Kau Tau?...

Kau tahu apa yang menyenangkan? Saat perempuan-perempuan berpikir aku pernah mencintai mereka. Dan tebak apa yang menyakitkan? Mencintaimu.

Hai Aku...

Hai orang yang gagal jatuh cinta, sedang apa kau? Ah, senyummu! Kukenal senyum palsu itu! Aku juga pernah melakukannya saat bersamamu.

Hanya Kamu

Aku sayang kamu sejak lama, tapi kini aku punya mata yang baru. Mata yang tertutup bagi segala keindahan perempuan yang bukan kamu.

Beda Cerita

Beda ceritanya, antara kamu sudah mengisi hati seseorang atau kamu hanya sedang membuat seseorang sibuk hingga tak sempat menengok hatinya.

Bangga Menjadi Diri Sendiri

Kamu harus bangga bahwa kamu adalah kamu. Sebab mungkin tidak mudah bagi orang lain bila menjadi kamu. :)

Kamis, 13 September 2018

Terimakasihku

Terimakasih ;

Telah meninggalkanku ditengah hujan;
Telah memenjarakan aku dalam keheningan.
Telah menorehkan luka baru diatas luka lama yang bahkan tak sempat mengering.


Maaf;

Telah membuatmu berhenti menangisi mantan kekasihmu;
Telah membuang semua bekas luka di tubuhmu;
Telah mengecewakan harapanmu karena telah menjadi lelaki sabar dengan egomu

Senin, 13 Agustus 2018

Mytha - Day 73

Day 73 - Pengakuan

"Gila ya, gw bisa nyaman ama elo.." Seru mytha sambil nyeruput kuah bakso

Mendengar pernyataan itu sudah sepatutnya gw seneng, tapi entah ada sesuatu yang membuat kalimat itu terdengar hambar di hati sekalipun begitu renyah di telinga.

"Sebatas temen ya? Myt?" timpal ku dengan nada sayup

"Loh kok kamu ngga seneng gitu? Hahahaha" balasnya sambil memukul bahuku dengan manja. Tawanya pelan namun menggema, mungkin dia tahan karena sebongkah bakso panas masih berusaha dia kunyah di mulut mungilnya.

Aku tak ingin melanjutkan percakapan ini, aku biarkan dia menyelesaikan makan siangnya dengan nyaman, iya NYAMAN. Bukan karena takut ia tersedak, hanya saja aku bisa menebak kemana ujung percakapan ini bila di lanjutkan tanpa jeda.


Day 73 -  Gerimis

Kacau mulai menggerogoti fikiranku. Retakan di dinding hatiku semakin membesar. Perasanku sudah tak terbendung lagi. Emosiku membuncah.

Belum habis satu porsi Mie Bakso yang dia santap, kutarik mytha ke tengah lapangan Bola Basket dengan ajakan untuk bermain hujan-hujanan.
Harusnya aku dan dia berlarian kesana kemari layaknya orang biasa bermain. Namun kami tidak, entah mengapa aku dan mytha malah langsung terpaku berdiri begitu air hujan menerpa wajah.

Ingin aku bertanya kenapa atau gimana perasaanya saat itu, namun keinginanku terkalahkan dengan rasa penasaran, kalimat apa yang bakal terucap dari bibir mytha.

Aku tunggu, 5 detik

Aku tunggu lagi, 10 detik.

Masih aku tunggu, 15 detik.

Sial, tak ada kata yang terucap. Matanya masih terpejam dengan kepala menengadah seakan membiarkan butiran hujan membasuh lelah di wajahnya. Rambut pendek berwarna coklatnya mulai sepenuhnya basah dan menghitam. Kacamatanya makin berembun dan bibir hangat merahnya mulai dingin membiru. Ku genggam erat tangannya, dia pasrah.

Di titik terjauh nalarku, aku menyadari bahwa sudah tak perlu lagi untuk tau seberapa berharga aku di matanya. Maka kali ini aku putuskan untuk sedikit saja menyentuh hatinya. Tak peduli seberapa tinggi tembok atau seberapa keras dinding egonya, akan aku coba untuk runtuhkan.

