Kau Tau?...

Kau tahu apa yang menyenangkan? Saat perempuan-perempuan berpikir aku pernah mencintai mereka. Dan tebak apa yang menyakitkan? Mencintaimu.

Hai Aku...

Hai orang yang gagal jatuh cinta, sedang apa kau? Ah, senyummu! Kukenal senyum palsu itu! Aku juga pernah melakukannya saat bersamamu.

Hanya Kamu

Aku sayang kamu sejak lama, tapi kini aku punya mata yang baru. Mata yang tertutup bagi segala keindahan perempuan yang bukan kamu.

Beda Cerita

Beda ceritanya, antara kamu sudah mengisi hati seseorang atau kamu hanya sedang membuat seseorang sibuk hingga tak sempat menengok hatinya.

Bangga Menjadi Diri Sendiri

Kamu harus bangga bahwa kamu adalah kamu. Sebab mungkin tidak mudah bagi orang lain bila menjadi kamu. :)

Minggu, 23 Agustus 2020

Flashpoint Paradox

Hey! Gw sudah lama tidak mengolahragakan jari diatas keyboard laptop. Mungkin setiap kata dan bahasa di tulisan kali ini akan terasa sedikit getir untuk dilafalkan. Dan sudah di laptop yang berbeda pula dari postingan terakhir yang berhasil di publish. Kalau kerjaan, masih sama. Hmm

Ada yang menyentil di fikiran tentunya, sehingga tiba-tiba gw pengen nulis kayak gini. Yaitu temen hobi yang sekaligus junior gw baru saja berbagi kisah hidupnya yang saat ini di titik yang mirip sekali dengan gw di usianya dulu. Apa itu?

Pengakuan cinta, dia mengutarakan perasaannya kepada seseorang hanya untuk mendapatkan kelegaan. GILA!

Gw coba yakinkan kembali ketika dia belum melakukan ini. Apa betul hanya untuk mendapatkan kelegaan? Apa ekspektasi sebenarnya? Sudah berapa skenario yang lu siapin untuk setiap respon yang mungkin saja akan variatif? Apa untungnya sekedar si cewek tau kalo lo suka sama dia? Apa cukup bagi si cewek melihat ketulusan lu hanya untuk dikasihani? Gw fikir penolakan akan lebih baik dibanding dengan sekedar kelegaan semu yang pastinya datang bersama penyesalan yang bahkan bisa muncul langsung di esok harinya! 

Ya kan? Kan ngga mungkin persis dengan apa yang gw lakukin dulu! Cuman sekedar menaruh tujuan sekedar bilang tanpa meminta apapun? Jujur gw merasa akan kecewa kalo misal betul-betul sama kayak gw dulu.

Tapi apa mau dikata, mungkin itu sudah lebih dari cukup baginya, saat ini. Tidak baik berharap terlalu banyak tentang sesuatu hal. Bahkan yang kepada tuhan, terlalu banyak meminta sesutu yang diri sendiri tak mampu untuk menjaganya, sudah pasti tak baik. Apalagi berharap lebih pada keberuntungan semacam; bersamanya dalam kesebentaran.

Kembali pada topik. Memang, kelegaan apa yang didapatkan dan apa yang di sesali setelahnya. Kira-kira gw bisa jelasin dalam kata-kata ngga ya?

Minggu, 18 November 2018

Hujan

Kepedihan itu tatkala titik-titik air
Ketika ia timbul lalu menguap membentuk awan tipis yang lembut seperti kapas
Namun ketika membuncah, ia seketika gelap tak lagi indah
Menutupi cahaya sang surga

Yang ada adalah kesenduan
Mau berapa lama lagi ditahan, itu hanya masalah waktu
Kemudian datanglah sang bala tentara langit, namanya angin
Siapa yang tau darimana asalnya, yang aku tahu hanyalah derunya mengganggu awan

Memaksa untuk tak dapat bertahan lebih lama lagi
Kemudian awan gelap kembali menjadi titik-titik air yang jatuh sebagai hujan
Perlahan, perlahan lalu deras membasahi tiap jejak kaki

Tahukah kau? bahwa sekuat apapun kau menahan pedih agar tak kentara
Suatu saat dia akan menampakkan dirinya dan turut membasahi hati yang lain
Tapi biarlah kesedihan itu tercurah, biarlah sirna dengan sendirinya
Hingga sang terang itu menyinari kebali sukmamu yang telah lama suram

Rabu, 24 Oktober 2018

Sembunyi

Aku ingin sembunyi dibalik dadamu yang mulai membiru karena rindu.
Atau dibalik sehelai rambut di keningmu yang membujur hingga ke alis yang tak bergeming ketika aku tiup. Melekat dikulit bercampur adonan maskara dan peluh yang enggan jatuh.

Aku ingin sembunyi dibalik anting kecilmu, yang berayun bebas menyentuh lehermu, membelainya tanpa rasa geli, tanpa permisi.
Atau dibalik kaus kaki putih setinggi mata kakimu, yang menyembunyikan bekas luka terkilir saat kau panjat punggungku jum'at kemarin.

Aku ingin sembunyi, dari kamu. Bisa? Dimana?

Minggu, 07 Oktober 2018

Dona - Lembar Terakhir

Sembari menyelesaikan ceritaku tentang Mytha dan Anggika, seperti biasa aku punya another distraction. Bukan gangguan ya, tapi pengalihan; yang kali ini kepada gadis manis yang berpostur jangkung namanya Dona.

Dia adalah teman satu SMP. Pernah sekelas. Secara status belum pernah jadi pacar, tapi beberapa semester sempat saling sayang-sayangan. Lucunya dengan tak ada status pun, satu sekolah sudah menganggap kami pacaran. Iyalah, kemana-mana berdua.

Kami mulai dekat ketika sekelas di kelas 2. Lalu ala-ala pacaran sampai lulus sekolah dan putus ketika dia tak lagi intens kontekan dengan alasan SMA kami yang berbeda dan nyaris tak mungkin untuk bertemu sekalipun dalam sebulan. Karena itulah dengan pertama kalinya aku memaki jarak dan waktu.

Di pertengahan juli, sebuah pesan WhatsApp muncul dari kontak baru dengan display picture langit biru yang kosong, hanya sedikit awan menghiasai tepiannya.

"Novaaaaaaaaaaa....." tulisnya singkat tanpa ada kalimat lanjutan..

Aku tunggu beberapa waktu, ku fikir mungkin dia belum menyelesaikan fikirannya untuk menuliskan kalimat sapa atau tanya.

Sampai satu jam berlalu tiada satu kata pun yang bertambah.


Minggu, 16 September 2018

After Sunrise

Hai, Nona!

Aku ingin memintamu untuk mendengarkan ceritaku, tapi aku takut akan segugup apa aku kali ini. Jadi, aku paksa kamu membaca ceritaku, entah akan sepanjang apa.

Maaf harus berhutang 1$ lagi. Meminta kamu mendengar kan pernyataanku.
Aku tahu kamu sudah tak mau membahas ini, akupun sama.
Tapi jujur, siang ini aku merasa ada yang belum selesai diantara kita.
Memang tidak seperti jumat malam kemarin, masalahnya ada di aku dan kamu.
Kali ini masalnya ada pada aku dengan diriku sendiri, tapi tentang kamu.
Dan yang aku tahu, apa yang ingin aku utarakan bukan sesuatu yang bisa dibahas di kantor. Tapi aku juga sudah tak boleh lagi mengajakmu keluar atau meminta untuk datang ke tempatmu lagi (yang menurutku sudah tidak ada lagi kesempatan kedua; untuk kali ini).

Tidak banyak yang bisa ku ceritakan padamu kemarin. Kalau diibaratkan, kamu bacakan 1 Seri Buku Harry Potter, sedang aku hanya bacakan 1 sajak Hamsad Rangkuti. Bukannya aku enggan, aku hanya belum cukup pintar untuk menceritakan dengan cara apa dan darimana aku harus memulai. Tapi aku bersyukur, dari banyak ceritamu yang kudengarkan; ada yang menggugah hatiku; ada yang memberi kekuatan aku untuk bangkit; ada yang menerangkan cara berfikirku yang kelam.

