Kau Tau?...

Kau tahu apa yang menyenangkan? Saat perempuan-perempuan berpikir aku pernah mencintai mereka. Dan tebak apa yang menyakitkan? Mencintaimu.

Hai Aku...

Hai orang yang gagal jatuh cinta, sedang apa kau? Ah, senyummu! Kukenal senyum palsu itu! Aku juga pernah melakukannya saat bersamamu.

Hanya Kamu

Aku sayang kamu sejak lama, tapi kini aku punya mata yang baru. Mata yang tertutup bagi segala keindahan perempuan yang bukan kamu.

Beda Cerita

Beda ceritanya, antara kamu sudah mengisi hati seseorang atau kamu hanya sedang membuat seseorang sibuk hingga tak sempat menengok hatinya.

Bangga Menjadi Diri Sendiri

Kamu harus bangga bahwa kamu adalah kamu. Sebab mungkin tidak mudah bagi orang lain bila menjadi kamu. :)

Minggu, 08 Mei 2011

Definisi Tuhan


Demi untuk memudahkan kaji, sebaiknya kita mulai dengan memberikan definisi tuhan, supaya pengertian kita sama. Tentu definisi yang paling tepat ialah yang diambil dari pemahaman akan pengertian tuhan menurut yang dijabarkan di dalam al-Qur'an. Untuk itu, perlu kita sadari dua kenyataan terpenting, yang pasti akan kita peroleh apabila kita kaji dengan sungguh-sungguh kandungan al-Qur'an.
Kenyataan pertama ialah, di dalam al-Qur'an kita tidak pernah menemukan suatu ayat pun yang membicarakan atheist atau atheisme. Suatu hal yang kiranya sangat penting kita fikirkan mengingat kenyataan di zaman modern ini jutaan manusia telah menyatakan diri mereka sebagai "atheist" atau "orang yang tidak bertuhan". Setiap orang yang berideologi komunis mengaku, bahwa mereka tidak bertuhan (atheist). Mendiang Chou Eng Lai, perdana menteri RRC, pernah berpidato di alun-alun Bandung, ketika ia berkunjung ke sana semasa konperensi Asia-Afrika dahulu (1955) dengan bangga mengatakan, bahwa mereka sebagai komunis dengan sendirinya tidak bertuhan. Kalau kita jumlahkan rakyat RRC dengan Rusia ditambah dengan semua negara satelit-satelitnya yang menganut faham komunis, maka kira-kira sepertiga penduduk dunia sekarang ini adalah atheist, jika yang dikatakan bekas perdana menteri Cina itu benar.
Sungguh suatu tanda tanya besar bagi setiap Muslim, yang yakin akan kesempurnaan kitab sucinya. Mungkinkah Allah telah "lupa" menyebutkan kenyataan ini, sehingga al-Qur'an tidak menyebut sama sekali akan atheist dan atheisme ini. Akibatnya, ialah kamus bahasa 'Arab sama sekali tidak mengenal istilah atheist itu. Memang, orang-orang 'Arab modern sekarang ini mempergunakan perkataan "mulhid" untuk "atheist", dan "ilhad" untuk atheisme, namun kalau kita selidiki di dalam al-Qur'an perkataan "mulhid dan ilhad" artinya sangat jauh dari "atheist dan atheisme". Perkataan "ilhad" berasal dari kata "lahada" yang artinya "menggali lobang atau terjerumus ke dalam lobang galian". Ingat, dalam bahasa Indonesia pun kita mengenal "liang lahad", yang berasal dari kata Arab "lahada" ini. "Mulhid" dalam al-Qur'an artinya kira-kira "orang yang terjerumus di dalam kesesatan", jadi tidak ada hubungannya dengan arti harfiah dari atheist.
Kenyataan kedua ialah, perkataan "ilah", yang selalu diterjemahkan "tuhan". Di dalam al-Qur'an dipakai untuk menyatakan berbagai objek, yang dibesarkan atau dipentingkan manusia. Misalnya, di dalam ayat Q. 45:23 dan Q.25:43.
"Tidakkah kamu perhatikan betapa manusia meng-ilahkan keinginan-keinginan pribadi mereka .?"
Dalam ayat Q. 28:38, perkataan "ilah" dipakai olch Fir'aun untuk dirinya sendiri:
"Dan Fir'aun berkata: 'Wahai para pembesar, aku tidak menyangka, bahwa kalian masih punya ilah selain diriku'."
Dari contoh ayat-ayat tersebut di atas, ternyata perkataan "ilah" bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Fir'aun atau raja, atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Dari dua kenyataan di atas dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut: Tidak adanya perkataan atheist dan atheisme di dalam al-Qur'an membuktikan, bahwa tidak mungkin manusia itu tidak bertuhan.
Faham atheisme adalah omong kosong, tidak logis, dan tidak masuk 'akal. Menurut logika al-Qur'an: setiap orang mesti bertuhan. Alternatip yang mungkin ialah bertuhan satu (monotheist) atau bertuhan banyak (polytheist = bcrluhan lebih dari satu). Oleh karena itu, perkataan "ilah" di dalam al-Qur'an juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (muthanna: ilaahaini), dan banyak (jama': aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan tuntas akan masalah ini dapatlah kita buat definisi "tuhan" atau "ilah" yang tepat, berdasarkan logika al-Qur'an sebagai berikut:
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai (didominir) olehnya (sesuatu itu).