Di detik ke 75 aku coba mengetuk pintu hatinya dengan melantunkan puisi buatannya, Separuh Langit Hatiku. Puisi yang dia buat untuk Jonathan, mantan kekasihnya.

Bait demi bait aku lantunkan dengan lantang, ku resapi dalam hati kata demi kata. Ku buat-buat seolah dibacakan oleh gadis separuh baya yang baru saja ditinggal kekasihnya. Air mataku mulai jatuh di bait kedua, suaraku mulai berat dan gemetar. Mataku tajam menatap wajah Mytha yang masih menengadah dengan mata tertutup. Bibirnya ikut gemetar pada kata demi kata puisinya. Aku yakin, meskipun suaraku kalah dengan gemuruh hujan dan gelegar petir, tak ada saatu huruf pun yang tak sampai ke hatinya.

Bait ketiga dan terakhir ku lantunkan dengan nada sayu, aku tau dia menyusupkan nama satu lelaki yang bukan aku. Harapku dia menyela, mengaku bahwa ia adalah Jonathan, mengaku bahwa harapan yang dia tawarkan padaku adalah semu, bahwa nyaman yang dia rasakan hanya rasa hambar daripada kehampaan, bahwa aku hanyalah pilihan atas penyesalan.

Sial lagi, sampai habis puisinya dia tak bergeming. Tapi ada satu yang berubah, basah diwajahnya tak lagi sekedar dingin. Air hujan bercampur air matanya mengalir di pipi mungilnya, dia menangis dengan tenang.

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan, dia lengah. Aku raih kepalanya dan ku dekapkan di dada. Dia mulai sesenggukan, Ku biarkan dia disana beberapa menit, setidaknya aku berharap ada satu kalimat yang bisa dia ucapkan.

Ku tegakkan kepalanya setelah isakkannya mulai tak terdengar. Dia mulai membuka mata dengan tatapan kabur karena embun masih menutupi kacamatanya. Bibirnya gemetar kedinginan bersama tangannya yang tak lagi ku genggam. Lalu tanpa permisi aku kecup bibirnya. Tak sopan memang, adik kelas harusnya meminta izin terlebih dahulu untuk mencium kakak kelasnya. Tapi masa bodoh, aku tak lagi memikirkan apapun selain suasana romantis disana.

Dia tak berontak, beberapa detik dia masih membiarkan bibir kami bersentuhan. Sampai di hela nafas ke tujuh dia membuka mulut

"Nov, anter gw pulang."


Mytha

Perkenalan!
Awal ceritaku dengan Mytha berselang tak begitu lama setelah aku putus dengan Ervita. Sebelumnya aku memang sudah mengenal baik dia sebagai kakak kelas idaman. Gadis dengan perawakan jangkung, paras manis, rambut sebahu dan kacamata bulat. Ya, sebuah kesalahan memang. Akira Mado dalam bukunya yang berjudul The Origin of Kawaii Onee-chan berpendapat bahwa "Short Hair doesn't belong to tall girl". Dan tentu sebagai Short Hair Worshipper aku meng-iya-kan pendapat itu dengan banyak argumen yang bisa aku pertanggung jawabkan di depan Hakim Agung. Ditambah lagi dengan kacamata bulat, apa-apaan ini? Seperti penistaan terang-terangan terhadap kaum rambut pendek.

Aku dan Mytha memang jarang bercakap. Hanya sesekali berlempar senyum saat berpapasan di kantin atau saat upacara bendera. Itupun aku hanya mampu memanggil namanya dengan panggilan "kakak". Itu karena semenjak hubunganku kandas dengan Annisa tahun lalu aku memutuskan untuk tak memanggil wanita manapun dengan namanya. Rasanya membelenggu memang, seperti mencoba bernafas di dalam air. Tapi mau bagaimana lagi, kepergian annisa begitu membekas di dalam dada.