Kau tahu, aku harus mengakui bahwa aku masih membenci matamu yang cantik itu. Menatapnya membuatku melihat jelas kebodohanku. Kalau saja aku boleh memilih, aku lebih baik bodoh dalam menulis cerita fiksi daripada bodoh dalam bersikap. Tapi Tuhan punya cara sendiri; aku harus bersyukur bahwa melalui drama kemarin aku bisa mengenal kamu dan mengenal diriku sendiri.
Tapi boleh lah aku meminta potret matamu untuk ku pandang sekali-kali,sebagai pengingat bahwa bidadari itu nyata. *ini gombal

Oh iya, aku juga harus meminta maaf. Tak seharusnya aku yang menutup pagar rumahmu sebelum berpulang. Tapi sungguh, tangan dan kakiku seperti bergerak dengan maunya sendiri. Mungkin ia enggan untuk melihat kamu lagi dan enggan untuk membuat kamu melihat kebodohanku yang lain. Hahaha
Terlebih, kamu harus kembali ke kamar untuk segera mandi. Aroma tubuhmu semakin siang semakin menyengat di hidung, aku takut tanaman di halaman rumahmu mati karenamu.

Ada yang lucu di hari kemarin, selekas pamit dari rumahmu aku salah ambil rute. Alih-alih ingin cepat sampai, aku malah terjebak macet parah. Aku tak tahu kalau daan mogot sedang ada perbaikan jalan separuh jalur.
Tapi bagian lucunya bukan itu, pada sepertiga perjalanan pulang aku seperti di tersambar petir. Dadaku tetiba sesak, mataku sembap, tanganku gemetar. Beberapa saat aku berfikir "ah munkin gejala demam lagi" sampai aku menyadari sesuatu membasahi tanki motorku.
Sial! Air mataku berjatuhan! Ia memaksaku untuk berhenti sejenak di pinggiran jalan tepat di depan halte sebelum Fly Over roxy.
Sempat berfikir untuk kembali, tapi aku ingat bahwa aku harus segera ke kantor. Dan sekalipun orang kantor mau menunggu, belum tentu kamu mau menerimaku untuk duduk lagi di ruang tamu.
Di kemelutku, tetiba aku tersadar oleh dua lelaki yang sedang duduk dihalte. Salah seorang dari mereka bercakap "Eh nanti cari mushola dulu ya, gw belom shalat". Aku tebak mereka janjian pergi dengan bertemu di halte ini, sedang salah seorang belum shalat.
"Oh iya, aku harus shalat! Allah akan beri jawaban untuk segala tanyaku!" fikirku, lalu cabut pergi lagi.

Kamu benar bahwa perihal kesembuhan aku telah meminta dan mencari pada hal yang salah. Aku tulis kembali kalimatmu pada Whatsapp Chat "Tapi aku selalu mengingatkan utk banyak berdoa. Iya ga?"
Iya, aku lupa untuk meminta kesembuhan pada yang maha menyembuhkan. Allah Azza wa Jalla Asy-Syafi, Sang Maha Menyembuhkan segala penyakit lahir dan batin. Aku tak bisa memaksa hati ini untuk sembuh, apalagi meminta orang lain untuk menyembuhkan.

Tapi sekali lagi sial, pagi tadi setelah terbangun dari tidur pulasku, tetiba teringat lagi dan aku menangis lagi, cukup lama.
Gila, sudah lama aku ngga nangis. Eh sekalinya nangis karena masalah ngga lucu kayak ginian. hahahahaha

Sial, setelah kemarin aku makin banyak bicara. Payah! Jangan sampai aku harus kembali jadi diriku 11 Tahun yang lalu.

Perihal masalahku dengan diriku sendiri, aku akan coba berdamai. Kufikir tidak baik harus berkelahi dengan egoku sendiri. Aku harus mengalah, aku harus mencair. Aku akan memeluknya perlahan, menjadikan ia teman.
Aku tak bisa membuang dia, aku harus berdampingan dengan egoku. Hanya saja aku yang harus mengambil alih kontrol atas diriku, sekali lagi.

Sayangnya, aku tak bisa mereset kita. Tapi bolehlah aku memaksa untuk berdamai, ya. *Mengulurkan tangan

Kamis, 13 September 2018

Hangat - Anggika

Masih kucari-cari hangat yang sama seperti yang kau beri malam itu
Sudah kucoba banyak perlukan namun tiada yang senikmat kamu
Atau aku yang belum mencoba mereka di tempat yang sama ; di kamarmu

Malam ini sudah malam kesekian aku kedinginan
Aku menjadi lelaki yang terbakar hatinya di hari siang
Dan aku menjadi lelaki pendiam yang membisu di hari malam

Bukan saja tubuhku yang menggigil
Bukan saja hatiku yang menyepi
Bukan saja akalku yang menumpul

Aku mulai mati, hati dan benakku.
Bolehkah aku mengemis kali ini?
Kau kembali sesekali, memelukku sebentar, lalu pergi



Terimakasihku

Terimakasih ;

Telah meninggalkanku ditengah hujan;
Telah memenjarakan aku dalam keheningan.
Telah menorehkan luka baru diatas luka lama yang bahkan tak sempat mengering.


Maaf;

Telah membuatmu berhenti menangisi mantan kekasihmu;
Telah membuang semua bekas luka di tubuhmu;
Telah mengecewakan harapanmu karena telah menjadi lelaki sabar dengan egomu

Senin, 13 Agustus 2018

Mytha - Day 73

Day 73 - Pengakuan

"Gila ya, gw bisa nyaman ama elo.." Seru mytha sambil nyeruput kuah bakso

Mendengar pernyataan itu sudah sepatutnya gw seneng, tapi entah ada sesuatu yang membuat kalimat itu terdengar hambar di hati sekalipun begitu renyah di telinga.

"Sebatas temen ya? Myt?" timpal ku dengan nada sayup

"Loh kok kamu ngga seneng gitu? Hahahaha" balasnya sambil memukul bahuku dengan manja. Tawanya pelan namun menggema, mungkin dia tahan karena sebongkah bakso panas masih berusaha dia kunyah di mulut mungilnya.

Aku tak ingin melanjutkan percakapan ini, aku biarkan dia menyelesaikan makan siangnya dengan nyaman, iya NYAMAN. Bukan karena takut ia tersedak, hanya saja aku bisa menebak kemana ujung percakapan ini bila di lanjutkan tanpa jeda.


Day 73 -  Gerimis

Kacau mulai menggerogoti fikiranku. Retakan di dinding hatiku semakin membesar. Perasanku sudah tak terbendung lagi. Emosiku membuncah.

Belum habis satu porsi Mie Bakso yang dia santap, kutarik mytha ke tengah lapangan Bola Basket dengan ajakan untuk bermain hujan-hujanan.
Harusnya aku dan dia berlarian kesana kemari layaknya orang biasa bermain. Namun kami tidak, entah mengapa aku dan mytha malah langsung terpaku berdiri begitu air hujan menerpa wajah.

Ingin aku bertanya kenapa atau gimana perasaanya saat itu, namun keinginanku terkalahkan dengan rasa penasaran, kalimat apa yang bakal terucap dari bibir mytha.

Aku tunggu, 5 detik

Aku tunggu lagi, 10 detik.

Masih aku tunggu, 15 detik.

Sial, tak ada kata yang terucap. Matanya masih terpejam dengan kepala menengadah seakan membiarkan butiran hujan membasuh lelah di wajahnya. Rambut pendek berwarna coklatnya mulai sepenuhnya basah dan menghitam. Kacamatanya makin berembun dan bibir hangat merahnya mulai dingin membiru. Ku genggam erat tangannya, dia pasrah.

Di titik terjauh nalarku, aku menyadari bahwa sudah tak perlu lagi untuk tau seberapa berharga aku di matanya. Maka kali ini aku putuskan untuk sedikit saja menyentuh hatinya. Tak peduli seberapa tinggi tembok atau seberapa keras dinding egonya, akan aku coba untuk runtuhkan.

Di detik ke 75 aku coba mengetuk pintu hatinya dengan melantunkan puisi buatannya, Separuh Langit Hatiku. Puisi yang dia buat untuk Jonathan, mantan kekasihnya.

Bait demi bait aku lantunkan dengan lantang, ku resapi dalam hati kata demi kata. Ku buat-buat seolah dibacakan oleh gadis separuh baya yang baru saja ditinggal kekasihnya. Air mataku mulai jatuh di bait kedua, suaraku mulai berat dan gemetar. Mataku tajam menatap wajah Mytha yang masih menengadah dengan mata tertutup. Bibirnya ikut gemetar pada kata demi kata puisinya. Aku yakin, meskipun suaraku kalah dengan gemuruh hujan dan gelegar petir, tak ada saatu huruf pun yang tak sampai ke hatinya.