Perkataan "dipentingkan" hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi al ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo'a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (Dr. Yusuf Qardawi: "Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid) terjemahan H. Abd. Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal. 26 - 27).
Berdasarkan definisi ini dapatlah difahami, bahwa tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheist, tidak mungkin tidak bertuhan. Berdasarkan logika al-Qur'an bagi setiap manusia mesti ada sesuatu yang dipcrtuhankannya. Dengan demikian, maka orang-orang komunis itu pun pada hakikatnya bertuhan juga. Adapun tuhan mereka ialah ideology atau angan-angan (Utopia) mereka, yaitu terciptanya "masyarakat komunis, di mana setiap orang boleh bekerja menurut kemampuan masing-masing dan mendapatkan penghasilan sesuai dengan kebutuhan masing-masing", sebagai yang dirumuskan dengan jelas oleh pemimpin mereka, Lenin, di dalam manifesto communisme-nya: "From everyone according to his ability, and for everyone according to his need." Ungkapan inilah yang diterjemahkan oleh para pemimpin mendiang PKI (Partai Komunis Indonesia) dahulu dengan slogan: "sama rata sama rasa". Orang komunis sebenarnya memimpikan terciptanya suatu masyarakat bertata ekononii yang "adil sempurna".
Impian seperti ini tiada bedanya dengan impian setiap orang Kristen yang taat akan apa yang mereka namakan "Kerajaan Allah" atau "Kingdom of God". Oleh karena itu, Toynbee pernah mengatakan, bahwa komunisme itu tiada lain melainkan kekristenan yang dipalsukan, suatu lembaran sobekan Bible, yang diperlakukan seolah-olah seluruh kitab suci itu, yang kemudian dijadikan senjata untuk menembaki kebudayaan Kristen (Barat). Dalam bahasa Toynbee sendiri:
"You may equally well call Marxism a Christian heresy, a leaf torn out of the book of Christianity and treated as if it were the whole Gospel. The Russians have taken up this western heretical religion, transformed it into something of their own, and are now shooting at us. This is the first shot in the anti-Western counter-offensive ". (Civilization on Trial, p. 221 )
Sebahagian orang ada yang menganggap dirinya sedemikiran pintarnya, sehingga ia merasa tak perlu bcrtuhan. Mereka mengatakan, bahwa mereka tidak perlu kepada sesuatu yang tak dapat dibuktikan. Merekapun menolak jika dikatakan atheist. Mereka menamakan diri mereka agnostic. Salah seorang tokoh orang-orang agnostic ini yang terkemuka ialah mendiang Bertrand Russel, ahli falsafah dari Inggris, yang pernah diundang dengan hormatnya untuk memberikan kuliah pada beberapa universitas di Amerika Serikat di awal tahun empat-puluhan. Kuliah-kuliah yang disampaikannya telah sempat menimbulkan kemarahan tokoh-tokoh Kristen Amerika, terutama Bishop Manning dari Gereja Episcopal, karena dianggap "sangat bertentangan dengan agama dan nilai-nilai moral". Memang Russel berpendirian, bahwa "semua agama yang ada didunia ini Budha, Hindu, Kristen, Islam, dan Komunisme " adalah palsu dan berbahaya" ("I think all the great religions of the world --Buddhism, Hinduism, Christianity, Islam, and Communism-- both untrue and harmfull"), karena itu ia menentang semua agama.
Sangat menarik perhatian kita ialah, sama dengan Toynbee, Russel pun menganggap komunisme sebagai agama. Kalau kita baca bukunya yang terkenal: "Why I Am Not a Christian" (Mengapa Saya Bukan Seorang Kristen), maka dapat kita simpulkan, bahwa ia tokh bertuhan juga. Russel, pada hakikatnya, telah mempertuhankan 'aqalnya. Selama ia bisa konsisten, sebenarnya masih lumayan, terutama jika dibandingkan dengan orang yang bertuhankan hawa nafsunya. Tetapi, mungkinkah seseorang senantiasa consistent .?
Berdasarkan pengertian "ilah" atau tuhan yang telah diberikan definisinya di atas, maka dapat pula secara logika dibuktikan, bahwa tidak ada manusia yang mampu berfikir logis, yang tidak punya tuhan. Bahkan bisa dibuktikan, bahwa tidak mungkin bagi manusia tidak punya sesuatu kepercayaan. Apabila seseorang mengatakan: "saya tidak percaya kepada sesuatu apa pun," maka ia akan dihadapkan kepada suatu kontradiksi, karena pernyataan tersebut mengandung pembatalan diri. Jika benar ia tak pcrcaya kepada sesuatu apapun, maka kalimat itupun ia harus sangkal kebenarannya. Jika tidak, maka terbukti ia tokh masih punya satu kepercayaan, yaitu kebenaran pernyataan tersebut, maka sikap itu bertentangan pula dengan arti kalimat itu. Jadi kalimat itu tidak logis, dan tidak mungkin terucapkan oleh seseorang yang mampu dan mau berfikir logis.