Day 1 - Selembar Kertas
Seminggu setelah teman sekelasku mengeluh gara-gara aku yang terus-menerus uring-uringan saat jam istirahat di kelas, mereka mulai mencomblangkan aku dengan siapa saja termasuk Bu Ijah, guru seni yang baru menjanda 3 tahun lalu.
Hingga di satu rabu, Hilmi teman sekelasku memberikan selembar kertas berisikan puisi. (Saat itu aku diperbantukan untuk mengurus dekorasi Majalah Dinding di Gedung Timur selama satu bulan)

Dalam hatiku "Ini anak ada akal bulus apa lagi hah?"

Awalnya tak ingin ku hiraukan isi puisinya, perasaan masa bodoh sudah terlanjur menguasai mood ku seharian ini. Mataku langsung tertuju pada siapa yang membuatnya. Tertulis dengan Italic di bagian belakang, Mytha A - XII IPA 2.

"Hah? Mytha?" Tanyaku pada Hilmi

"Yoi! Bikinin frame yak! Besok pagi langsung tempel di Mading, genti koran bola di sebelah kiri." Sahut Hilmi serasa berlalu meninggalkan kelas

"Sial!" Gerutuku dalam hati

Day 1 - 5 Menit di Neraka
Siang itu aku segera menghampiri kelas Mytha yang tak jauh dari kelasku, hanya terpisah dengan lorong dan taman-taman kecil. Memang sudah biasa aku main ke kelasnya, tapi untuk bertemu orang lain, kang rizki teman sesama penyuka musik jepang.


Selasa, 18 April 2017

Sinta

Wanita mungil itu berteriak histeris saat aku mengejarnya. Gang sempit dan sepi itu membuat suaranya semakin jelas terdengar dan memekakan telinga. Namun aku tetap membawa kakiku berlari mengejarnya, sinta, wanita separuh baya yang menolak untuk aku cintai.

"Sinta, jangan pergi!" Sahutku dengan nada parau.

"Jauhi aku mas! jauhi aku!" 

Balasnya dengan tanpa menengok ke arahku, wajahnya masih mencari ujung dari gang sempit itu.

"Kenapa Ta? Aku sayang kamu!" sahutku lagi

"Kenapa kamu ngga juga ngerti. hiks!. Mana mau aku mencintai lelaki yang bahkan tak tau cara mencintai diri sendiri!" 
Timpal sinta dengan nafas yang semakin tersengal. Nafasnya mulai habis. Larinya semakin melambat. Air matanya mengalir semakin deras.

Kakiku tetiba menghentikan larinya, padahal jarakku dengan sinta semakin dekat dan aku nyaris menjamahnya. Namun kata-kata yang keluar disertai dengan tangisannya barusan seolah menamparku dari kejauhan, mengena tepat di pipi kananku.

Sesaat pikiranku tenggelam dalam penyesalan, bahkan setelah sekian lama, setelah aku fikir bahwa aku sudah berhenti menjadi lelaki brengsek, aku tetap tak berubah.

Apa ini alasan mengapa shandra pergi meninggalkanku tiga tahun lalu? Apa ini alasan mengapa di setiap kisah cinta yang aku alami dengan Dinda terasa hampa di dada. Apa harus saat ini aku baru menyadari bahwa aku terlalu mengasihani orang lain hingga lupa mengasihani diri sendiri.

Minggu, 30 Oktober 2016

Khilaf Story #1 Keyboard Gaming


Helo guys!

Setelah sekian lama ngga mengepakkan sayap blog ini, akhirnya di sela-sela waktu nganggur, ane sempetin buat ngepost.

Padahal masih bingung mau post apaan. Ngepost ini-itu terlalu banyak pertimbangan, semisal :
1. Posting Cerita romance yang pastinya bakal lagi dan lagi tentang nadia.
2. Posting Materi Sekolah/Kuliah yang entah sumbernya mau nyatut darimana.
3. Posting Tutorial yang nanti bakalan ditanyain repost darimana.
4. Posting kisah khilaf yang pastinya bikin ane sedih.

Dan pada akhirnya, di sore hari yang mentereng ini. Ane putusin buat Share Cerita Khilaf.