Bait ketiga dan terakhir ku lantunkan dengan nada sayu, aku tau dia menyusupkan nama satu lelaki yang bukan aku. Harapku dia menyela, mengaku bahwa ia adalah Jonathan, mengaku bahwa harapan yang dia tawarkan padaku adalah semu, bahwa nyaman yang dia rasakan hanya rasa hambar daripada kehampaan, bahwa aku hanyalah pilihan atas penyesalan.

Sial lagi, sampai habis puisinya dia tak bergeming. Tapi ada satu yang berubah, basah diwajahnya tak lagi sekedar dingin. Air hujan bercampur air matanya mengalir di pipi mungilnya, dia menangis dengan tenang.

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan, dia lengah. Aku raih kepalanya dan ku dekapkan di dada. Dia mulai sesenggukan, Ku biarkan dia disana beberapa menit, setidaknya aku berharap ada satu kalimat yang bisa dia ucapkan.

Ku tegakkan kepalanya setelah isakkannya mulai tak terdengar. Dia mulai membuka mata dengan tatapan kabur karena embun masih menutupi kacamatanya. Bibirnya gemetar kedinginan bersama tangannya yang tak lagi ku genggam. Lalu tanpa permisi aku kecup bibirnya. Tak sopan memang, adik kelas harusnya meminta izin terlebih dahulu untuk mencium kakak kelasnya. Tapi masa bodoh, aku tak lagi memikirkan apapun selain suasana romantis disana.

Dia tak berontak, beberapa detik dia masih membiarkan bibir kami bersentuhan. Sampai di hela nafas ke tujuh dia membuka mulut

"Nov, anter gw pulang."


Mytha

Perkenalan!
Awal ceritaku dengan Mytha berselang tak begitu lama setelah aku putus dengan Ervita. Sebelumnya aku memang sudah mengenal baik dia sebagai kakak kelas idaman. Gadis dengan perawakan jangkung, paras manis, rambut sebahu dan kacamata bulat. Ya, sebuah kesalahan memang. Akira Mado dalam bukunya yang berjudul The Origin of Kawaii Onee-chan berpendapat bahwa "Short Hair doesn't belong to tall girl". Dan tentu sebagai Short Hair Worshipper aku meng-iya-kan pendapat itu dengan banyak argumen yang bisa aku pertanggung jawabkan di depan Hakim Agung. Ditambah lagi dengan kacamata bulat, apa-apaan ini? Seperti penistaan terang-terangan terhadap kaum rambut pendek.

Aku dan Mytha memang jarang bercakap. Hanya sesekali berlempar senyum saat berpapasan di kantin atau saat upacara bendera. Itupun aku hanya mampu memanggil namanya dengan panggilan "kakak". Itu karena semenjak hubunganku kandas dengan Annisa tahun lalu aku memutuskan untuk tak memanggil wanita manapun dengan namanya. Rasanya membelenggu memang, seperti mencoba bernafas di dalam air. Tapi mau bagaimana lagi, kepergian annisa begitu membekas di dalam dada.

Day 1 - Selembar Kertas
Seminggu setelah teman sekelasku mengeluh gara-gara aku yang terus-menerus uring-uringan saat jam istirahat di kelas, mereka mulai mencomblangkan aku dengan siapa saja termasuk Bu Ijah, guru seni yang baru menjanda 3 tahun lalu.
Hingga di satu rabu, Hilmi teman sekelasku memberikan selembar kertas berisikan puisi. (Saat itu aku diperbantukan untuk mengurus dekorasi Majalah Dinding di Gedung Timur selama satu bulan)

Dalam hatiku "Ini anak ada akal bulus apa lagi hah?"

Awalnya tak ingin ku hiraukan isi puisinya, perasaan masa bodoh sudah terlanjur menguasai mood ku seharian ini. Mataku langsung tertuju pada siapa yang membuatnya. Tertulis dengan Italic di bagian belakang, Mytha A - XII IPA 2.

"Hah? Mytha?" Tanyaku pada Hilmi

"Yoi! Bikinin frame yak! Besok pagi langsung tempel di Mading, genti koran bola di sebelah kiri." Sahut Hilmi serasa berlalu meninggalkan kelas

"Sial!" Gerutuku dalam hati

Day 1 - 5 Menit di Neraka
Siang itu aku segera menghampiri kelas Mytha yang tak jauh dari kelasku, hanya terpisah dengan lorong dan taman-taman kecil. Memang sudah biasa aku main ke kelasnya, tapi untuk bertemu orang lain, kang rizki teman sesama penyuka musik jepang.


Selasa, 18 April 2017

Sinta

Wanita mungil itu berteriak histeris saat aku mengejarnya. Gang sempit dan sepi itu membuat suaranya semakin jelas terdengar dan memekakan telinga. Namun aku tetap membawa kakiku berlari mengejarnya, sinta, wanita separuh baya yang menolak untuk aku cintai.

"Sinta, jangan pergi!" Sahutku dengan nada parau.

"Jauhi aku mas! jauhi aku!" 

Balasnya dengan tanpa menengok ke arahku, wajahnya masih mencari ujung dari gang sempit itu.

"Kenapa Ta? Aku sayang kamu!" sahutku lagi

"Kenapa kamu ngga juga ngerti. hiks!. Mana mau aku mencintai lelaki yang bahkan tak tau cara mencintai diri sendiri!" 
Timpal sinta dengan nafas yang semakin tersengal. Nafasnya mulai habis. Larinya semakin melambat. Air matanya mengalir semakin deras.

Kakiku tetiba menghentikan larinya, padahal jarakku dengan sinta semakin dekat dan aku nyaris menjamahnya. Namun kata-kata yang keluar disertai dengan tangisannya barusan seolah menamparku dari kejauhan, mengena tepat di pipi kananku.

Sesaat pikiranku tenggelam dalam penyesalan, bahkan setelah sekian lama, setelah aku fikir bahwa aku sudah berhenti menjadi lelaki brengsek, aku tetap tak berubah.

Apa ini alasan mengapa shandra pergi meninggalkanku tiga tahun lalu? Apa ini alasan mengapa di setiap kisah cinta yang aku alami dengan Dinda terasa hampa di dada. Apa harus saat ini aku baru menyadari bahwa aku terlalu mengasihani orang lain hingga lupa mengasihani diri sendiri.

Minggu, 30 Oktober 2016

Khilaf Story #1 Keyboard Gaming


Helo guys!

Setelah sekian lama ngga mengepakkan sayap blog ini, akhirnya di sela-sela waktu nganggur, ane sempetin buat ngepost.

Padahal masih bingung mau post apaan. Ngepost ini-itu terlalu banyak pertimbangan, semisal :
1. Posting Cerita romance yang pastinya bakal lagi dan lagi tentang nadia.
2. Posting Materi Sekolah/Kuliah yang entah sumbernya mau nyatut darimana.
3. Posting Tutorial yang nanti bakalan ditanyain repost darimana.
4. Posting kisah khilaf yang pastinya bikin ane sedih.

Dan pada akhirnya, di sore hari yang mentereng ini. Ane putusin buat Share Cerita Khilaf.

Berawal dari kesukaan ane terhadap dunia games. Yang notabene ane lebih dominan di game PC. Ane mulai masuk di dunia perkhilafan pada equipment gaming. Lah, iya dong. Kalo ente suka maen game, tentunya diharuskan untuk memiliki equipment gaming yang nyaman. Terlebih maen di pc/laptop yang dengan requirement game-game tahun 2010++ memerlukan mouse dan keyboard yang mumpuni. Ente tentunya ngga perlu diribetkan masalah equipment kalo cuman sekedar game mobile di smartphone. Paling cuman earphone/headset itupun kalo gamenya lebih experience di sisi audio.

Dan di page ini, ane akan membahas masalah khilaf keyboard gaming

Soal keyboard, ane mempercayakan kebutuhan gaming pada Powerlogic Armageddon. Dengan dilatar belakangi budget yang minim, ane ambil Keyboard Armaggeddon Keyboard dari toko-toko online di JKT. 

1. Armaggeddon AK-300
Image result for Armageddon AK300
Sumber : images.google.com

Harganya sekitar 200k IDR. Specnya :

* Multimedia keys for direct media functions
* 3-segment gaming keyboard with 124 keys
* Keyboard interface: USB wired
*Cable length: 1.6 meters
* Keyboard Size: 485(L) x213(W) x30(H)[mm]
* Total weight: 750g
* Replacement gaming key caps included.