Peranan Akal dan Rasa


Rasa takut maupun rasa hormat dan kagum serta rasa ketergantungan yang berlebih-lebihan ini akan mudah dikontrol, bahkan bisa dicegah, jika manusia mau dan mampu memanfa'atkan dua fasilitas lain yang hanya dikaruniakan oleh Allah sebagai ni'mat-Nya yang tertinggi kepada manusia. Oleh karena itu kedua fasilitas ini sangatlah penting artinya bagi manusia. Keduanya dikaruniakan Allah kepada manusia dengan percuma, justru sebagai penunjang karunia-Nya yang berupa kemerdekaan tadi.
Kedua fasililas ini ialah 'akal dan rasa. Dengan 'akal ini manusia bisa menimbang, menganalisa, memahami, dan akhirnya membuat atau menentukan pilihan yang paling baik untuknya. Sedangkan dengan fasilitas rasa, manusia akan mampu meresapkan dan/atau menciptakan keindahan, menghayati dan/atau menggubah kesenian. Dengan mengembangkan ni'mat rasa, manusia akhirnya bisa menjadi pencinta kebenaran, keindahan atau kesucian, dan keadilan; bukan sekedar menjadi penuntut kebenaran (hak) dan ke'adilan.
Ni'mat rasa, jika berkembang subur, juga akan menjadikan manusia mampu menghargai (appreciate) keseimbangan dan keharmonian, bahkan akan meningkatkan watak manusia yang sungguh-sungguh mengembangkannya (baca: mensyukurinya) menjadi manusia pengasih, penyayang, pencinta yang senantiasa rindu dan terikat (committed) kepada kebenaran, keseimbangan, keserasian dan ke'adilan. Kerinduan dan keterikatan (commitment) kepada kebenaran dan ke'adilan ini bisa sedemikian rupa kuatnya, sehingga ia siap berkorban, kalau perlu, untuk memperjuangkan dan mempertahankannya. Inilah pula landasan daripada iman, serta penyebab utama tumbuhnya watak khusyu' atau 'asyik (rindu) akan "Kebenaran Mutlak" (Al-Haq).
Oleh karena itu, kedua ni'mat Allah yang paling penting ini wajib disyukuri manusia. Cara mensyukuri keduanya ialah dengan mempergunakan dan mengembangkan kemampuan (potensi) keduanya secara maksimal dan seimbang, dengan mengasah keduanya sampai menjadi alat yang paling ampuh di dalam mempertahankan kemerdekaan tadi. Manusia yang ber'akal cerdas dan sarat 'ilmu serta berwatak cinta akan ke'adilan dan kebenaran (Ulul 'ilmi Qaaiman bil-Qisthi, Q.3:18), pasti akan menolak mentah-mentah setiap macam bentuk perbudakan dan penindasan, walaupun bagaimana halusnya bentuk perbudakan itu, karena ia hanya kenal tunduk kepada Yang Mutlak.
Mensyukuri ni'mat 'akal berarti mengasahnya atau melatihnya untuk memecahkan masalah-masalah 'ilmu pengetahuan semahir-mahirnya. Mengasah rasa ialah dengan melatihnya menghadapi tantangan-tantangan hidup, mendidiknya menjadi cinta, bahkan rindu akan kebenaran dan ke'adilan, sehingga ia berani dan siap berkorban, jika perlu, apabila ia dihadapkan kepada kenyataan, bahwa kebenaran dan ke'adilan itu sedang terancam atau diperkosa oleh siapapun. Masyarakat yang anggota-anggotanya cerdas, ber'ilmu dan terdidik cinta akan kebenaran dan ke'adilan tidak akan pernah bersikap "nrimo ". Di kalangan masyarakat yang ber'ilmu dan berpendidikan tinggi, manusia-manusia yang kejangkitan penyakit iblis --yang berwatak "kibir" atau sombong-tadi biasanya tidak mendapat pasaran.
Kepada manusia yang berkwalitas cerdas, ber'ilmu dan terdidik cinta dan merasa terikat (committed) akan kebenaran dan ke'adilan inilah, ni'mat Allah yang tertinggi, yakni hidayah iman akan dianugerahkan. Memang, ni'mat hidayah iman, dalam arti kata yang sesungguhnya akan diberikan hanya kepada manusia yang berkwalitas tersebut. Tanpa kwalitas seperti itu Allah tidak pernah menjamin akan mengkaruniakannya. Sedangkan seorang jauhari tidak akan memasangkan intan di atas cincin tembaga, konon pula Allah Yang Maha 'Arif. Inilah yang dimaksud dengan firman-Nya: "Barang siapa ditunjuki Allah, ia mendapat petunjuk (hidayah); barangsiapa yang sesat mereka menderita kerugian." (Q. 7:178).
