada cinta, maka melalui kerja atau pekerjaan manusia tidak hanya mengubah kodrat, tetapi juga mewujudkan dirinya sendiri dan membangun masyarakat keluarga dan bangsa.
Bagi Gibran cinta tidak punya makna selain mewujudkan maknanya sendiri. Cinta tidak memberikan apa-apa pada manusia, kecuali keseluruhan dirinya, dan cintapun tidak mengambil apa-apa dari manusia, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki atau dimiliki, karena telah cukup untuk cinta. Namun jika manusia mencintai dengan hasrat dan keinginan, maka manusia harus meluluhkan diri, mengalir di dalamnya, dan terlibat. Hanya saja dalam kehidupan manusia cinta yang sempurna tidak dapat ditemukan. Kehidupan 
adalah tabir kegelapan, berkerudung dan bercadar. Melalui dan dalam cinta manusia 
senantiasa digiatkan untuk melakukan pencarian makna kehidupan dengan mengamalkan 
cinta kasih, tetapi kesempurnaan cinta hanya ada dan dimiliki oleh Allah.






"Apabila kalian mencinta, janganlah berkata: "Allah ada di dalam hatiku" tetapi sebaliknya kalian merasa: "Aku berada di dalam Allah" Dan jangan kalian mengira bahwa kalian dapat menentukan arah cinta, karena cinta apabila telah menjatuhkan pilihan pada kalian, dialah yang akan menentukan perjalanan hidup cinta." (Trilogi hal.14)
Dalam kehidupan, manusia tidak mampu mengukur kualitas cinta, sebab kepenuhan cinta sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Allah adalah awal dan akhir kehidupan, Allah adalah cinta, maka hanya dalam dan melalui cinta manusia berjalan dan mengarahkan dirinya kepada Allah.