 Review bisa dilihat di sini

2. Armaggeddon AK-550i (Kalashnikov)
Meningkat pada kebutuhan lain, ane mulai tertarik pada keyboard dengan backlight. Dengan kondisi AK300 ane masih berfungsi dengan baik. Ane kemudian khilaf dengan AK550-i blue light. 
Harganya sekitar 235k IDR. Tapi dari spec, masih lebih empuk AK300. Ini lebih keras dan suaranya lebih berisik. Specnya :
  • USB Multimedia and Gaming keyboard
  • 104 membrane silent key stroke
  • 10 Functions and Multimedia keys on-the-fly
  • Blue LED Backlight improve gaming experience
  • Built-in drainer for water or liquid spill on keyboard
  • 1.5Metre Ultra-Durable cable and Jack.
Buat review, comot kesini

3. Armaggeddon AK-990i
Trend berlanjut, setelah sekedar backlight. Ada muncul keyboard dengan multi light color. Entahlah apa namanya. Lagi dan lagi, dengan kondisi AK-300 dan 550 masih working good. Ane khilaf dengan AK-990i.


Image result for armaggeddon ak 990i

Harganya sekitar 300k. Kali ini designya lebih ramping, nyaris tiada tepi. Tapi masih 104key. Iya, ane masih butuh dengan numkey. Jadi agak riskan buat ngambil keyboard 87key. Dari segi spek, lumayan puas. Tercapai untuk keinginan switch color red-purple-blue. Suaranya masih sama keras dengan 550 dan sekali lagi, terlalu kurus untuk dibawa ngegame.

Buat yang butuh review, check disini

4. Armaggeddon MKA-9C
Khilaf yang baru-baru kemarin. Kembali hanya karena trend, setelah puas di segi backlight color kini masuk ke segi mechanical ditambah dengan hadir variant color RGB. Dengan tidak berfikir panjang, ane merogoh kocek sebesar 780k untuk keyboard ini. Hmm, cuman buat penasaran sama mechanical KB.

Image result for Armageddon MKA-9C
Speechless, masih ngga kuat buat ngetik spek karena kebawa nyesel beli keyboard ini cuman buat ngilangin hawa penasaran doang.
wkwk
Oke, buat yang pengen liat review buat keyboard ini dari blog sebelah. Link Disini

Well, mungkin beberapa dari kalian sempet bertanya-tanya, kenapa dari 1 sampe 4, gw milih armaggeddon semua. Entahlah, gw orangnya monokrom. Kalo udah di satu itu ya itu-itu terus. Makanya sampai sekarang, tentang mencintaipun, maunya kamu terus. *plak

Note : Sampai sekarang, ke 4 KB itu masih rapih di lemari. Dan jarang dipake.

Tips and Trick Microsoft Excel

Beberapa hari yang lalu ane nemu postingan di facebook tentang beberapa trik di ms.excel yang bisa berguna buat bantu kerjaan. Dan sukur-sukur bisa jadi nilai tambah skill ente di dunia kerja.

Check it out guys!










Jumat, 22 April 2016

Dinda...

Pada suatu pagi di minggu yang tak begitu cerah, aku duduk termenung di sebuah kursi taman. Taman yang tak begitu luas di utara jakarta.

Berbekal seca...rik kertas dan sepotong pensil, aku berniat untuk melukis sesuatu. Namun telah satu jam berlalu sejak kedatanganku di taman tersebut, tak segaris pun terlukis di kertas yang mulai kusam.

Aku menatap ke arah langit, tak ada satu objek menarik yang dapat ku abadikan. Begitupun dengan segala sesuatu yang ada di taman itu, sekalipun kolam dengan air mancur yang begitu jernih dan bunga warna-warni tak mampu menggerakkan jemari-jemari kecilku.

Aku sejenak menutup mata, mencari-cari sesuatu yang menarik dalam fikiranku. Namun sia-sia, menelusuri isi kepalaku seperti terjerumus ke dalam bayangan-bayangan mantan, hanya ada bangkai-bangkai kenangan yang tak menghubungkan apapun.
Mataku tetiba terbuka ketika sebuah pesan masuk ke handphoneku.

"1 Pesan Diterima dari Sinta."

Kucing-kucing di taman tetiba berlarian ketika mendengarkan aku mengeja kata demi kata pesan yang dikirim Sinta.

"Hay Noovv, Hari ini bisa ketemu?" Isi pesan dari Sinta singkat.

Jantungku berhenti berdetak. Aku kaget setengah hidup. Ya, bagaimana mungkin aku tak kaget. Sinta, mantanku yang hampir 3 tahun tak bertemu. Tetiba mengajak ketemuan.
Aku menggampar pipiku dengan pelan. Memastikan ini bukan mimpi. Jemariku masih kaku di tombol "read". Fikiranku menerka-nerka harus menjawab apa.

"Bisa, dimana?" jawabku

"Di nasi goreng yang biasa yaa. Sejam lagi aku nyampe sana. " Belum ada 5 detik setelah pesanku dia baca, dia membalas pesanku.

Hatiku bertanya-tanya, apakah dia hanya sekedar ingin bertemu apa mau di bayarin nasi goreng jumbo yang harganya 50ribu seporsi itu yaa.. Tauk aja dia kalo duit gejian belum abis.. 

Belum sempat aku membalas pesan dari Sinta, seseorang menutup mataku dari belakang.
Adegan yang mungkin terinspirasi dari film-film romance, dia menutup kedua mataku dengan kedua tangannya.

Tangannya yang ringan dan dingin membuat mataku terasa sejuk. Dengan sigap aku memegangi tangan kanannya dengan tangan kananku. Tak membutuhkan waktu lama untukku mengetahui siapa yang berdiri tepat di belakangku. 

"Dindaaa" Teriakku

"Yaaaah ketauannn" serunya dengan nada manja

"Kamu kok kesini ngga ngajak aku sih?" Tanya Dia sambil duduk di sebelahku.

Dia mengenakan rok biru dan you can see putih. Aroma violet khasnya tercium tak asing di telinga.

Dinda, Adinda Febriana teman udah lama. Kami sudah lama mengenal sejak kelas 1, kemudian satu kampus dan sekarang satu kantor.

Kami begitu dekat, saking dekatnya hingga dia tak menyadari bahwa perasaanku padanya bukanlah sekedar teman akrab yang selama ini dia kira.

Aku memang tak pernah menyatakan perasaanku kepadanya. Seringkali terbersit di benakku, aku sudah cukup bahagia seperti. Karena itulah, aku tak berani beranjak dari zona nyamanku. Meskipun selalu aku takutkan, aku akan kehilangan dia suatu hari nanti.

"Umm.. Aku kebetulan lewat sini aja sih.. " Timpalku dengan nada parau, sambil mataku sesekali mencuri-curi senyuman manisnya.

"Bohong ah kamu Nop. Tuh kamu bawa kertas mau gambar kan? jangan boong sama aku deeh" balas dinda sembari tangan kanannya mencubit kecil pipi kiriku.

"Ehh.. Pinjem hapenya doong.. " Dengan tiba-tiba dita meraih HPku, aku nyaris lupa kalau aku harus membalas pesan dari Sinta..

"Waaahh ini dari Sinta? Sinta yang mantan pacar kamu di sma dulu kaan?" seru dia.

'sial! aku lupa mengganti password hp.." keluhku dalam hati

"Emmm.. i i i yaa" Jawabku singkat

"Kok bisa deket lagi sih? Kok ngga bilang-bilang sama aku?" dia kembali melempar pertanyaan yang menyebalkan..

"Kalau saja kamu tau, betapa menyakitkanya kalimat itu keluar dari seseorang yang aku suka. Din, kapan kamu bisa ngerti sih.. " aku kembali mengeluh dalam hati

Mentari semakin merangkak tinggi dan teriknya mulai menguras peluhku. Butir demi butir keringatku jatuh di secarik kertas yang masih kosong.

Belum sempat aku menjawab tanya dari dinda, begitupun aku tak mampu membalas pesan dari sinta.

Tetiba terlintas di fikiranku, bahwa secarik kertas kosong yang kupegang, tak berbeda jauh dengan hati ku saat ini. Tak bisa melukiskan nama siapapun di dinding hati.

Minggu, 03 April 2016

Takut, takut..