Ayat ini membuktikan, bahwa nikmat hidayah (iman dan 'ilmu) tidak pernah diberikan Allah secara percuma (gratis). Perbedaan nikmat iman dan 'ilmu dengan nikmat kehidupan dan kemerdekaan, justru dalam hal ini. Nikmat kehidupan dan kemerdekaan diberikan percuma oleh Allah kepada setiap orang, bahkan prasarana dan alat bantu untuk mempertahankan dan memperkembangkannya diberikan Allah dengan percuma pula. Prasarana untuk menunjang kehidupan ini ialah instinct dan nafsu. Tanpa kedua penunjang ini manusia tidak akan dapat mempertahankan hidupnya, oleh karena itu nikmat instinct dan nafsu diberikan Allah gratis dan keduanya berkembang bersama dan sebanding dengan tingkat kehidupan itu.
Nikmat kemerdekaan, sebagaimana yang telah ditrangkan di atas, ditunjang oleh nikmat akal dan rasa, yang juga dikaruniakan Allah gratis. Namun, jika nikmat akal dan rasa ini dikembangkan (disyukuri) secara sungguh-sungguh dan maksimal, maka keduanya akan bisa menjadi sebab datangnya anugerah Allah yang paling tinggi itu, yang hanya dikaruniakan Allah kepada manusia-manusia terpilih, yaitu orang-orang yang berjuang (berjihad) memanfaatkan keduanya secara optimal, itulah yang dimaksud dengan firman Allah: "Mereka yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami pasti akan Kami tunjuki (beri hidayah) jalan-jalan Kami; Sungguh, Allah bersama orang yang berbuat baik." (Q. 29:69)
Jadi untuk mendapatkan petunjuk Allah yang berupa iman dan 'ilmu secara pasti, manusia perlu berjuang (berjihad), dan karena itu pula perjuangan untuk mencari hidayah ('iman dan 'ilmu), yang jika telah diperoleh akan mampu mempertahankan dan meningkatkan nilai kehidupan dan kemerdekaan, adalah bentuk perjuangan yang dinilai paling tinggi oleh Allah, sehingga orang yang sampai gugur dalam perjuangan ini akan diangkat langsung ke dalam surga Jannatunna'im. Perjuangan seperti ini dinamakan perjuangan menempuh jalan Allah (sabili-Llah) dan mereka yang gugur tidak boleh disebutkan mati, karena pada hakikatnya mereka itu tetap hidup sebagai saksi-saksi kemanusiaan (syuhada). Bukanlah nilai kemanusiaan itu tidak akan pernah mati.
Bagi mereka yang enggan berjuang, Allah tidak pernah menjamin akan menganugerahi mereka hidayah iman dan 'ilmu. Yang dimaksud dengan: "barangsiapa yang sesat" di dalam ayat (Q.7:178) di atas, tiada lain ialah mereka yang tidak dengan sungguh-sungguh mensyukuri (baca: mengembangkan secara maksimal) potensi akal dan rasa mereka. Padahal anugerah yang lain, yang lebih rendah nilainya, misalnya rezeki, tetap dijamin Allah bagi setiap makhluk-Nya yang sudah diberinya kehidupan, bahkan binatang sekalipun. Inilah yang dimaksudkan-Nya dengan ayat-Nya:
"Betapa banyaknya binatang yang tiada membawa bekal, namun Allah menjamin rezeki mereka serta rezeki kamu. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (Q.29:60) 
Ayat yang hampir sama maksudnya ialah (Q. 11:6), juga menjamin disediakannya rezeki bagi setiap yang diberi-Nya kehidupan.
"Tiada yang melata di muka bumi, melainkan tanggungan Allah rezekinya." 
Oleh karena itu, orang yang beriman akan ayat-ayat ini pasti akan menjadi manusia yang berwatak optimis di dalam menghadapi kebutuhan materielnya; ia tidak akan pernah terlalu risau akan rezeki, yang diyakininya pasti akan diperolehnya selama hayat dikandung badan. Yang menjadi fokus perhatiannya di dalam menjalani hidup di dunia ini, ialah bagaimana mempertahankan kemerdekaannya sebagai manusia yang punya harga diri serta bagaimana mempertebal imannya, sehingga betul-betul menjadi manusia bertaqwa yang diredhai Allah Maha Pencipta yang dikasihinya.
Ia merasa tidak perlu menuntut hak-hak istimewa terhadap masyarakat sekitarnya, karena ia yakin bahwa manusia ini sama dan semuanya hamba Allah, dan ia merasa tidak perlu berendah diri terhadap orang lain, karena perbedaan derajat antara manusia di sisi Allah hanyalah diukur oleh mutu ketaqwaan seseorang terhadap Allah SWT. Oleh karena itu pula manusia yang berwatak begini tidak akan pernah bersemangat "nrimo" seperti diterangkan di atas, konon pula berwatak budak terhadap orang lain.
Sebaliknya, manusia seperti ini dalam kesempatan yang bagaimanapun tidak akan menjadi seorang yang otoriter, konon pula seorang tiran, karena ia yakin, bahwa tirani berarti memperkosa hak asasi manusia lain sesama hamba Allah SWT. Dengan kata lain ia yakin, bahwa otoriterisme dan tirani bertentangan dengan kemanusiaan yang 'adil dan beradab.