Berawal dari kesukaan ane terhadap dunia games. Yang notabene ane lebih dominan di game PC. Ane mulai masuk di dunia perkhilafan pada equipment gaming. Lah, iya dong. Kalo ente suka maen game, tentunya diharuskan untuk memiliki equipment gaming yang nyaman. Terlebih maen di pc/laptop yang dengan requirement game-game tahun 2010++ memerlukan mouse dan keyboard yang mumpuni. Ente tentunya ngga perlu diribetkan masalah equipment kalo cuman sekedar game mobile di smartphone. Paling cuman earphone/headset itupun kalo gamenya lebih experience di sisi audio.

Dan di page ini, ane akan membahas masalah khilaf keyboard gaming

Soal keyboard, ane mempercayakan kebutuhan gaming pada Powerlogic Armageddon. Dengan dilatar belakangi budget yang minim, ane ambil Keyboard Armaggeddon Keyboard dari toko-toko online di JKT. 

1. Armaggeddon AK-300
Image result for Armageddon AK300
Sumber : images.google.com

Harganya sekitar 200k IDR. Specnya :

* Multimedia keys for direct media functions
* 3-segment gaming keyboard with 124 keys
* Keyboard interface: USB wired
*Cable length: 1.6 meters
* Keyboard Size: 485(L) x213(W) x30(H)[mm]
* Total weight: 750g
* Replacement gaming key caps included.

 Review bisa dilihat di sini

2. Armaggeddon AK-550i (Kalashnikov)
Meningkat pada kebutuhan lain, ane mulai tertarik pada keyboard dengan backlight. Dengan kondisi AK300 ane masih berfungsi dengan baik. Ane kemudian khilaf dengan AK550-i blue light. 
Harganya sekitar 235k IDR. Tapi dari spec, masih lebih empuk AK300. Ini lebih keras dan suaranya lebih berisik. Specnya :
  • USB Multimedia and Gaming keyboard
  • 104 membrane silent key stroke
  • 10 Functions and Multimedia keys on-the-fly
  • Blue LED Backlight improve gaming experience
  • Built-in drainer for water or liquid spill on keyboard
  • 1.5Metre Ultra-Durable cable and Jack.
Buat review, comot kesini

3. Armaggeddon AK-990i
Trend berlanjut, setelah sekedar backlight. Ada muncul keyboard dengan multi light color. Entahlah apa namanya. Lagi dan lagi, dengan kondisi AK-300 dan 550 masih working good. Ane khilaf dengan AK-990i.


Image result for armaggeddon ak 990i

Harganya sekitar 300k. Kali ini designya lebih ramping, nyaris tiada tepi. Tapi masih 104key. Iya, ane masih butuh dengan numkey. Jadi agak riskan buat ngambil keyboard 87key. Dari segi spek, lumayan puas. Tercapai untuk keinginan switch color red-purple-blue. Suaranya masih sama keras dengan 550 dan sekali lagi, terlalu kurus untuk dibawa ngegame.

Buat yang butuh review, check disini

4. Armaggeddon MKA-9C
Khilaf yang baru-baru kemarin. Kembali hanya karena trend, setelah puas di segi backlight color kini masuk ke segi mechanical ditambah dengan hadir variant color RGB. Dengan tidak berfikir panjang, ane merogoh kocek sebesar 780k untuk keyboard ini. Hmm, cuman buat penasaran sama mechanical KB.

Image result for Armageddon MKA-9C
Speechless, masih ngga kuat buat ngetik spek karena kebawa nyesel beli keyboard ini cuman buat ngilangin hawa penasaran doang.
wkwk
Oke, buat yang pengen liat review buat keyboard ini dari blog sebelah. Link Disini

Well, mungkin beberapa dari kalian sempet bertanya-tanya, kenapa dari 1 sampe 4, gw milih armaggeddon semua. Entahlah, gw orangnya monokrom. Kalo udah di satu itu ya itu-itu terus. Makanya sampai sekarang, tentang mencintaipun, maunya kamu terus. *plak

Note : Sampai sekarang, ke 4 KB itu masih rapih di lemari. Dan jarang dipake.