Di pendapa yang cukup luas itu pertama kali kita bertemu, kau berdiri di tepian danau dengan eloknya bersama seorang temanmu. Saat itu aku memperhatikanmu dari arah samping, aku sengaja, aku ingin mengatahui sesuatu.
Rambut hitamu terurai panjang, kau terlihat begitu menawan dengan baju merah itu, seperti bibir merahmu. TInggimu tepat se'pundakku, dan sepertinya tepat bila berdiri disampingku. Walau belum cukup lama aku menatap wajahmu, ku bisa simpulkan kau begitu manis, cantik.
Lebih dari 5 menit aku menatapmu dari dalam pandapa, hanya duduk disana dan memperhatikanmu. Aku ingin menemukan titik jenuh melihatmu, sayangnya hingga 10 menit berlalu, kau tetaplah menarik.
2 menit setelah itu kau pun berlalu, turun ke danau dan bermain dengan perahu kayuh bersama teman wanitamu. Aku masih belum kehilangan tatapanku, masih melihatmu dari kejauhan sampai ekor mataku benar-benar kehilanganmu.
Akupun pergi, beranjak dari sana dan menuju ke bukit. Disana ada mushola yang cukup besar. Aku sejenak beristirahat bersama temanku, sedikit melepas penat bersama kau di fikiranku.
Tetiba mataku menangkap bayangan dari arah samping mushola. Cukup terkaget, disana aku kembali melihatmu. Tepatnya kita kembali bertemu, aku lihat matamu sedikit menatap ke arahku, aku juga lihat senyuman manismu yang kian melebar, manis. Disana, disana kedua kalinya kita bertemu hingga kau kembali berlalu.
Aku hanya bisa tersenyum bodoh, kenapa tak ku datangi dia, tanya siapa namanya. Ah sudahlah
Kembali tiduran di tepi mushola, menatap langit yang begitu indah, biru muda, cerah seperti wajahnya, teduh saat menatapnya.
20 Menit berlalu, aku segera bangit dari pembaringan.
"Ui Uplod Foto dulu, enaknya dimana?"
Tanyaku pada seorang teman yang sedari tadi menemaniku
"Noh dibawah aja, pinggir danau kayaknya enak, sambil makan"
Jawab dia dengan santai.
"yaudah, buruan kesana, udah mulai gerimis"
Akupun bergegas kebawah
Sampai di tengah jembatan, gerimis mulai turun.
Aku tak segera lari seperti orang-orang di sekitar, menikmati dinginnya guyuran hujan sambil sesekali bercanda.
"Woy, kalo misalnya sampe ketemu lagi buat yang ke 3 kalinya, gw mau nyapa ah, harus!"
"Kalo berani, sok aja"
Baru saja tiba di tempat makan, hujanpun turun dengan kian derasnya...
Aku segera turun ke lantai 1 dan baru saja melewati tangga, aku melihat dua makhluk yang sepertinya ku kenal di meja no 1, kursi paling dekat dengan tangga.
Dia, dia yang tadi. Aku hampir melangkahkan kaki untuk kembali keatas, namun naluriku sebagai lelaki membutaku tetap berjalan ke kursi paling ujung, paling jauh dari meja no 1.
Aku duduk disana, sangat jauh dari dia. Aku hanya mengingat-ngingat kata-kataku beberapa menit yang lalu, aku bertemu kembali dengannya untuk ketiga kalinya, dan aku harus menyapanya, tapi kenapa sekarang aku tak berani. bahkan seperti malu-malu berada disana, aku takut bila menyapanya, kenapa? kenapa harus takut?
Kau harus tau, aku sedang menyukai seorang teman di sekolahku. Sangat jauh disana, hamun sampai disini sekalipun aku masih tetap mengingatnya. lalu apa hubungannya? Nah bagaimana jika kedua orang tersebut kenal dengan dia? Dan jika aku menyapa mereka dan berkenalan dan lebih dari itu, atau hanya sekedar kenal dan ternyata mereka kenal dengan temanku itu, banyak hal bisa terjadi kan? Aku hanya takut, sedikit takut.
Tapi, aku harus memegang kata-kataku sendiri. Tapi, tapi...

Kamis, 31 Maret 2016

NYERItain mantan Part 11

Akhirnya kembali lanjutin ini post. Padahal udah ngga apal nama-nama mantan. 

Pernah ada satu quote di anime yang berbunyi seperti ini :
"Jangan patahkan hatiku, aku hanya punya satu. Patahkan saja hati mantan-mantan pacarku, mereka ada 206. " - Hachiman
Keroro commented : lu kira tulang ada 206..
Hachiman commented : Eh, bukan 206. Baru aja nambah 1.
Oke, kali ini giliran Tiara, sebut saja Tiara. Mantan terindah di tahun 2014. Jadian sekitar pertengahan musim kucing kawin. Ngarepnya musim salju atau musim semi gitu. Berawal dari pertemuan tak terduga, iya, kita bertemu di stasiun saat hujan begitu deras mengguyur kota Bekasi. Saat itu gw sedang akrab dipanggil 'cimudz' sama anak-anak kampus.

Jam dinding stasiun Bekasi menunjukkan pukul 16.44, matahari mulai turun dari singgasananya, beruntung atau tidak, sore itu mentari berniat untuk showeran sebelum tenggelam. Well, guyuran demi guyuran hujan mulai membanjiri jalanan depan stasiun. Gw yang ketika itu mengendarai sepeda motor tanpa berbekal mantel hujan, meneduhkan diri di ruang tunggu stasiun yang kala itu ngga rame-rame banget. Hanya aku kau dan kenanganku, *backsound second civil*.. Aihhhh #Digamprat

Dari tiga deretan kursi disana. Ya ampun, gw salah sebut. Bukan stasiun pemirsah, tapi halte bus. Ketuker sodara-sodara.. Oke lanjut..

Dari tiga deretan kursi halte disana, hanya ada aku dan seorang gadis manis yang menenteng kantong plastik (known as keresek) indomaret yang sekarang harganya 200,-an. Nampak dari seragamnya dia adalah SPG Djarum Super Anak SMA Kelas 3. Well, seragam putihnya udah agak kusem dan sudah waktunya dimusiumkan, jadi kayaknya kelas 3.

Hujan yang begitu deras dan HP yang lowbat memaksaku untuk memecah kebosanan. Dan salah satu pilihan yang tersedia adalah mengajak gadis tersebut berbincang-bincang. 

"Ehm.. Dek... " Le Me berusaha menyapa hangat...

"Eh. aku??? " Dia menjawab dengan segera, kayaknya dari tadi emang nunggu di sapa apa gimana gitu. Bajunya udah mulai basah soalnya.. 

"Iya.. Pulang kemana kah? Kayaknya ujannya agak lamaan. " Balasku singkat..

"Kaka punya pacar?" balasanya dengan jawaban yang  sambil matanya memandang tajam bola mataku..

"Hah?" Aku terkaget dengan pertanyaannya. Dan sekejap menerka-nerka arah tujuan pembicaraan ini nantinya...

"Kok diem?" Tambahnya..

'Bentar, Bentar.. Ini lagi mikir jawabannya..' jawabku dalam hati... 

"Kaka mau jadi pacar aku?" Celetuknya lagi dan lagi..

"Kamu baru keluar dari rumah sakit jiwa man dek.. haduuh.." timpalku dengan nada kalem. weii jual mahal dikit lah, jangan asal nyamber..

"Yaudah kalo ngga mau..." seru gadis itu sambil manyun-manyun..

'Mampus gw.. kalo aja bilang iya.. kan lumayan punya pacar.. lagi..' kembali hanya dalam hati..

"Hemmm.. Coba cerita deh, kaka dengerin.." Aku merubah tempat dudukku menjadi lebih dekat dengan dia.. hingga hanya tersisa jarak 1 bilah rambut ketiak saja..

Dan saat itu dia bercerita banyak hal. Pertemuan kami mungkin bukan saja kebetulan. Jadi, tepat siang ini dia diputusin sama pacarnya, karena masalah yang begitu sepele. Iya, beda cara makan beng-beng doang. 'Aduuuh ABG' fikirku...

Kemudian kami saling bertukar nomor telepon, kami semakin akrab dan menjadi lebih dari sekedar teman. Iya, lebih dari teman. Apa? Adek kaka-an.

Bukan salah dia sih, gw yang minta dia jadi sekedar adek. As always, iam the man who can't move. Susah di apa-apain. Jadi, dia statusnya mantan gebetan. Sayangnya, sejak pertengahan 2015 silam, gw lost contact sama dia. Mungkin dia sedang kuliah di jurusan Matematika yang entah dimana. Berharap suatu saat bisa ketemu lagi. Ya kalo memang jodoh, bisa bertemu di pelaminan. Tapi sayangnya gw ragu, karena sampai saat ini masih ngga bisa Move-On.

Dan apabila dengan keajaiban, kamu membaca tulisan ini, Tiara. Aku meminta maaf tentang apa yang aku tak aku lakukan di rumahmu waktu itu, dikala orang tuamu sedang keluar kota.


Salam,

Kakanda...