TAWHID dan KEMERDEKAAN



Mentawhidkan Allah adalah ajaran pokok yang disampaikan oleh setiap Nabi dan Rasul, yang diutus oleh Allah sejak awal sejarah kemanusiaan. Namun sejarah kemanusiaan penuh dengan kegagalan-kegagalan manusia dalam menghayati ajaran tawhid ini, sehingga setiap kali ajaran yang murni dan exact ini perlu diperbaharui atau dikoreksi oleh Rasul-rasil berikutnya sesudah mengalami beberapa distorsi yang membahayakan nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai kemanusiaan yang paling utama ialah kemerdekaan. Kemerdekaanlah satu-satunya nilai yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Tanpa kemerdekaan manusia sebenarnya tidak mungkin menjalani hidupnya sebagai manusia. Dengan perkataan lain, tanpa kemerdekaan pada hakikatnya manusia berhenti jadi manusia atau tidak lagi berfungsi sebagai manusia. Oleh karena itu, harga diri setiap manusia justru diukur dengan derajat kemerdekaan yang bisa dihayati dan dipertahankan manusia itu.
Secara individu setiap manusia dilahirkan merdeka. Namun dalam mempertahankan hidupnya manusia pada tingkat awal dari kehidupannya itu terpaksa tergantung kepada manusia lain, yaitu ibunya. Akan tetapi, setiap ibu telah dianugerahi Allah SWT suatu rasa kasih sayang kepada anak yang dilahirkannya sedemikian sempurnanya, sehingga setingkat hanya di bawah sifat Rahman (kasih sayang) daripada Allah sendiri.
Oleh karena kasih sayang ibu yang ditujukan kepada anak-anaknya ini demikian murninya (ikhlash) dan tanpa pamrih sama sekali, maka nilai kemerdekaan si anak tidak akan tercemar oleh sifat ketergantungannya kepada kasih sayang ibu pada awal hidupnya itu. Kasih sayang ibu ini ditopang pula oleh kasih sayang ayah yang tingkat kesempurnaannya setingkat di bawah kasih sayang ibu.
Dengan landasan kasih sayang yang tulus antara sesama anggota keluarga ini, seorang anak akan mulai menjalani hidupnya di tengah-tengah pergaulan sesama manusia. Oleh karena itu pula maka durhaka kepada ibu adalah merupakan dosa yang terberat sesudah syirik, dan tak akan diampunkan Allah selama ibu sendiri tidak mengampunkannya.
Oleh karena kehidupan antar sesama manusia ini senantiasa merupakan proses memberi-dan-menerima (give-and-take) secara terus menerus (langgeng), kehidupan di tengah-tengah keluarga haruslah bisa merupakan persiapan yang cukup untuk menghantarkan seseorang agar dapat hidup ke tengah pergaulan masyarakat dalam proses memberi-dan-menerima secara seimbang.
Apabila ketidak-seimbangan terjadi --ia lebih banyak menerima atau lebih banyak memberi-- maka dengan sendirinya ia dihadapkan dengan suatu tantangan yang menentukan nilai kemerdekaannya, yang akan sebanding dengan nilai dirinya. Kalau ia memberikan response terhadap ketidak-seimbangan ini sedemikian, sehingga ia mengorbankan nilai kemerdekaannya, misalnya menjadi tergantung kepada pihak yang telah terlalu banyak memberi kepadanya, maka harga dirinya sebagai manusia dengan sendirinya jatuh atau sedikitnya menurun. Seberapa jauh jatuhnya ini sebanding dengan seberapa jauh nilai kemerdekaan yang telah dikorbankannya.
Sebaliknya jika dalam memberikan response tadi ia sampai merugikan orang lain berarti ia telah merampas nilai kemanusiaan (kemerdekaan) orang itu, sehingga ia dengan sendirinya telah menobatkan dirinya menjadi penindas hak orang lain itu. Kedua hal yang tak seimbang ini dikutuk oleh Allah, karena berarti manusia yang bersangkutan telah tidak mensyukuri nikmat Allah yang paling utama, yaitu kemerdekaan yang wajib dipertahankan dengan segala pengorbanan yang perlu untuk itu. Oleh karena itu, pergaulan hidup yang seimbang (harmoni) senantiasa menjadi dambaan setiap manusia yang Islam.
Namun dalam kenyataannya, lebih sering terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini, proses pergaulan yang tidak seimbang, sehingga sejak dahulu telah tercipta dalam sejarah kemanusiaan kehidupan masyarakat yang tindas menindas, hisap menghisap, peras memeras dengan segala taktik dan tehnik yang bersangkutan dengan itu. Semua ini merupakan bentuk-bentuk dari proses memberi-dan-menerima yang tak seimbang.
Dapat dipastikan pula, bahwa terjadinya kelas-kelas dan tingkat-tingkat kebangsawanan di dalam masyarakat manusia senantiasa disebabkan oleh mengalahnya kemanusiaan terhadap rencana iblis yang suka menganggap dirinya lebih baik dan lebih mulia dari yang lain, sebagaimana dijelaskan di atas.
Mungkin mengalahnya kebanyakan manusia, anggota sesuatu masyarakat, terhadap tuntutan sebahagian kecil dari anggotanya akan hak-hak istimewa ini pada mulanya disebabkan oleh rasa takut kepada kelompok yang menuntut, karena kegagahan atau kekuasaan para penuntut ini.