 

Minggu, 07 Februari 2016

Boku Dake ga Inai Machi - Anime

Boku Dake Ga Inai Machi. Yups, animenya tayang di winter 2016. Sejauh ini sudah jalan 5 episode dan bener-bener petjah banget. Rekomended banget buat kalian yang sebelumnya suka Zetsuen no Tempest, Kimi no Iru Machi. Loh? beda genre kan itu? Memang Inai Machi ini perpaduan yang menurut gw dapet banget di kategori Romance sama Supernaturalnya.

Singkat cerita, si tokoh utama ini (Fujinuma Satoru) memiliki kemampuan kembali ke waktu-waktu tertentu, bisanya hanya beberapa menit sebelum terjadi hal-hal yang buruk. Namun, tetiba (di eps 3) dia kembali ke masa dimana dia masih berusia 10 tahun. Tepat ketika teman masa kecilnya, Hanazuki Kayo meninggal secara misterius.

Jujur, bumbu romancenya Kayo ini bener-bener ngena banget. Sekisah seperti kisah cinta bocah SD. Tapi maknanya mendalem, di sisi lain Satoru berniat menyelamatkan Kayo. Disisi lain, entah, kepeduliannya brbuah jadi cinta apa ngga. Gw sih ngga baca manganya biar penasaran aja. Cuman emang, banyak banget spoiler yang berlalu-lalang.
Masuk ke cerita, Kayo ini hidup dengan derita karena disiksa sama ibunya.Tepat sebelum ulang-tahunnya yang ke 10, dia dinyatakan meninggal karena korban penculikan. Terlepas sampe di episode 5 belum ketemu pelakunya. Dan sepertinya akan ketauan di eps 6, karena sepertinya si pelaku yang masih hidup sampe18 tahun ke depan, kembali menjadi pelaku pembunuhan ibu Satoru.

Yah, susah nyeritainnya. Mungkin di postingan setelah ini akan kembali dibahas. Masih banyak spoiler, sialan. 

Boleh tanya di komen buat spoilernya.. Thanks...

Sabtu, 24 Oktober 2015

The Oral Cigarettes - Kantan'nakoto Romaji Lyrics

Jarang-jarang ngepost lirik lagu. Cuman karena enak banget plus liriknya belum nongol di minilyrics.. Post aja.. Yang suka lagunya mungkin bisa komen...Haha


Kantan'nakoto 




do ̄ dai? Achira kochira ni uma reta tansaibō ningen no okoshita 
sōdaina jinrui hametsu e no i-po imadani kidzuke tenaiga 
do ̄ dai? 
Mazuwa era-sō ni kyūshutsu sengen shite miyou kashira? 
Do ̄ dai? 
Do ̄ dai? 
Do ̄ dai? 
Do ̄ dai? 
Do ̄ dai? 
`U zatta i.' 

Migite agerunara sono-te ni sekinin ga yadoru to omoe 
ryōte agerunara utsumuite zettai fukujū kakugo wa aru ka? 
Do ̄ dai? Kore ga shinu mae ni inochi o kou ningen no sugata ka? 
Do ̄ dai?
Do ̄ dai? 
Do ̄ dai? Ittai dō natchatta nda? 

A~a, son'na kantan ni iu na 
ushinau koto ni miren o tarashite 
a~a, son'na kantan ni iu na 
ima-me no mae wa jisatsu no shigan-sha 
a~a, son'na kantan ni iu na 
are mo kore motte totchirakashite 
a~a, son'na kantan ni iu na a~a~a~a~a~aw 

do ̄ dai? 
Jibun igai no ningen botan itsu de kesetara natte 
yōdai wa ima dōdesu ka? 
Anmari yoroshiku miemasenga so ̄ ka! 
Mazuwa era-sō ni mite minu furi shita aitsu o norou kado ̄ dai? 
Do ̄ dai? 
Do ̄ dai? 
Ittai dō natte shimatta 

a~a, son'na kantan ni iu na
mawari ni kidzuka renai yō ni shite 
a~a, son'na kantan ni iu na 
zujō ni mētā wakka o mae ni 
a~a, son'na kantan ni iu na 
ite mo tatte mo i rarenaku natte 
a~a, son'na kantan ni iu na .. son'na kantan ni iu na ..

sō ima mo mata kanjiru no mada 
hikari ga sukoshi miete kitatte 
me o tsubutte omoidasu no wa 
hitori mo inai hitori mo naikara sa 

shinitai kietai kawaritai kaeritai nakitai u zatta i tasukete tasukete tasukete tasukete

a~a, son'na kantan ni iu na
ushinau koto ni miren o tarashite 
a~a, son'na kantan ni iu na
ima-me no mae wa jisatsu no shigan-sha 
a~a, son'na kantan ni iu na 
are mo kore motte totchirakashite 
a~a, son'na kantan ni iu na .. son'na kantan ni iu na ..

a~a, son'na kantan ni iu na 
tattaratattattaratta 
a~a, son'na kantan ni iu na
moshimo mata umarekawareru to shite 
a~a, son'na kantan ni iu na 
shiranai tarinai dō demo ī ya 
a~a, son'na kantan ni iu na .. son'na kantan ni iu na..

Jumat, 23 Oktober 2015

NYERItain mantan #Part 8

Hanya berselang satu hari dari jadwal release cerita ke 5, kali ini aku berniat memposting cerita lagi. Namun bukan cerita ke-6, tapi loncat ke cerita ke-8 bercerita tentang seseorang yang semalam baru saja kupaksa hadir dalam mimpi. Mungkin akan ada getir jika aku melewati 2 kisah penting yang terjadi di hidupku. Tapi mungkin tak apa, pasti ada waktu di suatu hari nanti aku bisa bercerita tentang semua wanita yang namanya pernah aku ukir di dinding hati. 

Kisah ini berkisar sekitar tiga bulan setelah aku dan Gina berpisah. Tentu sebelum itu terjadi, aku terlebih dahulu terjerumus pada kisah melankolis dengan Mantan ke 6 dan 7. Hanya saja karena berlangsung tak lama mungkin akan terdengar teramat membosankan bila keduanya aku ceritakan sekarang. 'The 8' ini bercerita tentang anak game, namanya Annisa. Panggilannya si pesek. Dia tinggal di Samarinda, Kalimantan timur. Usianya lebih muda dariku sehingga dia memanggilku 'kaka'.

Musim semi di awal Desember

Angin sore di sebuah sabtu saat itu berhembus cukup kencang. Debu dan daun dengan asyik terbang kesana kemari seolah mereka sedang bermain kejar-kejaran. Seekor kucing tertunduk lesu di pinggiran post satpam yang kufikir dia sedang menunggu seseorang. Sedang aku duduk di samping si Kucing melakukan hal yang sama.

Waktu menunjukkan pukul 16.22. Hampir setengah jam berlalu setelah bel pulang sekolah dibunyikan. Dan aku masih menambah hitungan waktu yang bisa ku sia-siakan untuk menunggu seseorang. Seseorang yang tak yakin kepada siapa hatinya berlabuh. Tentunya disana, aku sedang menjadi salah satu dermaga yang berharap menjadi tempatnya mengikatkan jangkar. Dia Annisa. Si Pesek.

AH udahlah, lu pasti udah nebak kalo gw bakal jadi korban PHP. Jadi males gw lanjutin ini cerita -_-
Gw skip kalo gitu ke part 11... See u there.. 

Rabu, 21 Oktober 2015

NYERItain mantan #Part 5

Kapan pertama kali kamu bisa melihat dunia dengan pandangan yang berbeda? Kapan pertama kali kamu menyadari bahwa kamu memiliki pemikiran yang salah tentang sesuatu, bahkan tentang dirimu sendiri. Dan kapan pertama kali kamu mengambil jalan yang salah dan kamu menyadari resikonya, tapi tetap kamu ambil. Begitulah, akan tiba satu masa untuk aku berubah menjadi orang yang dewasa. Dan sayang, sampai detik ini masa itu belum juga tiba. Lalu untuk apa aku menanyakan hal tersebut? Aku menemukan dan melihat saat-saat itu terjadi pada seseorang. Seseorang yang begitu dekat.

Sepertinya terjadi di awal tahun 2010. Tepat ketika aku baru saja 2 bulan menginjakkan kaki di kursi kelas X Sekolah Menengah Atas. Mungkin cerita ini akan terasa sama membosankannya dengan ke-4 cerita sebelumnya. Masih tentang kesialan menjalani kisah asmara.

Namanya Gina. Dia adalah teman satu ekskul, tepatnya klub yang berhubungan erat dengan angka dan kata, matematika. Dan satu-satunya alasan aku masuk ke klub tersebut adalah Gina. Iya, sudah terlalu banyak aktifitas lain yang menghabiskan waktu diluar jam pelajaran. 