Mungkin pula oleh karena kekaguman masyarakat yang agak berlebih-lebihan kepada kelompok penuntut ini disebabkan jasa-jasa mereka dalam menyelamatkan bangsa atau tanah air ketika berada dalam keadaan bahaya, dan sebagainya. Bukankah yang menjadi idola setiap bangsa di dunia ini biasanya para pahlawan bagi bangsa yang bersangkutan, baik pahlawan di medan perang atau pahlawan di bidang-bidang lain, yang disangka sangat menentukan nasib dan "nama baik" bangsa tersebut?
Iblis, dalam hal ini, hanya tinggal memperbesar saja rasa kekaguman dan penghormatan ini sedemikian, sehingga menjadi "penyembahan". Penulis sengaja memberi tanda kutip pada kata penyembahan di sini, karena ma'na "penyembahan" di sini tidaklah mesti harfiah: rasa hormat dan kagum, yang diiringi sikap patuh-tanpa-tanya, misalnya, termasuk juga dalam arti "penyembahan" ini. Sikap patuh karena kelebihan rasa takut, bahkan rasa ketergantungan kepada sesuatu atau seseorang pun tercakup dalam pengertian "penyembahan" ini.
Oleh karena mudahnya manusia terseleweng ke arah pemujaan akan tokoh-tokoh yang sangat berjasa dan dikagumi serta dihormati inilah maka sejak dahulu Rasul Allah sangat berhati-hati di dalam mendidikkan sikap tawhid ini kepada para shahabat beliau.
Beliau sampai menolak dan melarang para shahabat memanggil beliau dengan "Saidina" yang artinya "Tuan Kami" (Our Master) demi untuk mencegah pengkultusan pribadi beliau. Walaupun demikian, kita bisa membaca di dalam sejarah, bahwa di antara shahabat ada juga yang hampir tergelincir, maka segera dikoreksi yang lain dengan tegas dan tepat. Salah satu kejadian kiranya perlu dikemukakan sebagai contoh akan betapa halus dan dalamnya sikap tawhid ini tertanam di hati sanubari para shahabat terdekat beliau.
Di akhir hayat Rasulullah, sesudah turunnya ayat terakhir dari al-Qur'an, beliau menyusun suatu barisan yang akan dikirim ke Utara demi mengamankan daerah itu dari incaran dan gangguan tentara Romawi Timur. Namun sebelum barisan ini terkirim beliau jatuh sakit, sehingga pengiriman ini terpaksa ditunda sampai beliau sembuh. Tapi taqdir Allah SWT telah menentukan bahwa beliau tidak sembuh lagi. Setelah beberapa hari sakit, beliau wafat.
Kebetulan ketika itu shahabat terdekat Abubakar Shiddiq sedang keluar kota Madinah mencari nafkah, sehingga Siti 'Aisyah menyampaikan berita wafatnya Rasul itu hanya kepada orang yang kebetulan ada di dekat masjid Rasul itu. Ketika usaha orang ini menyiarkan berita duka ini kepada yang lain terdengar oleh 'Umar, maka 'Umar sebagai orang yang berdarah militer, yang senantiasa berfikir dalam rangka keamanan dan ketertiban segera memberikan reaksi yang agak berlebihan.
"Barangsiapa yang mengatakan Muhammad wafat akan kupenggal lehernya", katanya sambil menghunus dan mengacungkan pedang dengan mata yang galak, karena 'Umar menyangka, bahwa berita buruk seperti itu di saat Rasul sedang berusaha menyusun barisan untuk menyerang Romawi Timur, mesti datang dari agen-agen subversive. Karena semua orang mengenal 'Umar sebagai pahlawan, yang tak kenal mundur berhadapan dengan siapapun, maka tidak ada yang berani meneruskan penyebaran berita wafatnya RasuluLlah itu.
Seorang yang hadir di tempat itu akhirnya mendapat akal dan segera menyelinap meninggalkan suasana tegang yang dibuat oleh 'Umar itu untuk menemui Abubakar. Ketika Abubakar datang beliau segera bisa melihat suasana tegang di sekitar masjid Rasul, dan setelah melihat 'Umar dengan mata yang galak mengacungkan pedang itu, maka beliau segera faham kira-kira apa yang telah terjadi. Beliau segera masuk ke kamar Siti 'Aisyah untuk melayat Rasulullah, yang sudah ditutupi oleh 'Aisyah.
Beliau membuka penutup wajah Rasul, menciumnya dan berdo'a. Setelah menutup kembali wajah Rasul, maka beliau ke luar dan masih mendapati suasana tegang oleh sikap 'Umar yang masih berdiri dengan pedang terhunus dan diacungkan tinggi. Maka Abubakar berbicara dimulai dengan membaca ayat Ali 'Imran 144: "Muhammad itu hanya seorang Rasul; Sebelumnya telah berlalu Rasul-rasul. Apabila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu berbalik menjadi murtad? Tapi barangsiapa berbalik menjadi murtad, sedikit pun tiada ia merugikan Allah. Allah memberi pahala kepada orang yang bersyukur."
Setelah membacakan ayat ini beliau lantas mengatakan dengan suara lantang: "Barangsiapa menyembah Muhammad, ketahuilah, bahwa Muhammad telah wafat, tetapi barangsiapa menyembah Allah, ketahuilah Allah hidup selama-lamanya."
Mendengar ayat dan pidato yang tepat dan tajam ini tangan 'Umar menjadi lemas, pedang dan tangannya jatuh ke bawah dan sambil mengucap istighfar pedang itu segera disarungkannya kembali. Walaupun ayat yang dibaca Abubakar itu telah lama dihafalnya di dalam kepalanya, ketika itu seolah-olah ia baru mendengarnya kali itu.
Kalau pribadi seperti 'Umar bisa tersilap dalam keadaan genting, konon pula kita yang beriman tipis ini. Ini membuktikan bahwa bertawhid secara konsisten itu memang tidak mudah. Ia memerlukan latihan berat dengan disiplin pribadi yang ketat.

Kepercayaan kepada Tuhan dan Mentawhidkan Tuhan


Sekadar percaya akan wujudnya Tuhan belumlah cukup untuk menjadikan seseorang Islam, karena kepercayaan akan wujudnya Tuhan bukan merupakan suatu prestasi. Lagi pula, kepercayaan ini sudah ada dengan sendirinya tertanam di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir. Walaupun, kadang-kadang kepercayaan ini seolah-olah tertutupi dan tidak ternyatakan, namun dalam keadaan tertentu ia muncul dengan tiba-tiba. Misalnya, di dalam keadaan gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong berani mengatakan: "tidak ada Tuhan", namun dalam keadaan yang kritis, ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai dan topan orang ini dengan khusyu'nya lantas berdo'a memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Watak manusia seperti ini pun digambarkan di dalam Al-Quran di dalam beberapa surat. Misalnya:
Dialah Yang memungkinkan kamu berjalan di darat dan berlayar di laut, sampai ketika kamu berada di kapal. Ketika kapal ini meluncur dengan angin baik mereka bergembira karenanya. Tiba-tiba mereka dipukul angin topan dengan gelombang yang datang dari segala penjuru sehingga mereka merasa seperti terkepung, maka merekapun berdo'a kepada Allah dengan janji ikhlash akan ta'at semata kepada-Nya: 'Jika Kau selamatkan kami tentulah kami akan bersyukur'. Tetapi setelah Ia menyelamatkan mereka, mereka bertindak melanggar yang hak di bumi. Wahai manusia! Keingkaranmu akan kebenaran itu hanya merugikan dirimu sendiri. Kegembiraan di dunia ini hanyalah sementara, kemudian kamu akan kembali kepada Kami, maka akan Kami beritahukan pada kamu apa-apa yang telah kamu lakukan itu." (Q. 10:22-23).
Di dalam surat lain Allah berfirman: "Tiadakah kau lihat, bahwa kapal-kapal berlayar di lautan dengan karunia Allah, agar Ia dapat memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya? Sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang selalu shabar dan banyak bersyukur. Bila ombak melingkupi mereka seperti atap, mereka menyeru Allah, ikhlash ta'at kepada-Nya dalam agama. Tapi setelah Ia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebahagian di antara mereka yang memilih jalan yang benar. Namun tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali mereka yang berkhianat dan tidak tahu berterima kasih." (Q. 31:31-32).
Ayat-ayat seperti ini ada kira-kira sepuluh kali diulang di dalam al-Qur'an dengan redaksi yang berbeda-beda (lihat: Q. 6: 63- 64; 16:53-54; 17: 67; 29: 65; 30: 33; 39: 8, 49; 41: 51). Bahkan di dalam ayat-ayat yang lain al-Quran menyatakan dengan lebih tegas, bahwa manusia itu dengan sendirinya memang sudah mcngakui akan wujud dan kekuasaan Allah SWT, misalnya:
"Kalau kamu tanya manusia, siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, mereka menjawab: 'Allah'." (Q. 29: 61)
Ayat yang seperti ini maksudnya juga berulang kali difirmankan Allah di dalam kitab-Nya (lihat: Q. 29: 63; 10: 31; 23: 84-89; 31: 25; 43: 9, 87; 39: 38). Jadi kepercayaan akan wujudnya Allah, Maha Pencipta segala, sudah sebadi dengan manusia, karena sudah ditanamkan Allah sebelum kita dilahirkan ke muka bumi ini.
Mungkin tanggapan tentang Tuhan itu berbeda bagi manusia yang satu dibandingkan dengan manusia yang lain. Manusia yang masih sederhana pikirannya tentu sederhana pula tanggapannya. Tanggapan manusia primitif, misalnya, masih bersifat dan berhubungan dengan tahayul, kelenik, dan sihir. Tuhan bagi mereka ialah sesuatu yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka. Cara mereka menyatakan kepercayaan itupun sangat sederhana. Mereka manifestasikan kepercayaan ini dengan menyembah sesuatu yang dirasakan besar, hebat dan tangguh seperti gunung berapi, batu besar, pohon besar dan rindang seperti pohon beringin dan sebagainya. Gunung berapi, umpamanya, disangka mereka "mampu " memberikan kesuburan bagi tanah pertanian, namun sekali-sekali bisa juga "murka " dengan mendatangkan bencana, jika mereka telah banyak berbuat dosa. Contohnya ialah bangsa Yunani purba yang percaya, bahwa Tuhan Zeos tinggal di puncak gunung Olympus. Demi mempersenang hati Zeos ini mereka mengadakan permainan/pesta secara periodik yang dinamakan "Olympiade", yang sekarang telah.menjadi tradisi dunia dengan pesta olah raga Olympic.
Kalau sudah agak meningkat kebudayaan mereka, maka Tuhan mereka gambarkan menyerupai manusia atau binatang dan sebagainya. Ketika manusia sudah mulai hidup berkelompok, maka Tuhan mungkin merupakan pemimpin yang berpengaruh karena jasanya atau keberaniannya mengusir binatang buas atau gangguan kelompok manusia lain. Mungkin pemimpin ini punya karisma, karena pidatonya hebat, serta mudah difahami, walaupun oleh rakyat yang sederhana pendidikannya, sehingga ia sangat dicintai dan dihormati, bahkan dipuja-puja dan disembah dan dinobatkan menjadi raja diraja yang tak mungkin berbuat salah (The king can do no wrong), atau pemimpin seumur hidup. Gelar-gelar yang muluk pun dipersembahkan kepada pemimpin yang dianggap berjasa ini, seperti Juru Selamat, Pemimpin Besar Revolusi, Bapak Kemerdekaan, Bapak Pembangunan dan sebagainya. Bahkah di antara para Nabi pun ada yang diangkat menjadi Tuhan atau anak Tuhan, seperti Nabi Isa AS.
Ketika akhirnya pemimpin inipun mati juga, maka dibuatkan patungnya, kemudian disembah dan dipuja, atau kuburannya dimuliakan (dikeramatkan), dibuatkan tugu dan sebagainya. Maka mulailah manusia menyembah patung atau berhala. Pada mulanya mungkin sekedar untuk dapat lebih mudah menkonsentrasikan pikiran di dalam mengingat jasa-jasa sang pemimpin pujaan itu, namun akhirnya patung-patung itu menjadi substitusi Tuhan sama sekali.
Rakyat Rusia, umpamanya, membalsem mayat pemimpin-pemimpin mereka seperti Lenin, Stalin dan lain-lain. Pada hari-hari tertentu mereka berkunjung ke tempat mayat ini disimpan dan dipajangkan untuk menunjukkan rasa hormat mereka. Walaupun rakyat Rusia resminya tidak mengakui adanya Tuhan, namun dalam acara-acara yang penting mereka melakukan pemujaan terhadap pemimpin yang sudah berupa mayat-mayat ini. Lihat umpamanya cosmonaut mereka sebelum dan sesudah melakukan penerbangan ke angkasa luar, mereka menziarahi mayat-mayat pemimpin ini secara ritualistik sekali, tiada bedanya dengan orang-orang beragama yang bersembahyang atau berdo'a terhadap Tuhan mereka.
Jadi kepercayaan akan adanya Tuhan dan kebutuhan menyembah-Nya (beribadah atau berdo'a) sudah ada dengan sendirinya di dalam hati sanubari setiap manusia. Oleh karena itu, tepat apa yang difirmankan Allah di dalam al-Qur'an: "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepadaku ". (Q. 51:56).