Pertemuanku dengan Gina dimulai sebelum aku menjadi Siswa Menengah Atas. Tepatnya di liburan panjang pasca kelulusan SMP. Dan aku menghabiskan waktu untuk berwisata ke sebuah perbukitan yang memiliki objek wisata yang beragam. Dimulai dari kaki pendakian, ada sebuah tempat pemandian dengan terapi ikan Hiu. Ikan Hiu itu bisa menghilangkan kejombloan seseorang. Jadi, ketika ada seorang jomvlo mencemplungkan diri kedalam kolam, tak perlu menghitung waktu lama sampai si jomblo itu hilang dimakan Hiu. 

Di kaki bukit ada objek wisata yang cocok untuk wisata bersama keluarga besar. Dataran luas yang rindang dengan pohon-pohon yang rimbun, rumput hijau bak karpet besar yang menutupi taman. Juga dilengkapi dengan gubuk-gubuk yang bisa digunakan untuk tiduran, makan-makan atau sekedar tempat merenung untuk mereka meratapi kejombloan. Dan yang paling penting, ada wahana seperti banci jumping wkakak, flying fox dan air terjun. Nah, di air terjun tersebut lah aku bertemu dengan Gina yang sedang sama-sama berwisata. 

Pertemuannya terasa seperti rindu, rasanya hambar. Dia duduk di tepian sungai yang air begitu jernih  mengalir dari air terjun yang tingginya 1/120nya Burj Khalifa, bersama seorang lelaki tampan yang sebaya denganya. Sedang aku duduk tak jauh dari mereka, cukup untuk mendengar suara mereka di kisaran 20 desibel. 

Sekilas obrolan mereka terdengar sadis. Mereka bercakap dengan panggilan darling. Cukup mengerikan untuk seumuran anak SMP, meski ada yang lebih buruk. Apa? Panggilan ayah-bunda. Tapi yang sadisnya adalah, obrolan mereka seolah-olah bermuara pada putusnya sebuah hubungan berpacaran. 

Dua sampai tiga menit berlalu, terdengar suara tangisan yang yang terasa berat dari Gadis berambut panjang itu. Rambut gina terurai panjang dan basah namun tak sebasah pipinya. Airmatanya mengalir cukup deras hingga terjatuh dari dagunya lalu ikut terbawa arus sungai. Tangisannya pecah tak terlalu lama sampai dengan tetiba lelaki disampingnya berjanjak pergi.

Aku tak begitu mengerti tentang bagaimana menjadi lelaki yang baik. Namun, dia yang meninggalkan seroang wanita dalam keadaan menangis sudahlah pasti brengsek. Dan karena tak begitu mengerti itulah, aku tak tahu apakah yang harus aku lakukan saat itu. Tetap bermain-main dengan air seolah tak tahu apa yang barusan terjadi. Ataukah bersikap seperti hansaplast, mengahapuskan luka seseorang.

Tetapi muncul sesuatu yang lebih tak aku mengerti. Aku beranjak dari tempatku, berjalan tanpa ku sadari dan singgah di samping wanita yang sedang menangis itu. Kemudian duduk tepat di sampingnya hingga bahukami saling beradu. Dia langsung terkaget, wajahnya menatap ke arahku. Matanya mencari-cari lelaki yang barusan pergi namun mendapati aku yang menatapnya dengan wajah penuh pertanyaan 'kamu kenapa? apa yang barusan terjadi? apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu berhenti menangis?'. Responnya tidak biasa, tatapannya seolah mengganggapku bukan orang yang baru dia lihat. Wajahnya tak menunjukkan sedikitpun rasa malu atas tangisannya. Padahal air matanya masih mengalir, pipinya masih basah, mukanya memerah dan sembap. Namun tak sepatah katapun terucap di momen itu. Hingga akhirnya aku yang membuka percakapan diantara kami.

"Biru.." Kataku singkat

"Hah? Apa yang biru? " Dia kembali menolehkan wajahnya kearahku, namun giliran dia yang menunjukkan wajah penuh tanya. Mungkin di benaknya, kenapa tidak ia bertanya kenapa atau setidaknya ia berkata cukup, jangan menangis lagi.

"Tali, di belakang.. " Jawabku dengan nada datar. Entah apa yang ada di fikiranku saat itu, tapi terlintas begitu saja. Dan tentu saja, aku terlalu frontal untuk mengungkapkan kecabulanku pada pertemuan pertama.

"Ehhh.. Haha Basah ya baju aku.. " Dia seketika tertawa, tapi tanganya menghapus sesuatu dari matanya. Dan di sela tawanya itu, aku melepaskan hoodie yang aku pakai lalu mengenakannya pada Gina.

"Sorry yaa.. Aku gatau harus ngomong apa biar gak jatuh lagi itu air mata... " seruku pelan. Aku menghembuskan nafas lebih kencang namun dengan ritme yang pelan. Bermaksud menuntun Gina untuk menggunakan ritme bernafas yang sama.  

"Ayo ke curug.. Kayaknya rame.. " Dia tetiba beranjak dari tempat duduknya. Menggenggam tangaku lalu menyeretku ke arah air terjun.

Kemudian aku dan dia berkenalan, bercerita tentang banyak hal namun tidak tentang kejadian mengerikan tadi. Saling bertukar nama, nomor telepon dan akun facebook. Dan disitulah aku tahu bahwa dia dan aku berniat melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Disitu pula kami berjanji, apabila kami berdua bisa masuk ke SMA tersebut, kami akan pacaran.

Kembali ke paragraf tiga...

Singkat cerita kami berpacaran, namun kami berada di kelas yang berbeda. Padahal, ceritanya akan lebih menyenangkan kalau kami berada di satu kelas yang sama. Tentu! Siapa yang pernah bilang memiliki kekasih di satu kelas, satu sekolah atau satu kerjaan yang sama itu membosankan? Bohong!

Hari demi hari kami jalani dengan bahagia. Tentu, memiliki pacar yang perhatian, cantik, baik, pintar sangatlah menyenangkan bagiku. Setidaknya menyenangkan pada bulan-bulan pertama.

Aku memanggil dia 'darling' dan begitupun demikian. Bisa dibilang, dia adalah pacar resmi pertamaku. Tentu, sebelumnya aku hanya terjerat di hubungan tanpa status yang sah. Tidak jauh dari Friendzone dan ojekzone.

Setiap jam istirahat kami selalu pergi ke kantin bersama. Ikut ekskul bersama. Pulangpun bersama, tentu karena rumah kost aku dan dia berada pada satu jalan yang sama. Terkadang dalam satu minggu, dua atau tiga hari aku main ke kostnya setelah pulang sekolah. Tentunya untuk belajar bersama.

Semuanya berawal baik-baik saja, namun tidak sampai semester 3 dimulai. Apa yang terjadi? Kami berada di kelas yang sama, kelas XI IPA 2. Awalnya kufikir, dengan begitu hubungan kami akan lebih baik. Ternyata sebaliknya. Entah teori apa yang berlaku saat itu, hanya saja muncul masalah demi masalah yang memicu keretakan hubungan kami.

Kami mulai bertengkar mengenai hal-hal kecil. Sikap Gina-pun mulai berubah, dari perhatian menjadi cuek, dari sering mandi jadi jarang mandi sampai-sampai aku yang maksa mandiin dia. Sampai di suatu hari, terdengar sebuah berita dari beberapa tetangga tentang kedekatan Gina dengan kaka kelas. Ardian, dia bintang Basket sekolah.

Awalnya kufikir hanyalah berita palsu belaka. Namun tidak sampai dengan tetiba, Gina memberitahuku bahwa dia telah bergabung dengan klub Basket. Mungkin begitu, perasaanku menjadi buta karena terlalu sayang. Sampai tak menyadari apa yang sedang terjadi. Perasaan Gina padaku perlahan memudar. Kami tak lagi bertukar kabar setiap pagi. Kemudian tiba di satu musim hujan di Awal September. Dia meminta hubungan kami berakhir. Dan dia tak mau menjelaskan alasannya. Akupun tentu tak mau mendengar alasannya langsung dari mulut Gina.

Yang ada di benakku saat itu. Mungkin tak seharusnya kami bertemu. Tak seharusnya aku mengalami luka cinta menyesakkan ini. Dan sialnya lagi, kami masih berada di semester tiga. Tentunya masih ada setengah semester lagi aku menjalani hari-hari berada di kelas yang sama dengan mantan pacar.