ILMU TAWHID


A. ILMU TAWHID

Tawhid, sebagai ilmu, sebetulnya belum ada di zaman Rasulullah SAW, walaupun seluruh 'ulama sependapat, bahwa TAWHID adalah dasar yang paling pokok dalam ajaran Islam.
Sebagai 'ilmu, TAWHID tumbuh, lama sesudah Rasulullah wafat. Semasa hidup Rasulullah SAW, beliau mendidikkan sikap dan watak bertawhid ini dengan memberikan contoh teladan kepada para sahabat-sahabat beliau di dalam kehidupan sehari-hari.
Pribadi Muhammad sebagai Rasulullah memanglah pribadi manusia yang sempurna (insan kamiil), dengan kata lain, beliau adalah manusia bertawhid secara istiqamah (consistent) dan paripurna, karena itu sikap, watak, ucapan dan tindak-tanduk beliau sebagai Rasulullah, terutama di biang 'ibadah merupakan rujukan bagi setiap mu'min.
Sebagaimana yang difirmankan Allah sendiri di dalam kitab-Nya: "Sesungguhnya kamu dapati pada diri Rasulullah itu teladan yang terpuji bagi mereka, yang menaruh harapan kepada Allah, dan yakin akan hari akhirat, dan senantiasa terkenang akan Allah." (QS 33:21).
Karena itu pulalah beberapa tahun sesudah Rasulullah wafat, ketika Siti 'Aisyah RA ditanyai orang tentang akhlaq Rasulullah, Siti 'Aisyah bertanya kembali dan menegaskan: "Tidakkah kau baca Al-Qur'an? Itulah gambaran akhlaq (budipekerti) Rasulullah!" Jadi tepatlah kalau ada yang mengatakan Rasulullah itu "Qur'an yang hidup".
Sesudah Islam berkembang ke segala penjuru, dan ummat Islam telah mampu menaklukkan para maharaja (super power) ketika itu, seperti Parsi di Timur dan Romawi di Barat, maka ummat Islam mendapat kesempatan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Memang menuntut ilmu ini diwajibkan oleh Allah bagi setiap Muslim, maka sangatlah digalakkan oleh Rasulullah SAW bagi setiap laki-laki maupun perempuan dari buaian sampai ke liang lahad, bahkan kalau perlu dengan pergi merantau sejauh-jauhnya ke negeri Cina sekalipun.
Maka, semua buku-buku yang mereka jumpai di dalam setiap perpustakaan lama di negri-negeri Parsi, Yunani dan lain-lain mereka suruh terjemahkan dan isi buku-buku itu mereka mamah selahap-lahapnya. Pikiran-pikiran ahli falsafah kuno seperti Socrates, Aristoteles, Plato, Pythagoras dan lain-lain semuanya dipelajari mereka dengan bergairah.
Tentu ilmu-ilmu baru ini turut merangsang pengembangan daya pikir mereka sedemikian rupa, sehingga mereka pun menjadi pemikir-pemikir baru yang mampu melahirkan idea-idea baru pula. Namun tidak semua ilmu-ilmu baru ini bersifat positif. Di antaranya ada pula yang bisa menyesatkan, namun dengan semangat kebebasan berfikir yang telah diajarkan oleh Rasul Allah, para intelektual Muslim ketika itu terus maju dan meruak pemikiran-pemikiran baru yang orisinal dan cemerlang.
Tawhid, yang merupakan inti sari ajaran Islam, kemudian menjadi pembahasan di kalangan cendekiawan Muslim, sehingga berkembang menjadi suatu ilmu yang menerangkan bagaimana seharusnya seorang Muslim meng-Esa-kan Tuhannya.
Semangat mencari ilmu yang diwajibkan oleh Allah dan digalakkan oleh Rasulullah ini telah melahirkan banyak pemikir-pemikir Muslim, yang sampai sekarang pun masih dikagumi orang akan mutu intelektualitas mereka. Sayang, kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan ini tidak selalu dibarengi oleh sarana penunjang yang paling pokok, yaitu perkembangan politik yang sehat dan Islami.
Perkembangan ilmu yang tidak boleh tidak menghendaki adanya sarana utama berupa kemerdekaan berfikir dan bergerak sudah tidak dapat dinikmati oleh ummat sejak berubahnya sistem ketatanegaraan yang Islami di masa pemerintahan khalifah-khalifah yang bijaksana (Khulafa-ul Rasyidin) menjadi sistem dinasti yang feodalistis, yang memang sudah lama merupakan darah dagingnya masyarakat Arab Jahiliyah.
Perubahan sistim ketatanegaraan yang berawal dari perbedaan pendapat, dan berkembang menjadi pertentangan faham tentang konsep kepemimpinan ini, merupakan pokok pangkal perpecahan di kalangan para pemimpin, yang akhirnya meledak menjadi perang saudara. Pada mulanya perang saudara ini hanya melibatkan daerah dan jumlah ummat yang terbatas dan mudah diredakan oleh tekanan pengaruh para shahabat Rasul Allah yang masih sangat tinggi derajat iman dan tawhid mereka.
Namun, sesudah generasi para shahabat seluruhnya wafat, perang saudara yang kembali meledak telah memecah kesatuan ummat dan merombak citra masyarakat yang telah susah payah dibina oleh Rasulullah SAW. Sistem ketatanegaraan yang feodalistis telah terbukti tidak mampu menciptakan suatu mekanisme pengaman yang ampuh untuk mengawal perkembangan daya kritis para cendekiawan Muslim, yang dibarengi oleh melebarnya territorial dan membengkaknya kuantitas ummat yang seolah-olah meledak, karena cepatnya.
Perbedaan pendapat yang seyogyanya lumrah di kalangan pemikir-prmikir Islam selalu disalah-gunakan oleh pemimpin-pemimpin politik kelas dua dan tiga demi kepentingan politik mereka. Akibatnya, keretakan yang pada mulanya adalah sekadar perbedaan pendapat dan interpretasi tentang masalah pemimpin dan kepemimpinan berubah atau berkembang di kalangan ummat menjadi perpecahan di bidang pemahaman dan penalaran aqidah dan nilai-nilai syari'ah. Mulailah pengikut-pengikut tokoh ilmuwan yang satu menyalahkan pengikut-pengikut tokoh ilmuwan yang lain.