Aku bahkan tak mampu mengingat dimana aku dan gina memutuskan untuk berpisah. Hari apa, atau jam berapa. Yang aku tahu hanyalah Awal september. Kenapa? Karena setelah peristiwa itu, aku mendengarkan 'September Ends' setiap menjelang tidur. Kudengarkan sampai September benar-benar berakhir.

Tapi patut bersyukur, dari luka itulah aku tahu rasanya bangkit. Tentunya, aku bangkit untuk merasakan jatuh yang lain. Yang mungkin lebih sakit, lebih lama, lebih membuat bekas luka yang lebih lebar dan dalam.

Akupun paham mengapa orang yang bilang bahwa memiliki kekasih di satu kelas, satu sekolah atau satu kerjaan yang sama itu membosankan. Mungkin ia relatif, tergantung pada dua hal. Pertama, apabila hubungan itu dapat bertahan setidaknya sampai lulus sekolah, mungkin tak akan jadi membosankan. Tapi  opsi yang kedua, jika hubungan itu berakhir ketika kalian masih berada di tempat yang sama seperti halnya yang terjadi denganku. Bukan hanya bosan, tapi sakit. 

-Mudzavv

Senin, 19 Oktober 2015

NYERItain mantan #Part 4

Setelah adegan yang agak kurang mendidik di postingan ke-3. Tibalah aku di satu masa dimana aku diharuskan menjadi orang yang lebih baik. Ceileh bahasanya make 'aku'. Jadi dikarenakan pada siang hari tadi ada sebuah complain dari beberapa reader mengenai bahasa yang kurang 'merenah' di postingan pertama, maka aku akan mencoba menggunakan bahasa aku-kamu pada postingan kali ini. Jadi apakah gw sanggup? Tuh kan gagal.


Ceritanya terjadi di pertengahan tahun 2010, tepat di semester terakhir pada masa pembelajaran Siswa Menengah Pertama. Di masa-masa itu, tentunya aku diharuskan untuk fokus pada sebuah event yang sangat sakral. UN (Uduk Nasi) Tapi sayangnya, aku malah mendapatkan banyak sekali cobaan. Dimulai dari Game Online, Gebetan Online, dan Mantan Online. Tapi yang paling sulit adalah adanya seorang gadis pindahan dalam satu kelas. Namanya Ayu. Ayu Ratna Azalia Nabilah. Anjiiir Ngidol lu nov.

Usianya tidak beda jauh denganku. Dia 14 tahun sedang aku 14. Sama aja kampret! Hubungan kami pada awalnya bisa disebut sebatas teman, biasa-biasa saja. Namun karena aku menjabat sebagai ketua kelas dan kelas kami sepakat untuk memposisikan dia sebagai sekretaris, hubungan kami menjadi semakin dekat. Dari sebatas teman menjadi TTM (Teman Tapi Menyusui

Dua sampai tiga minggu berlalu. Muncul-lah sebuah pertanyaan dari bibir ayu. Bentar, aku sepertinya melupakan bagian yang penting dari kisah ini. Oia, perawakan Ayu. Dia memiliki tinggi yang sama denganku. Bibirnya merah merona sekalipun tak mengenakan gincu. Matanya bulat warnanya kecoklatan.Kulitnya putih. Rambutnya sebahu. Apa yang paling kuingat dari dia adalah cara bicaranya, entah mungkin sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Sepertinya misalnya ketika dia mengatakan 'eh' pada dialog "eh, kamu udah ngerjain Tugas Matematika?" Mendengarnya seperti ada yang berdebar-debar di dada. 

Kembali pada topik sebelumnya di paragraf ke-5, muncul sebuah pertanyaan dari Ayu. Padahal sebelumnya kami belum pernah masuk dalam percakapan ini. Biasanya hanya membahas tentang agenda kelas, tugas-tugas yang menumpuk atau saling sharing rencana di masa depan. Dan disaat itu, dia yang memulai menanyakan tentang pacar mempacari.

"Em, Nov. Kamu kok ngga punya pacar?" Tanya ayu sambil mengerjakan tugas MTK. Sebelumnya memang belum ada topik untuk ngobrol. Tentu karena sedang membahas rumus-rumus, tapi aku tak menyangka bahwa tiba-tiba dia menanyakan hal tersebut.

"Ngga, emang aneh kalo ngga punya?" Jawabku dengan singkat.

Matanya tetiba melarikan diri dari buku atau pandanganku, dia memandang keluar jendela. Tepat ke lebatnya daun mangga yang sedang berbuah. 

"Ngga, aku pernah punya pacar. Dia brengsek" Jeda lebih dari 10 detik, dia melanjutkan percakapannya. Dan ternyata itu lebih mengagetkanku. Sejak pertama kali bertemu, aku tak pernah melihat wajahnya menampakkan mimik sedih atau kecewa. Seringkali tentang kegembiraan, mimik marah karena tugas, atau malu karena di taksir oleh ketua OSIS. Tapi tidak seperti wajahnya yang kulihat saat itu.

Saat itu aku berfikir, apakah ada sikapku yang membuatnya bertanya sehingga memunculkan pernyataan yang sangat krusial. Aku bahkan tidak menanyakan dan belum ada niat untuk menanyakan siapa lelaki yang dia suka. Tapi tentu, aku menyadari bahwa perasaan wanita memang sulit untuk di tebak. Dan apa yang ada dalam benakku saat itu adalah bertanya kenapa.

---- Lima persekian detik sebelum mulutku melontarkan pertanyaan 'kenapa', tetiba sesuatu muncul pertanyaan lagi di fikiranku yang ditujukkan untukku sendiri. Apa pertanyaan yang ia butuhkan saat ini?
Mungkin terlihat dibuat buat, tapi sungguh. Dalam detik-detik yang sangat sempit itu, terjadi banyak perdebatan hebat dibenak. Puluhan pertanyaan dengan beragam jawaban tentang kenapa dia bisa dengan tiba-tiba murung. Jawaban tentang se-brengsek apa bekas pacarnya itu. Termasuk jawaban tentang apa yang lebih baik aku lakukan di momen tersebut. Sialnya dari puluhan jawaban itu, muncul satu yang tak akan bisa dijelaskan dengan akal sehat. 

Apa?

Dengan tak aku sadari, tanganku meraih pundaknya. Lalu mendekatkan kepalanya di bahuku. Sedang mulutku tak berkata satu kalimatpun. 

Hembusan nafasnya dengan jelas bisa aku rasakan di dada. Hangat tangannya, wangi shampo rejoice di rambutnya, parfum violet di seragamnya, tak bisa aku lupakan sampai sekarang. Isak tangisnya mulai pecah.
Aku memeluknya lebih erat, hingga erat hingga dia kehilangan nafasnya. Kemudian dia mati.  

"Jangan takut Yu, aku ada disini" Akhirnya muncul kalimat yang bisa aku ucapkan. Dan entah harus bersyukur atau tidak, dia melepaskan pelukanku. Kedua bola matanya yang masih basah dengan air matanya mencoba mencari-cari wajahku.

"Nov, kamu mau bantuin aku?" seru Ayu dengan nada parau. Suaranya terdengar berat di tenggorokannya. Telingaku nyaris tak mampu menangkap apa maksud perkataannya. Namun gerakan bibir tipisnya menyampaikannya langsung ke otak-ku.


"Maksudnya apa Yu? Kalo bisa ya aku bantuin" Aku menanyakan kembali maksud permintaan Ayu untuk aku bantu dengan tanpa menerka-nerka maksudnya.

Seketika itu Ayu mengambil tanganku dari bahunya, kemudian mengarahkannya tepat di dadanya. Aku tersentak, tubuhku gemetaran dan tak bisa aku gerakkan. Aku ingin bertanya kembali 'apa maksudmu yu? ada apa dengan semua ini?'

"Hapusin bekas dia nov... Semuanya.. Aku ngga ingin bawa beban ini terlalu lama.." Permintaannya membuncah bersama dengan dua tiga bulir airmata yang jatuh dari pipinya. Aku hanya menatap kaku pada wajah sedihnya. Lidahku tak mampu berkata apa-apa. Tanganku masih menetap di dadanya.

Namun tetiba pandangan dan kesadaranku dibawa kabur oleh aku yang lain. Apa yang kulihat hanyalah gelap, namun semakin hangat. Aku tak lagi merasakan gemetar hebat di tubuhku. Aku tak dapat mengingat apa yang terjadi waktu itu. Yang kutahu hanyalah, aku terbangun di ruangan kelas di tengah malam. Terbangun tapi tak sendirian.